"Lara kenapa, hmm?" tanya Winda lembut. Dari tadi, putri semata wayangnya itu terus menempel dan bergelayut manja di lengannya, tak seperti biasanya. Lara hanya menggeleng pelan tanpa kata.
"Udah makan?" tanya Winda lagi.
Lara kembali menggeleng lemah. Tak sanggup menjawab. Matanya tampak kosong, seperti sedang berada di tempat yang jauh dari ruang tamu mereka.
Winda menghela napas khawatir. Tangannya terulur, mengusap rambut panjang Lara dengan hati-hati. "Mama udah masak makanan kesukaan kamu, yuk makan dulu, ya?"
"Iya," jawab Lara lirih, tanpa semangat.
Kini, gadis itu hanya duduk terpaku di meja makan, menatap piring yang telah tersaji dengan lauk kesukaannya. Ayam bumbu kuning, tumis brokoli, dan sup bening. Tapi semua itu terasa hambar baginya. Aroma makanan justru memicu gelombang mual dari perut yang belum terisi sejak siang tadi.
"Lara ke kamar aja, Ma, Lara belum laper," ucapnya pelan.
Winda menggeleng keras. "Enggak bisa, kamu harus makan dulu!" suaranya terdengar tegas, tapi mata Winda jelas-jelas menunjukkan kekhawatiran.
"Tapi Ma, Lar-"
"Enggak ada tapi-tapian! Makan sekarang, Lara."
Lara mengangguk dengan berat hati. "Iya."
Dengan lesu, ia menyendok sedikit nasi. Suap pertama masuk ke mulutnya, tapi tak sampai ditelan. Ujung lidahnya seakan memuntahkan kembali rasa trauma. Wajah Bara terbayang. Darah di layar. Jeritan. Pisau yang menusuk-nusuk tubuh dalam film itu. Dingin. Sadis. Lalu Bara yang tetap duduk tenang di sampingnya, seperti tak ada yang salah.
"Mama..." suara Lara pecah pelan, matanya mulai berkaca. "Lara mual."
Melihat putrinya seperti itu, Winda akhirnya menyerah. Ia mengelus punggung Lara pelan. "Yaudah, kamu istirahat aja dulu, ya. Tapi nanti malam harus makan. Janji?"
Lara mengangguk samar. "Selamat malam, Mama," ucapnya sambil mengecup pipi sang ibu sebelum berjalan pelan ke kamar.
Sesampainya di kamar, Lara langsung masuk ke balik selimut. Menggulung tubuhnya erat-erat, seperti ingin menyembunyikan diri dari dunia. Perutnya keroncongan, tapi pikirannya masih terpenjara oleh bayang-bayang mengerikan.
Setiap ia memejamkan mata, adegan demi adegan sadis itu kembali muncul. Suara teriakan. Darah yang mengucur deras. Wajah Bara yang dingin. Tanpa ekspresi. Seolah ia benar-benar menikmati semuanya.