37. Penyakit Bara

934 66 69
                                        

vote komennya mbakkkk

!!!

Semenjak kejadian malam itu, Tessa selalu tidak berhentinya memikirkan Bara, bahkan cowok itu mengajaknya berdansa bersama malam itu.

Bagaimana bisa Tessa melupakan Bara jika sikap cowok itu seperti ini? Juga pasti nanti kalau Tessa mendekat pada Bara, cowok itu bakalan menjauh dan mengucapkan kata-kata yang kasar padanya.

Mendingan Tessa diam aja dulu, mungkin Bara yang bakalan ngejar dia kalau dia menjauh kan? Kaya cerita-cerita wattpad.

Tessa selalu saja memikirkan Bara, bahkan sekarang aja cewek itu memikirkannya, tadi dia mencarinya di seluruh penjuru kantin cowok itu tidak ada, apa jangan-jangan dia gak datang lagi?

"Nyari siapa sih lo Tess?" tanya Quenza sambil memasukkan batagor ke mulutnya, dari tadi dia melihat Tessa celingak-celinguk menatap sekitar.

"Gak ada," jawab Tessa bohong, dia kembali memakan batagor yang ada ada di depannya tanpa memandang sekitar lagi, tapi pikirannya masih tertuju pada Bara, bahkan teman-temannya saja juga tidak nampak batang hidungnya.

Biasanya Ardhan atau Reivan akan menghampiri meja mereka dulu untuk menanyakan kabar pacar mereka atau sekedar melihat saja. Tapi hari ini tidak ada.

"Eh Sa, Reivan kemana?" tanya Tessa yang sudah sangat penasaran, jangan nanyain Bara dulu dong, harus Reivan dulu lah, nanti orang tau lagi dia nyariin Bara dari tadi.

"Dia gak datang hari ini, gue tau lo mau nyari Bara kan, udah langsung aja bilang," tebak Carissa dengan sangat tepat, Tessa menghembuskan nafas pasrah, mereka ini pasti tau tau saja apa yang Tessa inginkan.

Dering ponsel Tessa membuat cewek itu menoleh pada HPnya, nama Regal tertera di sana. Tumben, biasanya anak itu mana pernah nelfon dia.

"Siapa Tess?" tanya Vania yang penasaran, Tessa mengambil HPnya lalu membaca nama itu dengan benar, manatau dia salah baca kan.

"Regal," kata Tessa dengan heran, teman-temannya juga heran mendengar ucapan Tessa.

"Kenapa tu anak? Angkat aja deh Tess, manatau penting kan," saut Quenza mendapat persetujuan dari yang lain.

Tessa menekan tombol hijau dan mendengarkan apa yang akan Regal katakan.

"Halo Gal? Kenapa? Tumben?" tanya Tessa bertubi tubi, nada rendah keluar dari mulut Regal.

"Bara Tess."

Mendengar nama itu membuat jantung Tessa berpacu lebih cepat dari biasanya. Entah mengapa dia menjadi khawatir dengan Bara, tapi dia menutupinya dengan memasang tampang acuh tak acuh.

"Bara kan bukan urusan gue," jawab Tessa cepat membuat teman-temannya menyerit kebingungan. Kenapa dengan Bara?

Lalu Tessa membeku mendengar ucapan Regal selanjutnya, "Bara sakit Tessa, dia butuh lo. Dia manggil lo terus dari tadi."

Muka khawatir Tessa tak bisa ia tutupi lagi, bahkan sahabatnya saja dapat melihat wajah itu.

"Sakit apa dia?"

Mendengar jawaban Regal membuat hati Tessa seakan ditusuk ribuan jarum, dunianya seperti hancur, kepalanya seperti ditumbuk ribuan batu besar, tubuh Tessa melemah, HPnya jatuh ke lantai.

Teman-temannya langsung menyadarkan Tessa yang air matanya sudah mengalir bebas ke pipi mulusnya, cewek itu menatap kosong kedepan.

"Tess, lo kenapa?"

"Kita ke rumah sakit sekarang."

!!!

Tessa berlari menyusuri koridor rumah sakit, dia mencari ruangan yang telah Regal berikan tadi dengan jantung yang berdetak sangat kencang. Muka khawatir tercetak jelas di wajahnya.

TRISTE [TAMAT]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang