Pecahan beling itu menari di antara jari-jari Bara, berkilau tipis memantulkan cahaya redup kamar. Mata hitamnya menatap penuh selera pada kulit putih di paha Lara.
"Tenang, sayang," bisik Bara, napasnya nyaris menyentuh paha Lara. "Tetap diam, ya? Ini akan sebentar."
Pecahan beling itu menancap pertama kali. Rasa panas menjalar cepat, lalu berubah jadi nyeri yang menggigit sampai ke tulang. Darah merah segar langsung muncul, menetes perlahan.
"AKH! Hiks sa-sakit!" jerit Lara, tangannya mencengkeram tangan Bara berusaha menahan, tubuhnya menegang.
Bara menghela napas panjang, matanya menatap darah itu seolah sesuatu yang indah. "Astaga… kamu cantik sekali saat berdarah seperti ini sayang," bisiknya. Tangannya yang satunya menahan keras paha Lara, mencegahnya bergerak.
Ia mulai menggores. Perlahan. Dalam. Huruf demi huruf. B… A… R… A…
Darah makin banyak. Urat di paha Lara seperti menegang, rasa panas dan perihnya menusuk tak tertahankan. Lara mengerang tertahan, air matanya tak berhenti jatuh.
"Udah hiks u-udah sa-sakit!" napasnya terputus-putus, suara pecah.
Bara tak menghiraukan. Matanya fokus, senyum tipis menggantung. "Kamu bahkan lebih indah saat menangis, sayang," gumamnya rendah. Tangannya terus bekerja, menekan lebih dalam, seolah mengukir bukan hanya di kulit, tapi di jiwa Lara.
"AKHH! Hiks !" Lara meronta kecil, tangannya gemetar mendorong dada Bara, tapi tenaganya tak ada.
Bau anyir darah memenuhi hidung Lara. Ia merasa mual. Pandangannya berkunang. Perih itu berubah jadi rasa panas yang membakar, seperti disayat dari dalam.
"Jangan bergerak," Bara mendesis tajam. "Atau aku akan mengulangnya dari awal?"
Lara menahan napas, isakannya pecah. Air matanya jatuh tak terbendung. Dengan lemah ia bergeleng.
Saat kata BARA’S MINE selesai terukir, darah sudah menetes di atas lantai marmer megah. Kulit putih itu kini berubah merah. Lara nyaris pingsan karena nyeri dan rasa takut.