Chap 9. Regret

29.8K 1.5K 159
                                        

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."
.
.
.

-✍︎-

Malam menjelang. Langit menggantung kelam, nyaris tanpa bintang. Angin luar menggeliat pelan, mengetuk-ngetuk jendela kamar Lara yang tertutup tirai tipis seperti ingin masuk. Di atas ranjang berselimut hangat itu, Lara meringkuk kecil, memeluk erat boneka kura-kura hijau kesayangannya hadiah dari Bara yang selalu menemani malam-malam sunyinya.

Matanya sembab, basah. Pipinya dingin oleh air mata yang tak kunjung kering. Bibir bawahnya digigit pelan, berusaha menahan isak yang kembali pecah tanpa izin.

"Kenapa sih Bara kayak gitu," gumamnya pelan. "Lara cuma pengen ngobrol. Lara cuma mau minta maaf."

Pelukannya pada boneka mengencang, seolah benda itu bisa memberi kehangatan yang Bara enggan berikan sore tadi. Kalimat yang ia ucapkan dua hari lalu tentang membenci Bara itu terus terngiang dan menghantui, padahal tak sepenuh hati ia mengatakannya. Dan saat ia mencoba menebus semuanya, Bara malah menjauh. Diam-diam, tanpa sepatah kata pun.

"Lata nggak benci Bara hiks, Lara bohong waktu bilang itu," suara Lara nyaris hilang di balik isakannya.

Tiba-tiba suara gesekan. Tirai bergerak lembut. Namun kali ini bukan angin yang masuk, melainkan seseorang.

Dari balik jendela yang entah sejak kapan terbuka, muncul siluet tinggi yang amat dikenalnya. Tubuh Lara tersentak. Napasnya tercekat. Ia reflek duduk, memeluk bonekanya lebih erat seakan tubuh kecil itu mampu melindunginya dari dentuman rasa.

"B-Bara?"

Bara berdiri diam di ambang jendela seperti sosok bayangan. Tubuhnya menjulang dalam balutan gelap. Wajahnya datar, tak terbaca. Tapi sepasang mata hitamnya mengunci pandangannya menelanjangi segala bentuk rasa yang Lara sembunyikan.

"Aku sudah mendengar tangisan mu sedari tadi," ucapnya datar. "Lara, kamu tahu 'kan aku paling benci jika kamu menangis?"

Lara menunduk. Suaranya tercekat. Tak menjawab.

Langkah Bara perlahan memasuki kamar. Jendela ditutup perlahan. Tiap gerakannya dingin dan presisi, seperti bayangan kelam yang melata di sudut malam.

Begitu berada di hadapan Lara, ia berjongkok. Menatap lekat wajah gadis itu, seakan ingin mengukirnya dalam ingatan yang sudah penuh dengan bayangannya sendiri.

"Aku seharusnya tidak meninggalkan mu tadi," ucap Bara dingin tapi ada sedikit penyesalan disana. "Aku terlalu marah dengan mu dan dengan diriku sendiri."

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang