20. sebuah rencana

166 3 0
                                        

Happy reading!

*****

Warning! : Part ini mengandung unsur kasar dan ide ide gila. Mohon untuk tidak ditiru, terima kasih sudah menjadi pembaca yang bijak.

****

Eline memeluk tubuhnya sendiri kala merasakan angin dingin menusuk kulitnya yang tertutup pakaian.

"Sepetinya akan hujan lebat" Eline melihat ke langit sebentar, langit sudah berubah warna menjadi hitam pekat, tak lagi abu abu seperti tadi.

Karena tak ingin terkena hujan yang deras, dan sudah merasakan dingin, Eline pun segera masuk kembali ke kamarnya. Dia menutup terlebih dahulu pintu balkon, dan menutup tirai nya, agar angin tak masuk.

Eline hendak mandi karena merasakan tubuhnya yang lengket, dia juga sudah kedinginan karena tadi terkana gerimisan. Tapi ponsel Eline lebih dulu berbunyi membuat nya menghentikan langkah.

"Mama," gumam Eline melihat layar ponselnya memperlihatkan nama mama nya, Eline lebih dulu menghapus jejak air mata dan mengontrol suaranya kembali agar tidak serak.

"Hallo ma," ujar Eline ketika telfon terhubung.

"Hallo Eline, ini mama. Kamu apa kabar?" Tidak tau seperti nya Saya sudah biasa tak menyimpan nomor orang lain, karena tak mengerti caranya, jadi dia selalu menyebutkan nama ketika menelfon.

"Iya ma aku tau, aku baik baik aja. Mama gimana?" Tanya Eline balik. Bohong sih, padahal dia saja baru menangis. Dan itu artinya dia sedang tidak baik baik saja. 

"Mama sih baik baik aja, oh ya mama ada kabar baik lho"

"Apa mah?"

"Besok mama akan pulang ke Indonesia! Ini mama lagi berkemas, kemungkinan mendarat nya lusa,", ujar Aya memberitahu dengan antusias.

"Wah benar kah? Kalau gitu aku harus ke mall buat belanja baju" ujar Eline dengan senang, walau sedikit sedih.

"Terserah kamu, tapi bagi mama kamu putri mama yang selalu cantik"

Ucapan Aya mampu membuat Eline malu sendiri, mamanya itu memang sering memujinya. Padahal mereka sama sama cantik, wajahnya hampir mirip.

"Ah mama bisa aja," Kekeh Eline.

"Sudah dulu ah, mama mau lanjut kemas barang. Kamu jangan lupa makan dan tidurnya teratur ya!" Pesan Aya.

Walau lewat telfon, Eline tetap mengangguk. "Oke mah, bye!", Eline pun mematikan telfon tersebut.

Eline menghela nafasnya gusar, dia lantas menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.

Walau niat awalnya ingin mandi, tapi karena merasa ngantuk. Eline pun terlelap dalam tidurnya.

*****

Eva dan Nino langsung terbangun dengan mata yang masih buram karena teriakan seseorang.

"PAPAH! INI LIHAT KELAKUAN ANAK GADIS KAMU!" itu mama Eva yang berteriak, tak lama datang pria baya yang kepala nya botak dibagian.

"Ada apa sih ma- astagfirullahh."

Nino dan Eva saling pandang sejenak, mereka masih linglung karena baru saja bangun tidur, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya jadi mereka terlihat dungu.

Eveline [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang