Doyoung berteriak seperti orang tidak waras. Urat di sekitar lehernya nampak tiap kali ia bicara. Kedua matanya merah alias menahan tangisan. Keadaan adik Irene yang satu ini kacau. Bahkan terdapat percikan darah di bagian celana yang bisa jadi itulah darah Yuta.
Mengerti dengan Doyoung yang tengah ketakutan + depresi itu, Mingyu melepas genggaman tangan. Kedua kakinya melangkah pelan menghampiri Doyoung dan menurunkan todongan pistol ke arah bawah.
Mingyu tidak langsung menyerang karna Doyoung berada di ambang mood yang tidak jelas. Cowo tersebut mampu menembak siapa saja dengan suasana hati yang seperti itu.
"tenang, Doyoung"
"enggak, Gyu! Lo sama aja, kan kayak mereka?! Lo masih curiga sama gue"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Mingyu menggelengkan kepala. Ia terus mengatakan bahwa tidak ada lagi rasa curiga dalam dirinya agar Doyoung merasa baikan. Padahal dalam lubuk hati terdalam, Mingyu masih mencurigainya karna menerima ajakan minum teh Irene.
"lo yang bunuh Yuta?"
"bukan"
Mingyu mengerutkan kening, "lalu?"
"Yuta membunuh dirinya sendiri"
Gue dan Mingyu terkejut bukan main. Yuta membunuh dirinya sendiri? Memaku tangannya serta menjahit mulutnya? Bagaimana bisa?
Merasa Doyoung membuat skenario, Mingyu memberikan raut wajah tidak percaya lada Doyoung secara tidak sadar.
Doyoung yang sadar akan hal itu langsung menaikan pistolnya lagi, "benar kan, lo masih curiga sama gue, Gyu"
Tidak seperti sebelumnya, Mingyu tetap tenang walau sebuah pistol berada tepat di depan muka. Sedangkan gue hanya berdiri dengan gelisah.
"mari bereskan masalah ini tanpa Soobin"
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.