Mendengar pertanyaan tersebut, Bara melangkah masuk perlahan, lalu berhenti beberapa langkah di hadapan Winda. Ia menghela napas sejenak sebelum menjawab, suaranya stabil dan tenang.
"Nama saya Bara. Saya menemukan Lara malam itu, di dekat stasiun. Dia sendirian, tampak ketakutan, dan berjongkok di halte saat hujan."
Winda mengerutkan kening, menahan napas, tak menyela.
"Awalnya saya hanya ingin membantu, mengantar pulang. Tapi Lara menolak. Dia tidak percaya siapa pun, saat itu. Akhirnya, saya membawanya ke tempat saya sementara waktu. Sebuah apartemen kecil di pusat kota seberang."
Winda masih terdiam, ekspresinya sulit ditebak. Matanya memperhatikan Bara dari ujung kepala hingga kaki. Waspada, tapi tidak tergesa menghakimi.
"Saya dulu teman sekolah Lara. Tapi kami tak dekat. Saya pindah sebelum lulus karena ikut orangtua ke luar kota. Itu sebabnya Lara mungkin tidak langsung mengenali saya."
"Kalau begitu," ucap Winda, suaranya datar namun tajam, "kenapa kamu tidak menghubungi polisi? Atau setidaknya saya, orang tuanya?"
Bara tidak langsung menjawab. Ia menarik napas panjang dan menatap Winda langsung di mata, tetap tenang.
"Karena Lara menolak. Dia berada dalam kondisi yang tidak stabil. Panik. Takut. Saat saya tawarkan menghubungi siapa pun, dia malah tambah gelisah. Saya pikir memaksa hanya akan memperburuk keadaannya. Jadi saya memilih untuk menunggu, sampai dia cukup tenang dan siap pulang."
"Dan luka-luka itu?" tanya Winda pelan, menahan emosi yang menggumpal di dadanya.
"Dia terjatuh saat berlari malam itu. Beberapa luka ringan di lutut dan lengan. Saya bantu merawatnya. Tidak ada yang serius."
Winda terdiam cukup lama. Bara tahu, keraguan masih mengendap di balik tatapan teduh perempuan itu.
"Saya tahu anda mungkin belum sepenuhnya percaya," kata Bara, nadanya tetap santun namun tegas. "Tapi jika saya berniat menyakiti Lara saya tak akan berdiri di sini membawa dia pulang. Saya bisa saja menghilang begitu saja. Tapi saya tidak melakukannya."
Ia menunduk sedikit, lalu mengulurkan tas kecil ke arah Winda.
"Saya hanya ingin Lara baik-baik saja. Saya tidak menuntut apa-apa."
Winda mengambil tas itu dengan pelan, lalu menatap pemuda itu lama. Tarikan napasnya berat.
"Seminggu ini kamu menemaninya?"
Bara mengangguk.
"Dan selama itu apakah kalian dekat?"
"Ada hal-hal yang tidak bisa diukur dengan waktu," jawab Bara, pelan. "Saya hanya merasa saya mengerti dia."