Sebuah senyum yang jarang ia perlihatkan sedang mengembang di bibirnya. Jarinya sibuk mengetik sebuah pesan balasan untuk gadisnya.
Mine
Bara! Bara, Lara kangen:(
Bara kpn kesini?
Bara!
Bara JAHAT!
Bara, Lara tetep nunggu Bara disini. Bara cpt!
Bara!
Bara!
Sayang?
Anda Iya.
Namun, perlahan senyum itu memudar kala Bara membuka sebuah notifikasi dari Winda.
08********
Bara cepat kerumah! Lara nungguin kamu di halaman rumah!
Bara, Lara nungguin kamu sambil hujan-hujanan. Cepat kamu kesini, Tante takut Lara sakit lagi.
Bara langsung menyambar jaket dan kunci mobilnya. Berjalan dengan tergesa-gesa menuruni anak tangga di mansion Rimba. Dengan kecepatan penuh, Bara membelah jalanan ibu kota tak peduli dengan derasnya hujan dan umpatan atau klakson dari orang-orang. Prioritasnya saat ini hanya Lara.
"Bangsat!" umpat Bara memukul stirnya karena lampu lalu lintas berubah menjadi merah.
Tin!
Tin!
Tin!
Klakson mobil Bara terus ia bunyikan. Tapi, rasanya sangat lama. Kesabaran Bara sudah terkuras. Dengan mata yang menyiratkan kemarahan, ia langsung menerobos lampu merah dengan kecepatan maksimal. Kakinya menancap gas dengan kuat.
Mobil milik Bara kini sudah berhenti di depan rumah gadisnya. Dengan langkah lebar dan cepat, Bara menghampiri Lara. Mata tajam Bara menatap sendu wajah Lara yang sudah pucat dengan bibir yang membiru.
"Sayang," panggil Bara membuat Lara mendongak dan senyum getirnya terukir di bibir yang sudah membiru.
"Bara--"
Hap!
Bara langsung memeluk erat tubuh rapuh Lara. Langit terus menurunkan airnya. "L-lara kira... B-bara enggak da-teng. L-lara ka-kangen B-bara," lirih Lara dalam dekapan Bara.