Chap 7. Sick

35.3K 1.8K 234
                                        

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"𝑫𝒂𝒕𝒂𝒏𝒈 𝒅𝒆𝒏𝒈𝒂𝒏 𝒓𝒂𝒔𝒂 𝒔𝒖𝒌𝒂, 𝒍𝒂𝒏𝒕𝒂𝒔 𝒑𝒆𝒓𝒈𝒊 𝒎𝒆𝒏𝒊𝒏𝒈𝒈𝒂𝒍𝒌𝒂𝒏 𝒍𝒖𝒌𝒂."
.
.
.

-✍︎-

Mata itu mengerjap perlahan, seolah enggan kembali ke dunia yang menyesakkan. Samar-samar bayangan langit-langit apartemen menyambut pandangannya, disusul oleh sosok tegak yang berdiri di sisi ranjang. Tatapan tajam, dingin, setajam elang yang mengintai mangsanya. Bara.

Lara berusaha duduk, meski kepalanya terasa berputar hebat. Nafasnya tak beraturan, dan matanya sesekali terpejam mencoba melawan pusing yang mengoyak kesadarannya.

"Kenapa dari semalam tidak makan?" tanya Bara dengan suara rendah, namun tajam seperti ujung pisau.

Lara menggeleng pelan, nyaris tak bersuara. "Nggak apa-apa," bisiknya, lirih.

Bara menghela napas kasar, mengusap wajahnya dengan frustasi, lalu menyodorkan semangkuk sup ayam hangat yang masih mengepul. Aromanya harum, namun justru membuat Lara ingin muntah.

"Makan sekarang."

Lara mengangkat pandangannya, sorot matanya memohon, seperti anak kecil yang tak sanggup lagi menahan beban. Tapi ia menggeleng pelan.

"Makan, Lara!" suara Bara meninggi, tak ada celah untuk penolakan.

Lara tetap menggeleng. Lebih kuat.

"Kenapa tidak mau?!"

Kepala Lara tertunduk dalam. Tak sanggup menatap bara api di mata Bara. Jemarinya gelisah, menggenggam seprai seperti mencari perlindungan yang tak pernah ada.

"Jawab, Lara!" desak Bara, semakin mendekat.

Tak ada jawaban. Hanya suara napas Lara yang mulai bergetar.

"Oke," Bara berkata pelan, namun nada ancamannya jelas. "Sekarang makan atau kamu akan aku hukum lagi."

Deg.

Ucapan itu memukul jantung Lara. Ia langsung menggigil, tubuhnya gemetar. Dada terasa sesak, seolah dinding-dinding kamar menyempit, mengurungnya bersama monster yang bermata indah. Tidak, Lara sudah tidak tahan.

Namun entah dari mana keberanian itu muncul Lara menggeleng lagi. Tegas.

"MAKAN, LARA!"

Suara Bara membelah udara seperti petir. Tangannya meraih sendok, menciduk sup panas, dan menyodorkannya ke bibir Lara yang terkatup rapat.

"APA SUSAHNYA MAKAN?! BUKA MULUTMU!"

Lara memalingkan wajahnya. Menolak.

"Kau—!"

Plak.

Kepala Lara terdorong ke samping. Sesaat, dunia terasa hening. Bahkan napasnya pun tak terdengar.

Baralara [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang