Chap 12. Rain

20.6K 1.1K 137
                                        

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."
.
.
.

-✍︎-

"Dari mana aja kalian? Kok Mami pulang kalian nggak ada di rumah?" tanya Winda pada Bara dan Lara setelah mereka duduk di sofa.

"Dari Dufan Tante," jawab Bara sopan. "Iya Mi! Seru banget!" timpal Lara yang duduk di sebelah Bara.

Drrtt...Drrtt...

"Permisi, mau angkat telepon dulu," pamit Bara. Yang diangguki oleh Winda dan Bara, dan mereka sibuk berbincang kembali.

"Ada apa?" tanya Bara pada sambungan telepon.

"..."

"Baiklah, aku akan kesana."

Tut... Tut...

"Maaf Tante, Bara mau pamit pulang. Ada urusan."

Winda mengangguk sembari tersenyum hangat. "Iy--"

"Enggak! Bara nggak boleh pergi!" potong Lara langsung memeluk Bara.

"Lara, aku ada sedikit urusan. Besok kita berangkat kuliah bareng terus jalan-jalan mau? Tapi, sekarang aku harus pulang," tawar Bara lembut membalas pelukan gadisnya.

Lara menggeleng. "Enggak boleh! Pasti hiks... Bara mau nemuin hiks... cewek genit tadi pas di Dufan ya?!"

"Enggak mungkin sayang. Aku sedang ada urusan dengan pamanku," terang Bara jujur.

"Hiks... enggak mau," lirih Lara pelan. Bara hanya menghela nafas bingung.

"Lara sayang, Baranya biar pulang dulu ya. Nanti kalau udah selesai, Bara kesini lagi kok!" Winda pun ikut angkat bicara.

"Boong!"

Kenapa Lara manja banget ya? batin Winda pusing.

"Yaudah, Bara nggak jadi pergi kok. Sekarang Lara sama Bara duduk ya!" ucap Winda yang membuat Bara langsung menoleh kearahnya. Winda yang tau maksud Bara akhirnya mengangguk memberi pengertian.

"Kita, duduk dulu ya sayang," ucap Bara lembut lalu mereka duduk kembali ke sofa.

"Lara, Baranya dikasih minum dong. Masa pacar sendiri enggak di suguhi minum?" tanya Winda.

"Nanti, kalau Lara buat minum, Baranya pergi gimana? Hiks... " ucap Lara masih dalam pelukan Bara.

"Enggak kok! Iyakan Bara?"

"I-iya."

Lara mendongak memerhatikan wajah Bara, perlahan pelukannya melonggarkan. "Bara mau dibuatin minum apa?"

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang