Happy reading!
*****
"Kenapa mbak? Mau saya bantu?"
Uluran tangan itu masih dianggurkan beberapa saat, Eveline terlihat menelan Saliva nya dengan disusul keringat dingin yang keluar.
"Kamu....Tifa?" Eveline menebak dengan suara yang sedikit bergetar.
Perempuan itu mengangguk sambil tersenyum, "mari aku bantu."
Tifa pun dengan cekatan, Manarik tangan Eveline dengan perlahan dan membantunya berdiri.
"Kamu...bukannya sudah meninggal? Kenapa bisa terjadi? Apa ini mimpi?" Eveline bertanya tanya pada dirinya sendiri. Terlihat kebingungan.
Tifa terkekeh ringan, "ini bukan mimpi, ini beneran. Aku akan menceritakan semua nya dalam perjalanan. Ayo aku antar kamu pulang."
Eveline pun mengangguk samar, walau rasanya masih tak percaya.
"Kilas baliknya seperti ini. Aku akan menceritakan nya saja. Jadi ketika itu, aku tak sengaja mendengar Mela, Vira dan Nessa berbicara rencana untuk membunuhku. Disitu aku sangat ketakutan sekali, namun aku berusahalah berfikir keras untuk memikirkan cara bagaimana bisa selamat. Menghindar dari takdir pun rasanya sangat susah."
Langkah keduanya, diiringi dengan cerita yang terlontar dari mulut Tifa. Dengan ditemani senja yang sudah mulai datang.
"Disitu aku berfikir keras sekali. Kemudian, sebuah celah muncul. Aku menemukan seorang pemahat patung dari tanah liat. Aku tertarik, dan sepertinya itu dapat memecahkan masalahku. Aku mendatangi pemahat itu, lalu membeli patung yang baru saja selesai dipahat. Aku meminta tolong agar patung itu sedikit dibuat mirip denganku, dan dia mengiyakan. Kemudian tak berapa lama patung itu datang, dikirim via kurir karena jarak nya yang lumayan. Saat acara kampus waktu itu, aku membawa patung itu secara diam diam dan menaruhnya di WC walau sangat ketakutan."
Eveline menyimak dalam diam cerita Tifa ini, dia sungguh tak percaya dengan semua ini.
"Dan saat waktunya tiba, aku keluar dari WC melewati lubang udara. Untung saja disana ada. Bertepatan dengan itu, Mela dan kawan kawannya masuk membantai patung itu tanpa ampun. Mereka tak sadar kalau itu hanya sekedar patung. Karena semua orang saat itu tertuju pada WC, aku pun jadi bebas untuk keluar dari area kampus. Aku lewat bagian belakang, bahkan aku bisa melihat dengan jelas ambulance memasuki kampus." Tanpa tersadar, setetes air mata turun dari pelupuk matanya.
Eveline tak memperhatikan itu, dia masih menatap jalan depan dengan fikiran yang rumit. Namun dia menyimak dengan baik cerita Tifa.
"Aku ketakutan saat itu. Hingga Akhirnya aku pun memutuskan untuk bersembunyi, aku pindah dari rumah dulu ke rumah sekarang. Di samping rumahmu itu. Aku tidak keluar dari grub angkatan, sehingga aku tau kalau kau menikah dengan Gale. Aku merasa sedikit marah saat mengetahuinya, karena jujur saja saat itu aku masih menyimpan rasa pada Gale. Dan dengan mudahnya dia menikah padahal belum lama kehilangan aku." Tifa sedikit sedih menceritakan hal ini.
"Oh iya, sebenarnya aku udah mau nunjukin diri waktu kalian ada masalah. Satu angkatan membicarakan hal itu." Tifa menambahi.
Eveline hanya tersenyum singkat, tanpa sadar mereka sudah sampai dirumah Eveline.
"Tifa, terima kasih ya. Walaupun aku dulu sering jahat, tapi kamu baik sama aku." Eveline berujar tulus.
Tifa mengangguk senang, "sebenarnya aku mempunyai rencana untuk mengatasi masalahmu. Apa aku boleh membicarakan nya?"
Eveline berfikir sejenak, kemudian mengangguk. Dia pun mempersilahkan Tifa untuk masuk ke rumahnya.
"Tapi pertama tama, kita butuh bantuan Gale." Tifa berujar setelah duduk disofa.
KAMU SEDANG MEMBACA
Eveline [END]
RomantikTHE 2ND STORY : CHAPTER ONE 'EVELINE' NEW ADULT kisah cinta antara Eveline Merlia Velline, si Ratu kampus. Dan juga Alvaro Galendra seorang cowo cool. Gale tak pernah menyangka, dia bisa menjadi sangat bucin pada seorang cewe. Yaitu si Ratu Kampus...
![Eveline [END]](https://img.wattpad.com/cover/258932724-64-k893872.jpg)