46. Regal Buat Ulah

530 61 63
                                        

vote komen dulu dongg

!!!

"Regal mana dah, kok tumben gak nampak," ujar Quenza yang duduk di antara Vania dan Laura.

Saat ini Tessa memaksa teman-temannya untuk pergi ke kelas Bara, dan untungnya Bara, Langit, Reivan dan Ardhan sedang duduk di depan kelas mereka.

"Ngapain lo cari dia? Suka ya?" goda Ardhan sambil tersenyum jahil pada Quenza. Quenza membulatkan matanya sempurna, bagaimana bisa dia suka dengan Regal.

"Ih, siapa juga yang suka Regal, gue cuma nanya aja kali. Kan biasanya dia paling ribut tuh, tapi sekarang kok hening-hening aja," kata Quenza sensian.

"Tah kemana tu anak, ngilang aja dia," ucap Reivan melihat ke dalam kelas dari jendela yang berada di belakang punggungnya.

"Tadi katanya sih dia mau kerjain Pak Broto, awalnya dia ngajak gue, tapi gue gak mau. Bukan dia ngajak sih, gue yang suruh," curhat Ardhan. Mereka semua mengangguk mengerti.

"Enak banget ya guru lagi rapat, free class," ujar Vania bahagia. Dia tersenyum indah ke arah Ardhan.

Masih jam pelajaran pertama sudah diberi free class oleh guru-guru, karna anak kelas dua belas mau UN, jadi lagi rapatkan itu.

"Bara, gak mau makan dulu? Udah minum obat belum? Tadi malam tidurnya nyenyak gak? Mimpiin aku gak?" tanya Tessa bertubi-tubi.

Bara tersenyum singkat lalu mengangguk saja, artinya semua jawabannya iya. Tessa jadi tersenyum bahagia melihatnya, meskipun Bara itu kaku, tapi dia suka.

"Aduh-aduh, perhatian banget sih Tess," ujar Quenza. Kan dia jadi iri, mau juga gitu.

"Mau juga ya Za? Sama Regal aja sana, kan dia jomblo," celetuk Langit sambil tertawa renyah.

Quenza menatap Langit tajam. "GUE DOAIN LO PUTUS LANG. NGESELIN BANGET SIH," pekiknya dengan tidak santai. Kenapa harus Regal? Kenapa gak cowok lain. Quenza paling benci orang bernama Regal.

"Enak aja lo, gue sama Tasya itu aman sentosa. Udah sakinah mawadah warohmah," kata Langit dengan entengnya.

"Kaya udah nikah aja lo Lang, padahal lo LDR loh Lang," saut Carissa sambil tertawa ringan. Memang lah tu si Langit, padahal LDR.

"Walaupun LDR kami mah kan bisa ketemu. Tapi ini ni, LDR paling jauh ni." Langit menunjuk Vania dan Ardhan dengan telunjuknya.

"LDR beda agama tu berat coy, gue mah gak kuat kalau gini," lanjut Langit. Vania dan Ardhan langsung bertatapan sendu.

Mereka memang beda agama, tapi hati mereka saling mencintai, mau gimana lagi? Siapa yang harus disalahkan dalam hal ini?

"Lihat gue sama Bara, gak LDR, gak beda agama, aman sentisa mah." Tessa memeluk lengan Bara possesive.

"Eh tapi lo dapatin Bara kan lama juga," saut Quenza. Tessa mencebir dengan mata yang ia keataskan.

"Mending lama, kan dapat, dari pada lo masih jomblo," cibir Tessa membuat Quenza berdecak kesal.

Bara tersenyum singkat menatap Tessa yang masih memeluk lengannya. Memang saat ini dia dan Tessa bahagia, tapi untuk kedepannya bagaimana? Bara tak bisa membayangkan bagaimana kehilangan dan sakitnya Tessa saat dia tinggal.

"AHAHAHAHAHA." Tawa besar menggelegar di lorong itu. Semuanya langsung menoleh ke sumber suara, Regal sedang berlari ke arah mereka.

"Anjirlah, capek gue," ujar Regal menetralkan pernafasannya dengan memegang dada saat sudah sampai di depan Langit.

TRISTE [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang