44. Bertemu sekali lagi

107 2 0
                                        

Happy reading!

*****

Syila memijat pelipisnya pusing, dia berhasil menghadapi reporter yang jumlahnya sangat banyak.

Untung saja Syila masih bisa menghalau mereka dengan caranya, jika tidak, bisa hancur sudah dirinya.

Syila menatap sekeliling nya yang sudah kosong, ruangan rapat ini hanya ada dirinya untuk saat ini.

Semua reporter dan juga para klien yang akan mendukung produk Merlia Group, sudah pergi dari ruangan ini.

"Gue gak mungkin pulang kerumah untuk saat ini. Disana pasti banyak reporter juga." Syila berfikir sejenak.

Kemudian dia teringat ucapan sekertaris nya tadi. Bahwa Galendra Group yang menerbitkan artikel itu.

"Jadi mereka ternyata yang mencoba menghancurkan gue." Syila menghela nafasnya.

"Sepertinya gue harus kesana sekarang."

******

Setelah mendapatkan pesan dari Andre, papanya, Gale langsung pergi ke rumah Eline tanpa mengikuti kelas dikampus.

Saat melihat banyak sekali reporter yang ada dihalaman rumah Eline, Gale pun memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari rumah Eline. Agar tidak terlihat oleh reporter maupun wartawan.

Gale melanjutkan nya dengan jalan kaki, masuk ke dalam rumah Eline dengan cara mengendap endap.

Banyaknya tanaman di taman, membuat Gale bisa leluasa masuk ke dalam tanpa terlihat oleh reporter yang sedang berdiri bagai lautan. Karena ini sangat banyak sekali, hampir penuh halaman rumah Eline yang sangat luas ini.

"Akhirnya bisa masuk juga." Gale menemukan pintu dibagian pojok, dan langsung membukanya. Pintu itu tak terkunci, sepertinya biasa digunakan jika ingin keluar tanpa lewat pintu utama.

"Gue harus cari sekarang juga." Gale melirik jam tangannya sejenak, lalu melirik ke kanan dan kiri di sisi rumah.

******

Nessa menyeruput minuman es kopinya, dia sedang duduk di kantin kampus. Kantin ini sedikit sepi karena masih jam kelas, namun Nessa membolos karena pusing.

Bukan pusing sakit, tapi pusing karena materi yang sangat rumit sekali.

Maka, Nessa pun memutuskan untuk pergi ke kantin saja. Mengisi perut dan mengaliri kerongkongan nya agar basah, karena dia belum minum sejak bangun tidur tadi.

Nessa langsung ke kampus setelah mandi, karena sudah siang. Dia bangun kesiangan setelah bergadang hingga dini hari.

Lagi pula, ini sudah hampir jam dua belas siang. Jadi wajar jika dirinya sudah merasakan lapar.

"Enakan juga disini, dari pada dikelas huftt." Nessa kembali memakan seblak yang dibeli nya.

Seblak nya tidak terlalu pedas, karena lebih suka itu. Nessa lebih suka makan tidak pedas, karena menurutnya dia bisa memakan nya dengan menikmati makanan tersebut.

Eveline [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang