Chap 1. Night

73.9K 3.7K 363
                                        

!!NOTES!!

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

!!NOTES!!

1. Dalam cerita ini aku menggambarkan tokoh 'Lara' dengan sifat yang Childish atau kekanak-kanakan.

Jadi, aku berharap kalian memahami karakter tersebut yang mungkin terkesan cengeng, manja, dan dalam tanda kutip sedikit menye-menye. Karena, memang itulah karakter yang akan aku tanamkan kepada 'Lara' di part seterusnya.

2. Dalam cerita ini mengandung unsur Kekerasan fisik dan mental serta lainnya.

3. Cerita ini Belum direvisi! Jadi, aku minta tolong kalian mengerti tentang beberapa kesalahan dan typo ketika membaca.

Sekali lagi, bijak-bijaklah dalam membaca dan memahami beberapa adegan yang tidak pantas untuk ditiru.


"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."

.
.
.

-✍︎-

Langit sudah gelap total, hanya bulan pucat dan bintang yang menggantung jauh di atas sana. Hujan reda sejak tiga jam lalu, meninggalkan hawa dingin yang menggigit kulit. Jalanan lengang, lampu jalan redup menambah kesan kelam.

Langkah kaki Lara yang terbalut sneakers putih menggema pelan. Surai hitam kecokelatannya tergerai liar, rok jeans pendek dan kaos putih melekat pas di tubuh rampingnya. Sesekali ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantung yang berdegup tak wajar.

Tepat sebelum pertigaan, Lara berhenti. Dadanya terasa berat, firasat aneh mencubit perutnya. Ia membalikkan badan cepat. Kosong. Tak ada siapa-siapa.

“Selalu seperti ini!” gumamnya kesal, suaranya bergetar.

Sudah hampir dua tahun ia merasa selalu diawasi, diikuti. Tak pernah tahu siapa. Tapi rasa itu menempel, seperti bayangan yang tak bisa ia enyahkan.

“Ck, siapa sih yang selalu ngikutin Lara? Lara takut,” bisiknya, lebih lirih, lebih jujur.

Sunyi. Hanya suara dedaunan basah yang diterpa angin. Lara kembali melangkah, berusaha cepat.

“Awh!” pekiknya. Kakinya tersandung batu kecil, membuatnya jatuh terduduk di aspal basah.

“Siapa sih naro batu di sini? Bikin orang kesandung! Ini namanya kekerasan,” rutuk Lara sambil mengusap pantatnya yang nyeri.

Tidak jauh di belakangnya, sepasang mata gelap mengintai, tak berkedip. Di balik tudung hoodie hitam, lelaki itu menahan geram melihat gadisnya jatuh.

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang