26. Tak ada rasa belas kasih

138 4 0
                                        

Happy reading!

******

"Jika mau jatuhin orang, jangan setengah setengah. Sekalian aja sampai hancur berkeping keping" -Mela

*****

Eva baru saja hendak masuk ke dalam rumah, tapi sebuah selembaran menghentikan langkahnya.

Eva penasaran dan mengambil nya, matanya terbelak saat membaca apa yang dituliskan di kertas berwarna itu.

"Apa apaan ini?!" Eva sama sekali tak terima jika ada yang berani menyebar ketidakbenaran bahwa Eline pembunuhnya.

Eva melirik ke sekitar, ternyata tak cuma satu. Terdapat banyak sekali selebaran yang ditempel dimana mana. Di gerbang orang, di depan pintu, di tiang listrik, dan banyak lagi.

"Ini siapa sih yang nyebar?!" Eva lantas segera berlari keluar, dengan gerakan cepat Eva mengambil lembaran lembaran itu dari tempatnya.

Walau sudah ada banyak yang ditangannya, tapi masih terdapat banyak sekali yang belum Eva ambil.

Seperti nya memang ada yang menempel secara sengaja untuk menciptakan rumor. Jika ada kejadian sesuatu, setahu Eva cara menyebar infonya tidak begini.

Hanya beberapa selembaran atau poster saja yang ditempel. Tidak sampai banyak seperti ini.

Tapi dengan sekuat tenaga Eva mengambil kertas kertas itu dari tempatnya, bahkan Eva berlarian mengejar kertas yang tertiup angin karena lem yang digunakan tidak menempel sempurna. Sepertinya lem murah yang dipakai.

Rumah demi rumah Eva lewati hanya untuk mengambil kertas kertas bodoh itu, Eva tak tau siapa yang menyebar, tapi yang pasti, itu adalah orang yang ingin menjatuhkan Eline.

Setelah menghabiskan banyak waktu, akhirnya bersih juga komplek itu dari kertas yang tak benar itu.

Eva hanya sanggup membersihkan di komplek nya saja, dia tak kuat jika harus menjamah tempat lain.

Teringat sesuatu, Eva pun segera mengambil ponsel dan menghubungi Eline.

Eva tau, papa Eline itu sangat haus akan nama baik. Jika rumor ini beredar dan papa Eline percaya, tamatlah Eline.

Sudah dipastikan gadis itu sedang dalam keadaan tak baik baik saja.

Namun sudah beberapa kali Eva menelfon, tapi tak kunjung mendapatkan jawaban dari Eline.

"Angkat dong Eline, Lo dimana sih?!" Decak Eva saat telfon nya tak kunjung dijawab.

"Semoga Lo baik baik aja Eline."

******

Eline bingung minta diantar kemana, makanya Gale langsung saja membawa Eline kerumahnya.

Sekarang, Gale menuntun Eline untuk duduk disofa yang ada diruang tamu. Eline duduk secara perlahan.

Gale mengamati wajah Eline dalam diam, sudut bibir gadis itu terluka karena tangan papanya sendiri. Gale merasa sangat tak tega, apalagi Eline ini perempuan.

"Gue ambilin obat buat luka Lo ya," ujar Gale nampak khawatir.

Eline hanya mengangguk lesu, sebenarnya tak apa jika tak diobati. Tapi nanti bisa saja infeksi dan bibirnya membengkak.

Apa kata dunia coba jika seorang ratu kampus bibirnya besar kaya ikan louhan.

Tak lama, Gale datang dengan membawa mangkok berisi air panas dan juga handuk kecil. Gale juga membawa kotak P3k.

Eveline [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang