Chap 11. Lake

25.5K 1.3K 118
                                        

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."
.
.
.

-✍︎-

Siang merangkak naik saat Lara dan Bara duduk bersisian di ruang tengah. Selimut abu membalut keduanya, menghangatkan dalam diam yang menyenangkan. Dari jendela yang terbuka lebar, angin menerpa gorden tipis yang melambai seperti penari bisu, sementara bunyi detak jam dinding menggema pelan, seolah mengetuk hening yang merambat di udara.

"Bara," panggil Lara lirih.

"Hmm?"

"Lara bosen," gumamnya manja, jari-jarinya menari pelan di atas dada bidang milik Bara.

Bara menunduk, menatap gadis kecilnya. "Mau ke luar?"

Lara mengangguk penuh semangat, senyum manis menghiasi wajahnya. "Mauuu!!!"

Tak lama kemudian, mobil mereka melaju perlahan di jalan sempit yang diteduhi pepohonan tinggi menjulang. Sinyal hilang, tak ada satu pun rumah di pandangan, hanya desir angin yang menyapu dedaunan dan nyanyian serangga hutan yang mengiringi perjalanan mereka. Bara tetap diam, tak banyak bicara, namun justru di dalam sunyi itu, Lara merasa tenang.

"Lara nggak tahu Bara bisa nyetir sejauh ini cuma buat nemenin Lara yang minta keluar," ujarnya pelan, menyandarkan kepala pada kaca jendela. "Terima kasih Bara, Lara seneng."

Bara menyambut dengan senyum tipis, matanya tetap lurus ke depan.

Perjalanan mereka berhenti di sebuah titik yang tampak dijauhkan dari dunia. Sebuah pohon besar menaungi mobil yang terparkir, jalanan tanah tampak menurun menuju danau luas di kejauhan, cermin langit yang ditinggalkan Tuhan dalam diam.

Lara menggigil saat angin menyentuh kulitnya. "Ini beneran di tengah hutan?"

"Tenang," jawab Bara singkat. "Tak ada hewan buas, hanya hening."

Langkah mereka menuruni jalur tanah yang basah dan licin. Ketika Lara tergelincir, tangan Bara sigap menggenggam pergelangan tangannya. Hangat, kuat, dan tak membiarkannya jatuh.

"Pelan," ucapnya, nada lembut namun tegas menyiratkan kepedulian yang tak biasa.

Di depan sana, danau membentang dengan tenang. Airnya jernih, nyaris tanpa gerakan. Bahkan burung pun tak terdengar. Mereka duduk di atas batu besar yang menjorok ke permukaan air, bersisian tanpa suara. Bara melepas tudung kepalanya, membiarkan angin liar membelai rambutnya. Wajahnya tenang, namun rahangnya mengeras.

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang