Bara tak menjawab. Hanya diam. Pelukannya menguat, seolah Lara adalah porselen berharga yang tak boleh retak sedikit pun.
Kepala Lara bersandar di dadanya. Jantung Bara berdetak stabil, seakan tak tergoyahkan. Namun matanya, tetap menyimpan kelam yang tak terbaca.
"Bara," suara Lara pecah, parau oleh takut. "Lara takut sama kamu."
Bara menarik napas, lambat dan tenang. Senyum tipis muncul, nyaris tak kasat mata, "Memang seharusnya kamu takut."
Lara menggigit bibir. Ia ingin lari, pulang, meloloskan diri dari mimpi buruk ini. Tapi tubuhnya terlalu lemah, pikirannya porak-poranda, dan keberaniannya menguap entah ke mana.
"Kenapa?" bisiknya, nyaris seperti doa. "Kenapa Lara dikurung di sini? Lara salah apa? Lara kenapa diculik?"
Tak ada respons. Yang terdengar hanyalah denting jarum jam yang menggema, seolah waktu pun enggan beranjak dari kegilaan ini.
"Lara ngga pernah jahat sama kamu. Lara bahkan ngga kenal kamu. Lara pengen pulang. Lara mau Mama."
Bara mengeratkan pelukannya. Dingin. Tegas. "Tenang dan menurutlah."
"Kalau Lara menurut, Bara bakal pulangin Lara?"
Wajah Bara turun perlahan, jaraknya nyaris menyentuh kening Lara.
"Ya"
Lara menahan napas. Lalu, dengan suara penuh harap, ia bertanya lagi.
"Benar? Janji?"
"Hmm."
"Kapan Lara bisa pulang? Lara akan nurut, Lara ngga akan nakal, Lara janji!"
"Sampai lukamu sembuh."
"Lara sudah sembuh. Ayo pulang!"
Alih-alih jawaban, yang datang adalah cengkeraman kuat di pinggangnya. Lara mengerang pelan, tubuhnya meringis.
"Sakit hiks."
"Menurutlah"
Matanya mulai berkaca. Ia menatap wajah Bara, lalu menutup matanya erat-erat, mencoba menghindari tatapan itu.
"Jangan lihat Lara kayak gitu. Lara takut."
Tawa Bara pelan, kecil, tapi menggigilkan. "Maka menurutlah."
Lara membuka matanya perlahan. Di bawah selimut tebal itu, hanya ada mereka berdua. Dunia luar lenyap. Ketakutan menjelma udara.
"Janji ya, kalau Lara udah sembuh, kamu pulangin Lara ke Mama. Janji ya?"