Happy reading!
*****
Eveline menghapus sisa air matanya, sudah satu tahun ini dia menyembunyikan dirinya sendiri. Kini, Eline sedang berada di sebuah toilet umum. Dia baru saja, keliling berjualan risol untuk melanjutkan hidup.
Eline hanya menitipkan risol buatannya, pada pedagang pedagang makanan ringan yang biasanya berjualan di pagi hari.
Yap, semenjak hari itu, Eline menghidupi dirinya sendiri. Semua harta benda di rampas oleh Syila, namun dia masih tinggal di rumah itu. Dengan catatan, Eline menjadi pembantu.
Yang Eline bisa lakukan hanyalah bisa pasrah, karena dia tak bisa lagi melawan. Dia juga sudah bingung harus ngapain lagi, rasanya hidupnya sudah berakhir.
Eline menghilang tanpa kabar bukan karena tak menyayangi teman temannya, namun dia tak mau membebani mereka. Mereka terlalu baik, untuk Eline yang keadaan nya masih seperti ini.
Dan untuk Gale, Eline memutuskan untuk tidak akan menghubunginya lagi. Lebih baik, Eline memendam rasanya dalam dalam, dari pada dia dibuat malu, karena dulu orang tuanya hendak menikahkan mereka karena bisnis.
Eline sangat tidak menyangka untuk hal itu, sebab, kedua orang tua nya saja belum berbicara apapun dengan dirinya. Eline sampai bingung harus berucap apa lagi.
Eline lantas membuka tangannya yang menggenggam memegang uang receh sedari tadi, terlihat uang lembar sepuluh ribu, dua puluh ribu, seribu, dua ribu, yang sudah kusut. Uang itu, hasil jualan risol kemarin.
Jika dulu, Eline selalu memegang uang yang masih baru dan berwarna merah dan biru, sekarang kebalikannya. Dia bahkan juga tak memegang satu kartu kredit pun.
Eline meneguk ludahnya sendiri, jujur saja ini perubahan yang sangat besar dalam dirinya. Rasanya Eline sanggup sanggup tidak menjalaninya.
Tiap harinya, Eline selalu merasa disiksa. Disiksa oleh keadaan. Bayangkan saja, pukul tiga pagi dini hari dia harus bangun dan membuat risol yang akan di edarkan. Setelah itu, dia beres beres rumah yang besarnya seperti istana, baru dia mengedarkan risol dengan pakaian yang tertutup.
"Kamu harus kuat Eline, kamu sudah bertahan sejauh ini." Eline menguatkan dirinya sendiri.
Eline lantas menatap pantulan dirinya dari cermin, wajahnya masih terlihat cantik walau kusam karena tak terawat. Eline menghela nafasnya, mencoba tersenyum.
Setelah itu, Eline lantas keluar dari toilet untuk pulang kembali ke rumah. Dia menutup topinya lebih ke bawah lagi, agar tidak ada yang bisa mengenalinya.
Saat sedang dijalan, Eline melihat seorang berjalan dengan menghitung sesuatu diplastik, kemudian ada yang koin yang jatuh.
Melihat orang itu seperti kesusahan, dengan hati yang baik, Eline langsung mengambilkannya.
"Ini om." Eline menyerahkan uang koin itu, sambil menghadapnya.
Betapa terkejutnya Eline saat melihat siapa orang itu, dia adalah, Andrea. Orang tua Gale.
"Kau.."
Mata Eline semakin membulat, sepertinya Andre masih bisa mengenali nya saat ini.
"Eveline?"
Sesuai dugaan Eline, Andre pasti mengenalnya. Eline pun lantas menurunkan lagi topinya.
"Bukan, maaf saya pergi dulu." Eline berucap dengan suara lain, saat hendak pergi, Andre menahan pergelangan tangannya membuat Eline was was.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eveline [END]
RomansaTHE 2ND STORY : CHAPTER ONE 'EVELINE' NEW ADULT kisah cinta antara Eveline Merlia Velline, si Ratu kampus. Dan juga Alvaro Galendra seorang cowo cool. Gale tak pernah menyangka, dia bisa menjadi sangat bucin pada seorang cewe. Yaitu si Ratu Kampus...
![Eveline [END]](https://img.wattpad.com/cover/258932724-64-k893872.jpg)