"Sini lo!" Ujar seseorang yang menarik lengan Adin dengan tiba-tiba.
Langkah kaki nya tak jadi melewati gerbang sekolah dan kembali mundur saat ditarik oleh Bhea secara paksa, dibawanya Adin melewati koridor gedung kelas 2. Ia masih kebingungan sehingga tak ada tenaga untuk memberontak saat kedua lengannya ditarik paksa oleh Bhea dan Karen.
Merasa jika dirinya akan dibahayakan oleh kakak senior nya, Adin mulai mengumpulkan tenaga dan berhasil menghempaskan kedua tangan Bhea dan Karen yang mencengkeram lengannya. Menatap keempat senior nya dengan tatapan kesal,
"Apa-apa an sih?" Kata Adin dengan nada kesal.
Bhea tertawa seperti meremehkan, "Pura-pura gak tau lo? Sekarang cuci sepatu gue!" Bentak Bhea.
"Kayaknya duit lo udah abis beneran ya sampe memperpanjang masalah kayak gini" Jawab Adin dengan berani.
"Beraninya ya lo?! Sebagai orang miskin seharusnya lo tuh sadar diri kalo mau ngatain anak dari konglomerat!" Sahut Katherine.
Adin mendekatkan diri ke arah empat siswi kelas 3, "Yang punya harta orang tua nya kan? Berarti dia cuma numpang hidup aja" Bisik Adin yang berhasil membuat Bhea sangat geram.
Menambahkan senyuman licik saat menatap mata Bhea yang memandangnya dengan kesal, dan Karen yang menggertakkan rahang nya karena mendengar ucapan Adin yang meroasting saudara tirinya.
Berbeda dengan Yuri yang malah bertepuk tangan mendengar ucapan Adin sambil menggelengkan kepala nya membuat ketiga temannya menatap sinis kearahnya. Adin melangkah pergi meninggalkan keempat seniornya yang terdiam saat mendengar ucapan nya.
Seketika Bhea berteriak memanggil Adin dengan umpatan kasar 'Fuck You Bitch!' , melepas sepatunya dan melemparkannya ke arah Adin. Sepatu ket dengan sol tebal dan berat itu hampir mengenai kepala Adin, namun sepatu tersebut ditangkap dengan cepat oleh seseorang yang tiba-tiba datang dan langsung memeluk bahu Adin.
"Husein?!?!?!" Kata Bhea yang terkejut melihat Husein melempar kembali sepatunya lalu memeluk Adin.
"Kak Husein?!" Sahut Adin yang juga kebingungan dengan kedatangan Husein yang tak terduga.
Husein melemparkan senyuman yang sangat langka pada Adin yang sebelumnya bahkan ia tak pernah tersenyum pada siswi lain. Berjalan jauh hingga tak terlihat oleh Bhea and the gank, Adin semakin kebingungan melihat Husein yang tak kunjung melepaskan tangannya dari bahunya.
Hingga sampai di parkiran motor sekolah pun Husein masih memeluk bahu Adin dan pelukan tersebut semakin erat. Ekspresi bingung yang ada di wajah Adin semakin tak terkontrol, jantung nya berdegup dengan kencang secara tiba-tiba. Mata nya tak lepas menatapi paras Husein yang bisa ia pandangi jarak dekat.
Saat itu, Adin merasa seperti sudah kecanduan menatapi paras senior laki-laki nya. Lamunan nya dibuyarkan saat Husein mengetahui jika ia sedang menatapinya.
"Woi! Ada yang salah sama wajah gue?" Tanya Husein.
Adin langsung tersadar dan menggelengkan kepala dengan cepat, lalu menghindar dari tangan Husein yang masih menyentuh bahu nya.
"Gak kok, gak ada yang salah" Jawab Adin dengan gugup.
Mengetahui jika sudah berada di parkiran motor dekat gerbang pintu keluar sekolah, Adin segera berpamitan kepada seniornya.
"Balik bareng gue" Kata Husein seusai mendengar Adin berpamitan.
Adin menggeleng sekali lagi, "Enggak usah, gue bisa naik bus kok" Jawab Adin menolak dengan sopan.
Husein meraih helm nya, lalu mengenakannya sebelum menaiki motor yang memiliki sebutan 'Jaker'.
"Naik!" Ajak Husein.
Karena sungkan jika menolak dua kali, Adin pun menerima tawaran Husein yang memberinya tumpangan untuk pulang ke rumah. Lagipula jika menaiki bus di sore hari seperti ini pasti akan ramai karena banyak sekali anak sekolah dan beberapa pekerja yang juga menempuh jalan pulang, pikir Adin.
Adinatya, gadis 17 tahun yang akhir-akhir ini sering dicampakkan oleh kedua sahabatnya karena hanya dirinya yang tak memiliki pacar untuk pulang bersama dan melakukan kencan saat pulang sekolah. Ketika bel pulang sekolah sudah berbunyi, Jedden menjemput Hunna ke kelas dan memberi Adin uang untuk membayar bus.
Sementara Dynan, langsung menuju ke arah gerbang pintu keluar untuk menemui kekasihnya yang bersekolah di Lixard Highschool, Lalu pergi ke bioskop untuk menikmati kencan di hari Jumat yang besok adalah hari libur sekolah yaitu hari Sabtu.
###
Motor Husein berhenti tepat di parkiran pasar malam yang pernah ia datangi dengan Adin. Adin turun dari motor dan menengok ke kanan dan kiri, dibuat kebingungan lagi oleh Husein. Menatap Husein yang baru saja turun dari motor lalu melepaskan helm dan mengibaskan rambut nya.
Adin dengan cepat mengalihkan pandangannya dan membelakangi Husein, matanya terbuka lebar, menggigit bibir dan mencengkeram rok seragam nya,
"Masyaallah Subhanaallah cakep bener, Ya Allah ciptaan mu. Bisa gak sih yang kayak gini di musnahin aja? Bikin pengen menguncup mulu :(" Gumam Adin.
Husein menepuk bahu junior yang sedang membelakanginya, "Belet pup?" Tanya Husein saat melihat telinga Adin yang memerah.
Adin langsung tersenyum canggung, "Hah? Enggak! Tadi lagi kepengen bersin" Jawab Adin dengan gugup.
Husein mengangguk pelan, "Sorry mampir kesini bentar, Temen kos gue mau nitip es susu" Jelas Husein.
Menjawab dengan anggukan lalu berjalan dibelakang mengikuti langkah seniornya. Mata Adin terus saja melihat ke sebelah kanan, banyak jajanan-jajanan gorengan kesukaannya yang terpajang di sampingnya.
Tak lepas dari memandang jajanan yang ada di sebelah kanan membuatnya menabrak punggung Husein yang berhenti tanpa aba-aba. Adin langsung melangkah mundur sambil menunduk dan mengatakan maaf dengan canggung.
Ternyata kedua nya sudah sampai di kios penjual es susu yang sering Adin datangi. Adin tersenyum ramah kepada penjual yang sudah mengenalnya,
"Weh dateng lagi ni pasangan. Mau dua?" Kata si bapak penjual.
"Pasangan? Mana ada pasangan" Jawab Adin dengan tertawa.
Husein menaikkan kedua alisnya, "Lah emang kita pasangan" Sahut Husein.
Mendengar ucapan Husein, mata Adin langsung terbelalak dan memukul perut Husein.
"Heh! Tuh mulut kalo sekali ngomong langsung sembarangan ya! Kapan resmi nya coba? Deket aja kaga" Jawab Adin dengan sewot.
Husein menunjuk ke arah spanduk yang berdiri di depan kios.
'PROMO AWAL BULAN. BUY 1 GET 2 FOR COUPLE'
Melihat spanduk yang berdiri dibelakangnya, Adin merubah raut wajahnya menjadi datar dan berkedip berulang kali untuk memastikan tulisan tersebut. Saat ini ia tak bisa meredam malunya lagi, rasa ingin terbang ke Antartika sudah muncul pada dirinya.
Berbalik badan dan menatap Husein kembali dengan senyuman terpaksa dan canggung. Lalu, menatap ke arah bapak penjual es susu,
"YA! KITA PASANGAN!" Tegas Adin untuk meyakinkan kembali pada si bapak.
Bapak penjual es susu pun kembali tertawa setelah mendengar ucapan Adin, "Tuh kan! Kata gue mah bener kalo lu bedua bakal jadian!" Ujarnya lalu pergi memasuki kios untuk membuatkan es susu pesanan Husein.
Adin tak berani menatap Husein kembali untuk meredam rasa malu nya. Husein tertawa kecil melihat tingkah junior nya, tiba-tiba Adin menginjak kaki nya dengan sangat kencang,
"Gak usah ketawa! Gue patahin tuh rahang bawah!" Ancam Adin sambil memelototi Husein.
Penjual es susu kembali dengan membawakan 3 es susu pesanan Husein.
.
.
.
.
.
HALOO!! GIMANA CERITA KALI INI?
JANGAN LUPA VOTE+KOMEN YA!
HAVE A NICE DAY <3

KAMU SEDANG MEMBACA
SENIOR ; HAECHAN LEE
Fiksi Penggemar"Sejauh dan seberapa lama pun kita pisah, gue bakal tetep cari lo" - Husein Ralendra . . . by DIXLEOH'January 2021