Suasana di Balairung sedang tenang. Pemateri sedang menjelaskan tentang budaya kampus. Tapi suara bisik-bisik dan tawa kecil di belakang mulai mengusik keheningan.
Seorang senior penjaga langsung menoleh tajam. Ia berjalan cepat menghampiri. "Kamu dua orang, berdiri sekarang."
Lara dan Lida langsung kaget, saling pandang, lalu perlahan berdiri. Senior di depan mikrofon menghentikan pembicaraan dan menatap ke arah keributan. "Ada apa di belakang?"
"Mereka tertawa dan mengobrol saat sesi materi berlangsung, Kak," lapor senior penjaga.
"Silakan maju ke depan."
Langkah mereka berat, kepala menunduk. Begitu sampai, suara senior terdengar dingin dan menekan.
"Kalian tahu sedang berada di forum resmi?" tanya senior itu dengan nada tegas. "Ini sesi pengenalan kampus. Bukan tempat untuk bercanda."
"Maaf, Kak," ucap Lara pelan, diikuti Lida yang juga minta maaf dengan nada serupa.
"Yang lain lihat! Dua orang ini contoh buruk. Maba yang belum tahu tempat, belum tahu waktu. Kalau kalian ke sini hanya untuk haha-hihi, saya sarankan mundur dari awal."
Lara mencengkeram jemarinya sendiri. Lida menahan air mata.
"Balik ke tempat duduk. Dengan kepala tertunduk. Jangan saya lihat kalian bersuara lagi hari ini."
Tanpa berani menatap siapapun, keduanya berjalan kembali ke tempat duduk. Dada mereka sesak. Seisi aula hening, tapi tekanan itu lebih keras dari teriakan. Dan sejak detik itu, mereka tak berani menoleh satu sama lain lagi.
-✍︎-
Serangkaian acara pengenalan kampus akhirnya usai. Langit mulai meredup, tapi emosi Lara justru memuncak. Dengan langkah tergesa, dia berjalan menyusuri lorong panjang kampus bersama Lida di sampingnya. Wajahnya masam, bibirnya tak henti menggerutu.
"Ngapain sih dimarahin segitunya? Gak salah apa-apa juga, cuman ketawa dikit masa ngga boleh," gumam Lara geram, masih memikirkan senior yang barusan mengomeli mereka di depan semua peserta.
Lida ikut mendengus, "Kayak kita habis ngebakar gedung aja. Bawaan galak semua."
Lara mendengus semakin keras, tapi langkahnya tiba-tiba terhenti. Pandangannya membeku pada sosok laki-laki di ujung lorong. Duduk santai, topi hitam menutupi sebagian wajahnya.
"Bara?" bisik Lara pelan.
Senyuman gadis cantik itu merekah, kakinya berlari kecil ke arah Bara. Kurang dari dua langkah mereka dekat, Bara tanpa sepatah kata berdiri lalu pergi tanpa melihat ke arah Lara, sedikitpun.