Cahaya sang surya kini bersinar memancar keluar dengan udara pagi yang menyerbak sangat segar. Cahayanya mampu menerobos masuk ke dalam ruangan yang di dominasi warna cerah dengan seseorang gadis cantik duduk termenung di atas ranjang.
Rambutnya yang lurus dibiarkan terurai indah dan kedua tangannya yang lembut terlihat sedang memeluk sebuah buku novel. Pandangannya lurus ke depan menatap kaca jendela yang tidak tertutup gorden.
Bahunya rapuh dan semangat nya yang terlihat mulai runtuh. Dalam waktu semalam dia dapat merasakan kembali pelukan hangat dari seseorang yang sangat dia rindukan. Tapi, itu hanya pelukan singkat yang bahkan dia tidak tahu kapan pelukan itu terlepas.
Tok! Tok!
"Lara?"
Suara yang tidak asing di telinga terdengar. Sang pemilik nama tidak bergeming sama sekali ketika namanya kembali di panggil untuk kedua kalinya.
"Lara?"
"Lara kenapa pintunya kamu kunci?"
Tepat di depan pintu kamar bercat putih itu, seorang wanita paruh baya terus berusaha memutar kenop pintu. Namun juga tak kunjung terbuka.
Tok! Tok!
"Lara, kamu baik-baik aja kan? Lara?!"
Winda terlihat sangat khawatir dan cemas sekaligus takut datang dalam waktu yang bersamaan.
Dengan cepat, Winda berjalan menuruni anak tangga untuk mengambil benda besi pipih berukuran kecil. Lalu dirinya kembali ke kamar Lara dan membuka pintu dengan kunci cadangan yang baru saja diambilnya.
Cklek~
"Lara?!"
Winda bernapas lega mendapati putrinya yang terlihat baik-baik saja. Duduk menghadap jendela membelakangi pintu dengan selimut yang masih berantakan.
Winda tersenyum hangat kemudian mendekati Lara. Tangannya terulur untuk menyentuh bahu rapuh Lara, namun tidak mendapatkan respon apapun.
"Lara?" panggilnya lagi entah untuk keberapa kalinya.
"Lara kenapa melamun sayang, hmm?" tanya Winda lembut yang langsung duduk di samping putrinya.
"Ayo, cerita sama Mami ya. Kalo ada apa-apa jangan sungkan buat cerita ya?"