2. Tidak Semudah Itu

22.4K 1.6K 13
                                        

"Jadi gimana?" tembak Heidi langsung. Tanpa menunggu pesanan minum kami datang.

"Dia gak mau ngembaliin."

Heidi kelihatan sangsi.

"Kenapa?" tanyaku.

"Enggak. Aneh aja. Bang Aksa kayaknya bukan orang yang kayak gitu deh. Masa nahan novel gak penting gitu. Buat apaan?"

"Buat mendapatkan keinginan dia."

"Ha? Dia mau apa dari elo? Lo kan cuma dikenal sebagai cewek cantik yang gak berotak di kalangan atas."

Cenora Dhananjaya memang sangat terkenal dengan kecantikkan, keanggunan, kesopanan, dan kekayaannya. Tapi pintar tidak dimasukkan saat Tuhan menciptakanku. Mungkin Dia terpelongo-pelongo melihat hasil ciptaannya hingga lupa, atau karena Dia Maha Adil dan sengaja tak memberiku anugerah itu. Intinya, aku adalah orang yang amat sangat berjuang untuk menyelesaikan pendidikan sekolah menengah dan perkuliahan. Andai mereka juga tahu kesopanan dan keanggunan itu cuma gimik, aku tak akan punya apa-apa lagi. Cuma cewek pervert yang syukurnya cantik.

"Dia mau gue jadi istrinya."

"Istri? Huahahaha..." Heidi tertawa puas sampai memegangi perutnya. "Ya ampun, Ra, gak mungkin lah. Dia mau aja jumpain elo juga pasti karena segan sama bokap lo. Bang Aksa itu suka perempuan cerdas. Dia gak pernah nge-date sama cewek yang cuma cantik doang. Mantan-mantannya itu cewek berpendidikan tinggi. Memang setahu gue mantannya cuma ada dua. Satu pas dia masih kuliah di Melbourne, satu pas dia kerja di Singapura. Cewek-cewek itu lulusan Yale sama Universitas Melbourne. Jadi apa sebenarnya alasan dia gak mau balikin? Lo ngeselin ya?"

"Dia mau gue jadi istrinya."

"Ini mulai gak lucu." Terlihat jelas sekali Heidi tidak percaya abang sepupunya yang hebat mau menjadikanku istri. Meski aku tahu Heidi itu suka ceplas-ceplos tanpa memedulikan perasaan orang lain, terutama memedulikan perasaan sahabatnya, tetap saja aku kesal mendengar penjelasannya. Serendah itu aku di mata sahabatku sendiri.

Aku pun menceritakan semua yang ia katakan padaku kemarin. Seperti yang sudah kuduga Heidi hanya terpelongo.

"Masa sih dia kayak gitu? Tapi kenapa? Gak mungkin karena dia jatuh cinta pada pandangan pertama kan?"

"Mana gue tau. Itu gak penting. Yang penting gimana caranya gue bisa dapatin naskah novel gue balik."

Aku serius. Ini benar-benar penting. Alasan aku harus mendapatkan naskah itu tak lagi hanya karena aku tak mau dia menyebarkan rahasiaku. Karena dia mengancam aku harus menikah dengannya kalau mau naskahku kembali.

Benar, semalam dia berkata begitu.

"Kalau saya kembalikan, saya dapat apa?" Percakapan ini terjadi setelah judul novel panasku dibacakan keras-keras.

"Kamu mau meras saya?"

"Kamu berlebihan. Saya cuma mau dapat hadiah."

"Saya akan bayar kamu sebanyak yang kamu mau."

"Oke, 1 miliar."Aku memelotot saat mendengarnya. Tak kusangka dia semurah ini untuk dibayar guna menjaga rahasia.

"Oke."

"Dollar. Us dollar."

Sh*t.

"Ini pemerasan."

"Kalau gitu jadi istri saya."

Double sh*t.

Aku tak tahu dia hanya bercanda atau apa tentang memaksa jadi istri ini. Sebab semalam dia tak hentinya tertawa. Seolah sedang bercanda dengan anak kecil. Namun aku tak ingin mengambil resiko.

Lagi pula aku punya alasan lain. Aku menghilangkan flashdisk-ku. Tak akan ada yang bisa di-print ulang dan kukirim ke penerbit. Aku tamat. Karirku yang baru seumur jagung.

"Kenapa gak nikah aja sih? Lo juga udah 25 kan? Udah terlalu lama lo ke sana kemari menebar kebodohan dan sifat tol*l."

Sial. Itu menyakitkan. Namun sayangnya benar.

Memangnya apa yang bisa dilakukan gadis kaya yang tak mampu meneruskan usaha keluarganya selain bersenang-senang? Beramal? Benar. Seharusnya aku banyak-banyak beramal di masa lalu. Dengan kebaikan yang kutumpuk mungkin takdir tak akan sekejam ini. Sayangnya aku baru ingat sekarang untuk beramal banyak-banyak.

"Gimana bisa gue nikah sama cowok kayak dia. Kami bahkan gak saling kenal."

"Ya, kenalan dong."

Tepat saat itu minuman kami datang. Minuman dingin yang cocok sekali dilempar ke wajah seseorang.

Aku yakin mereka memang keluarga. Semalam aku ingin menyiram wajah Aksara, sekarang adik sepupunya. Bayangkan kami menikah, mungkin seluruh anggota keluarga sampai buyutnya ingin kusiram semua. Entah bagaimana kabar anak-anak kami nanti.

"Dia bukan tipe gue. Lagian jelas banget dia gak serius ngajak nikah. Dia pemaksa. Sama sekali gak menghormati pendapat gue. Kalo sekarang aja dia bersikap semena-mena gitu, gak tahu deh apa yang akan dia lakukan nanti setelah kami menikah. Cuma mau ke kamar mandi mungkin harus izin. Kalau perintahnya gak gue lakuin, entah-entah dia mau main tangan."

"Bang Aksa gak kayak gitu."

"Lo ngomong dia gak kayak gitu mulu," cibirku. "Nyatanya itulah sosok dia yang gue liat. Gue mungkin bukan wanita hebat dan sukses. Kalau bukan karena keluarga gue, mungkin sekarang gue cuma jadi pengangguran yang lagi luntang-lantung cari kerja. Bokek. Miskin. Kalaupun dapat kerja paling dapat posisi yang gak seberapa. Tapi bukan berarti gue mau-mau aja kan asal ada cowok yang di atas kertas nilainya baik. Bersyukur dan langsung nerima dia gitu aja. Tanpa peduli gimana nantinya sikap dia ke gue."

Aku sudah melihat terlalu banyak istri pajangan di lingkungan sosialku. Dan aku tak berniat untuk menjadi salah satu dari mereka. Walau kelihatan dangkal dan suka bersenang-senang, dalam hati aku juga ingin jatuh cinta. Menikah dengan laki-laki bertanggung jawab yang menyayangiku. Kalaupun dia tak bisa mencintaiku, setidaknya aku mau seseorang yang tak akan menyakitiku.

"Jadi serius banget ya bahasannya." Sial. Heidi jago banget merusak suasana. "Oke deh, ayo kita ambil balik novel panas itu sebelum lo harus jadi Nyonya Aksara Widan yang terhormat."

Aku tersenyum mendengar usulan Heidi. Inilah dia. Sayang, Mama akan menjemputmu kembali.

***

Sincerely,
Dark Peppermint

LADY MAIDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang