39.

285 39 3
                                    

Sudah sekitar 10 menitan bel istirahat berbunyi. Semua siswa-siswi dari kelas 1 hingg kelas 3 berhamburan diluar kelas untuk menikmati jam istirahat pertama yang disediakan oleh sekolah pada pukul setengah 10 pagi. Adin dan Hunna sudah duduk di bangku kantin yang memiliki meja panjang dengan kesibukan yang berbeda.

Adin yang sibuk mengerjakan soal-soal fisika yang diberikan oleh Bu Clara tepat pada jam mata pelajaran pertama, sedangkan Hunna disibukkan dengan memakan bekal makanan hasil masakannya sendiri tadi subuh.

"Lo beneran gak mau gue suapin?" Tanya Hunna dengan mulut yang terisi penuh.

Adin menjawab sambil tetap menulis, "Enggak, gue belum laper. Abisin aja"

"HAI TETEH TETEH KU YANG MANIS!" Teriak Dynan yang datang tiba-tiba sambil mendobrak meja kantin.

Hunna yang sedang mengunyah pun sontak terkejut dan tak sengaja mengenai pinggang Adin yang masih belum pulih. Adin segera meneriakan kata kasar dengan lantang,

"ANJING!!!"

Teriakan Adin yang begitu lantang membuat se-isi kantin menoleh ke arah meja mereka dengan tatapan sinis. Hunna dibuat terkejut kedua kalinya hingga berhasil membuat tempat bekal yang berisi makanan terjatuh ke samping. Tak hanya itu, mata Dynan dibuat terbuka lebar saat mengetahui makanan Hunna terjatuh mengenai sepatu seorang siswi.

Dynan kembali menutup mulutnya yang terbuka lebar saat mengetahui merk sepatu tersebut termasuk sepatu yang sangat mahal. Tanpa melihat wajah orang tersebut, Hunna mengambil tempat makanannya dan membersihkan sepatu siswi itu.

"Eh s-sorry ya gak sengaja" Ujar Hunna dengan halus.

Hunna mengangkat kepala nya saat dirasa nasi sudah tak menempel di sepatu itu. Tiba-tiba di dorongnya tubuh Hunna hingga kembali terduduk,

"Berani nya ya lo ngotorin sepatu gue? Lo tau nggak berapa harga sepatu gue?!?!" Teriak siswi itu.

Siapa lagi kalau bukan Bhea, siswi dari kelas 3 IPA 6 murid pindahan yang sudah menjadi idaman para laki-laki dan menjadi incaran circle anak orang kaya. Namanya sudah dikenal di lingkungan Rotert Highschool karena Papa nya adalah pengusaha kaya yang sudah termasuk golongan konglomerat.

Adin menghentikan kegiatan menulisnya, dan berusaha tetap diam.

"Tapi itu udah gue bersihin kak" Ujar Hunna sekali lagi dengan sopan.

Semua pandangan siswa dan siswi yang ada di kantin mulai menatap ke arah Hunna dan Bhea yang sedang adu bicara.

Karen mencengkeram lengan Hunna dengan keras, "Liat! Sama aja udah ada noda kan? cuci sekarang juga!!" Bentak Karen pada Hunna.

Terlihat Hunna yang sangat kesakitan karena cengkeraman Karen yang sangat kuat. Adin berdiri dan menampar tangan Karen yang sedang mencengkram Hunna dengan kuat, tangan Karen sontak melepas cengkeramannya karena tamparan yang diberikan Adin terasa sangat panas.

"Bukan nya lo orang kaya yang bisa beli apapun ya? Kenapa sepatu lo perlu di cuci kalo lo bisa beli yang baru lagi? Udah gak punya duit buat beli?" Jawab Adin dengan wajah meledek.

Terlihat raut wajah Bhea yang menjadi semakin kesal karena adanya Adin yang kembali membuat mulutnya bungkam tak bisa menjawab. Katherine atau biasa dipanggil Kath, salah satu anggota dari kelompok Bhea maju sambil membusungkan dada di depan Adin.

Buah dada nya yang besar menonjol hingga bersenggolan dengan milik Adin yang tak sebesar miliknya.

"Lu jadi junior gak ada sopan santunnya sama sekali ya? Kalau senior ngomong tuh di turutin!" Teriak Kath di telinga Adin.

"Gak tertulis di peraturan sekolah tentang Junior yang harus patuh sama Senior sok-sok an kayak kalian!" Bisik Adin.

Kath semakin mendorong tubuh Adin dengan membusungkan dadanya, "Jadi lo berani ngelawan senior?!" Ujarnya.

Dynan tiba-tiba berdiri, lalu meletakkan tangannya pada payudara Kath dan mendorongnya hingga menabrak Bhea yang ada dibelakangnya.

"Jangan mentang-mentang tetek lo gede ya! Sini lawan gue kalo berani! Tetek seumprit aja bangga lo!" Teriak Dynan, si bocil yang sudah tak tahan melihat kelakuan Kath.

Keadaan kantin menjadi rusuh karena pertengkaran Dynan dan Kath yang berhasil menyita seluruh perhatian para siswa-siswi bahkan pedagang yang ada di kantin.

Adin dan Hunna memegangi Dynan yang masih saja meneriaki Katherine, sedangkan Karen dan Bhea memegangi Katherine yang sudah tak tahan ingin menarik rambut Dynan.

"Sini lo maju jangan bacot doang!" Teriak Dynan.

"Ayo lo sini yang maju! Tetek kecil aja begaya!" Sahut Kath dengan lantang.

"Mana ada punya gue kecil? Punya lo kali yang fake!" Teriak Dynan yang tak ingin kalah.

Adin dan Hunna mulai bersama mengangkat tubuh Dynan, dan membawanya pergi dari kantin. Kedua nya menurunkan Dynan saat dirasa sudah cukup jauh dari kantin. Raut wajah Dynan berubah menjadi ekspresi kesal sambil merapikan kembali seragam nya.

Jedden yang melihat ketiga wanita itu dari lapangan basket pun segera menghampiri untuk menyapa. Jedden yang penuh dengan keringat mengenakan jersey basket berwarna merah berlari kecil diikuti dengan Charris di belakangnya,

"Pagi sayang!!!" Ujar Jedden yang hendak memeluk Hunna.

Hunna pun langsung merentangkan tangannya tanda menolak, "Eitss! Liat! Kamu tuh keringetan!" Sahut Hunna.

"MINGGIR!" Bentak Dynan tiba-tiba.

Jedden terkejut dan memasang wajah bingung saat melihat adik sepupunya yang tiba-tiba menjadi garang. Mata Jedden bertemu dengan mata Adin,

"Jelasin Hun" Jawab Adin yang memberi kode pada Hunna untuk menjelaskan pada Jedden.

###

Bel berbunyi memperingatkan jika jam mata pelajaran terakhir akan dimulai selama 1 jam kedepan. Levi, Jifran, dan Jedran memasuki kelas Husein dan Marteen. Setiap jam mata pelajaran terakhir, ketiga lelaki dari kelas sebelah ini selalu bermain menghampiri kelas IPS 4.

Berjalan menghampiri bangku paling belakang, terlihat Husein yang tertidur diatas meja dan Marteen yang sedang memainkan game online lewat ponselnya. Levi dengan antusias menghampiri Marteen untuk 'mabar', Sedangkan Jifran dan Jedran menggelar tikar di belakang bangku Husein dan Marteen untuk menikmati tidur siang selama 1 jam yang sangat berharga.

Jedran menendang kursi Husein, "Gue denger-denger, tadi istirahat pagi adek lo berantem sama si Bhea" Kata Jedran pada Husein.

Husein yang mendengarkan sambil tetap memejamkan mata pun mencerna ucapan Jedran terlebih dahulu.

"Emang dia lupa wajah si Hunna?" Sahut Marteen.

"Lah emang mereka udah pernah kenal? Bukannya Bhea murid baru?" Sahut Jifran dengan bingung.

Jedran memejamkan mata, "Kalo lo berdua ada rahasia soal tuh cewe, kenapa ngga dicoba omongin sama kita-kita? Kita nih temen atau cuma anak buah lo doang?" Kata Jedran dengan santai.

Husein mengangkat kepala nya dan menatap lurus kebawah seperti melamun memikirkan ucapan Jedran yang seolah-olah membuatnya merasa sangat bersalah kepada teman-temannya karena memiliki banyak rahasia yang belum terungkap salah satunya soal Bhea.

Beranjak dari kursinya, Husein berjalan menuju keluar kelas. Menarik topi yang ada pada hoodie nya, lalu membuka bungkus permen karet dan berjalan melewati beberapa ruang kelas yang ada di koridor.


.

.

.

.

.

HAI SEMUA! APA KABAR?

MAAF BANGET HIATUS HAMPIR SEBULAN :(

SEMOGA SUKA SAMA PART KALI INI YA!

HAVE A NICE DAY <3

SENIOR ; HAECHAN LEETempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang