Chap 2. Fire

50.5K 2.9K 386
                                        

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."
.
.
.

-✍︎-

Lara membalikkan badannya, tubuhnya kaku mendengar suara berat itu. Matanya langsung menangkap sosok laki-laki semalam, orang yang sempat menolongnya. Kini, ia berdiri di sana, memandang Lara dengan tatapan setajam pisau, seolah menembus relung jiwanya.

"Kenapa kamu awasi Lara?!" teriak Lara dengan suara bergetar, lebih sebagai upaya melawan rasa takutnya sendiri.

Laki-laki di depannya tak menjawab. Ia hanya melangkah perlahan, langkahnya tenang tapi mengancam. Lara mundur selangkah demi selangkah, napasnya memburu.

"Pergi! Jangan kesini!" jerit Lara, air matanya sudah tumpah tak terbendung.

Tapi pria itu terus maju, nyaris tanpa suara. Hingga akhirnya, ia berdiri begitu dekat dengan tubuh Lara yang gemetar hebat. Tangannya terulur, menghapus air mata di pipi Lara.

"Don't cry sayang," ucapnya pelan, bagai bisikan menenangkan, meski justru semakin menakutkan.

"Kamu siapa?! Lara nggak kenal! Kenapa kamu punya foto Lara?!" Suara Lara melengking, putus asa, memekakkan telinga di ruangan itu.

"Bara, Bara Xavier," jawabnya pendek.

Tubuh Lara makin bergetar ketika tangan laki-laki bernama Bara itu menarik pinggangnya, mendekapnya begitu erat.

"Jauh! Pergi! hiks," Lara terisak, tubuhnya mundur ketakutan.

"Tidak akan," gumam Bara, matanya tajam, pelukan nya mengerat.

"Gila! Dasar gila!" teriak Lara, suara gemetar di antara tangis.

Bara hanya diam. Pandangannya menelusuri wajah Lara, seolah membaca setiap rasa takut di sana. Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyum tipis yang justru lebih menakutkan daripada kemarahan.

"Kau bilang aku gila?" bisiknya, suaranya dalam dan datar, nyaris tak terdengar.
"Sayang, kau bahkan belum tahu setengahnya."

Lara makin panik, air matanya tak henti mengalir. "Nggak mau! Lepasin Lara! Lepasin Lara!" isaknya.

Bara tetap mendekat. Tangannya terulur, mengusap pipi Lara yang basah oleh air mata.

"Ssttt... shut up. Jangan memancing sesuatu yang kau sendiri tak mengerti, hmm?" ucapnya, nadanya lembut tapi mengancam.

"Nggak mau, lepasin! Lara nggak kenal kamu! Kenapa kamu punya foto Lara?!" teriak Lara, tangannya gemetar mendorong dada Bara.

Bara mendekat lebih lagi, hingga napasnya menyentuh kulit Lara. "Kau tak perlu tahu sekarang," gumamnya, lalu mengecup pipi Lara pelan. Tak cukup, ia gigit pipi itu ringan, membuat Lara meringis kesakitan.

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang