Bara berbaring di samping Lara. Hari kian larut dan suasana pun semakin sunyi. Tangan Bara terangkat memeluk tubuh mungil Lara ke dalam dekapannya.
Bara terus memerhatikan wajah Lara. Seketika hatinya terasa menghangat saat melihatnya. Seulas senyum manis menghiasi sudut bibir Bara.
"You're mine," kata Bara dengan mengelus pelan pipi Lara.
"Eunghh," lenguh Lara terdengar membuat senyum Bara semakin mengembang.
"Lara," Lara menoleh ketika namanya di panggil oleh Bara.
Mata Lara mulai berair dan seketika tangis Lara pun pecah. Lara terus diam mengamati wajah Bara dan mulai keluar isakan-isakan kecil dari bibirnya.
"Kenapa nangis hmm? Ada yang sakit?"
Lara hanya terus diam dan menangis. Bara yang merasa tidak mendapatkan respon apapun dari Lara terus berusaha membuat Lara meresponnya.
"Kamu kenapa hmm? Lara laper?" Tanya Bara.
"..."
"Lara, tolong jawab. Jika kau terus diam Bara nggak tau kamu mau apa."
Lara berusaha menenangkan diri. Menghapus air matanya dan mengatur nafasnya kembali.
"L-lara pengin Mami hiks... hiks..."
Bara mematung dan tidak bisa menjawab apapun. Bara bingung harus menjawab apa.
"Lara pengin pu-hiks... pulang."
Bara menggeleng cepat dan kembali membawa Lara kedalam dekapannya. "Bara akan bawa Lara pulang. Tapi bukan sekarang ya, baby."
Lara menggeleng keras dan tangisannya kembali terdengar. "Enggak! Hiks... Lara pengin hiks... pulang sekarang! Hiks... hiks... Huwaaa."
"Sshh, iya nanti Bara anter Lara pulang. Sekarang, Lara makan dulu ya biar perutnya diisi."
"Engga mauuu, hiks..."
"Makan Lara, nanti kamu tambah sakit."
"Enggak! Hiks... Lara penginnya pulang!"
"Jangan membangkang Lara, tolong."
"Lara cuman pengin pulang hiks... hiks... Lara takutt huhuhu."
Bara menghela nafas dan mengelus pelan rambut Lara. "Nggak usah takut, aku nggak akan jahat lagi sama kamu. Tapi tolong jangan jadi gadis pembangkang seperti ini Lara."