40. yang sebenarnya terjadi

118 3 0
                                        

Happy reading!

*****

Setelah pemakaman, Eline kembali kerumah sendiri. Dengan perasaan yang masih kacau, dia melangkah masuk ke dalam rumah yang akan sepi untuk kedepannya.

Eline meminta teman teman nya untuk pulang ke rumah, dengan alasan dirinya ingin menyendiri. Itu memang benar, Eline ingin sendiri dulu untuk beberapa hari kedepan.

Atau mungkin, beberapa Minggu ke depan. Itu tergantung mood dan perasaan yang Eline rasakan.

"Sudah selesai kah acaranya?"

Suara itu menyambut ke datangan Eline, membuat Eline menyerit. Seingatnya, di rumah tak ada siapa siapa.

Eline pun menoleh, matanya terbelak melihat Syila yang duduk dengan santai ditemani segelas minuman anggur.

"Lo?!" Eline berucap dengan emosi tertahan.

"Yap, siapa lagi coba?" Syila membalas dengan senyuman tipis.

Eline pun mendekat dengan raut wajah yang marah.

"Berani banget Lo duduk santai disitu? Setelah pemakaman orang tua gue, lebih tepatnya kakak Lo sendiri, Lo malah minum minum gitu?" Eline berucap dengan nada tak menyenangkan.

"Lo sehat?" Lanjut Eline.

Bukannnya marah, Syila malah tersenyum tipis. Itu membuat Eline mengerutkan keningnya.

"Kalau gue gak sehat, gak mungkin gue bisa disini." Syila berucap santai.

Eline menatapnya sinis, "kalau gue gak ijinin gimana?"

"Gue gak peduli, karena.." Syila mengambil sebuah surat yang sedari tadi ada di meja, lalu menunjukkan nya pada Eline.

"Gue sekarang yang punya hak disini." Syila melanjutkan ucapannya dengan senyuman yang tercetak jelas.

Eline membaca selembar kertas itu tak percaya, disitu dituliskan bahwa Syila mempunyai hak 50% dari harga keluarga Merlia, dan jika anak pertama meninggal, maka seluruh hartanya akan di miliki anak kedua, yaitu Syila.

Yang membuat Eline terkejut adalah, disitu terdapat tanda tangan neneknya dan juga...mamanya.

"Lo jangan coba coba bohong, itu palsu bukan?" Eline berujar tak percaya.

"Kalau Lo pengen tau sih, Lo bisa bawa ini ke pengadilan. Oh ya, gue juga udah bisa kali bedain mana asli mana palsu." Syila menyahut dengan santai.

Eline berdecih, "oke, Lo udah dapat itu, sekarang mau Lo apa?" Dia berucap menantang.

"Lo jadi pembantu di rumah ini." Syila tersenyum lebar ketika mengatakan itu.

Terlihat jelas wajah Eline marah, dia melipat kedua tangannya di depan dada, "jangan harap gue akan mau."

"Yah terserah Lo aja sih, asal Lo tau, semua kartu kredit Lo udah gue beku kan. Dan semua uang dan juga harta yang ada dirumah ini sekarang jadi punya gue." Syila terkekeh ringan bangga, sambil melirik ke sudut rumah.

Eveline [END]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang