Suara langkah kaki terdengar mendekat di luar kamar. Lara yang tengah menangis di tengah ruangan, masih dengan napas yang tersengal karena panik, menoleh dengan cepat.
"Lara?"
Suara itu. Dingin, namun mengalun lembut, penuh kelegaan.
Pintu terbuka perlahan. Bara masuk. Rambutnya masih sedikit berantakan tertiup angin pagi. Matanya langsung menatap Lara dengan raut yang tak mudah ditebak antara lega, bingung, dan sedikit tersenyum simpul.
Begitu melihat Bara, Lara spontan berlari ke arahnya, memeluk tubuh itu erat-erat seolah takut Bara menghilang lagi.
"Bara ke mana aja?! Lara kira hiks Lara kira Bara beneran marah semalem atau hiks atau Bara nyesel atau Bara ninggalin Lara karena Lara nyebelin hiks!" suara Lara pecah, tangisnya kembali pecah. "Lara takut, Bara hiks takut banget takut ternyata semua itu cuma mimpi hiks Lara bangun dan Bara nggak ada."
Bara tak langsung menjawab. Ia hanya merangkul gadis itu erat dalam pelukannya. Membiarkannya berbicara, menangis, meracau, seperti anak kecil yang kehilangan mainan favoritnya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia menunduk sedikit, membisik lembut di telinga Lara.
"Aku hanya turun dari balkon, satu jam lalu."
Lara mengangkat wajahnya, matanya masih berlinang, bibirnya gemetar.
"Kenapa?"
"Aku tahu ibumu belum sepenuhnya percaya padaku. Jadi aku keluar diam-diam, melalui balkon. Lalu aku mengetuk pintu depan. Aku pura-pura bertamu, dan beliau percaya. Sekarang aku diamanahi untuk menjaga mu seharian ini."
Lara terpaku. "Serius? Jadi Bara nggak ninggalin Lara kan?"
Bara menggeleng pelan. "Tidak ada satu detik pun aku berniat meninggalkan mu."
Lara kembali terisak. Kali ini bukan karena sedih, tapi lega. Ia menggenggam kerah baju Bara kuat-kuat, seolah tak ingin lelaki itu pergi lagi.
"Jangan pergi lagi please."
"Aku di sini, Lara. Tidak ke mana-mana."
"Lara masih ngantuk tapi Kara takut tidur lagi, " gumam Lara pelan, matanya sembab. "Lara belum gosok gigi, belum cuci muka tapi Lara juga nggak mau lepasin Bara."
Bara menghela napas kecil, lalu tanpa berkata apa pun, membungkuk dan mengangkat Lara dalam gendongan. "Kita ke kamar mandi. Aku bantu."
"Gendong terus ya," ucap Lara manja, membenamkan wajahnya di leher Bara. "Lara malas jalan."