Juliet tersenyum angkuh. "Sekaya apa pun kamu, laki-laki selalu butuh keturunan. Mereka butuh anak untuk membuktikan maskulinitas mereka. Usia kamu yang bertambah bikin peluang kamu untuk dapat anak semakin kecil. Laki-laki yang sekarang kamu incar, pasti lebih milih perempuan yang lebih muda. Kamu bisa apa kalau suami kamu nanti nyari keturunan dari perempuan lain."
Ini sudah abad 21 dan pikiran mereka masih sekuno orang-orang dari zaman batu---walau aku tidak tahu sih orang zaman batu menikah di usia berapa.
"Kamu harus cepat nikah Nora," sambung Juliet berbaik hati memberi saran.
"Aku bukannya gak mau nikah. Aku juga mau banget nikah." Juliet dan ibu-ibu lainnya tersenyum mendengar jawabanku. "Cuma ya gimana. Aku juga kadang iri ngeliat Juliet. Umur dua puluh dia udah nemuin cinta sejatinya." Mendadak wajah para wanita itu memucat. Sekuat tenaga aku menahan seringai di bibirku. "Juliet sama Mas Riki kan serasi banget. Mereka langsung nikah setelah sebulan kenalan. Kalian juga saling mencintai satu sama lain." Aku memasang wajah nelangsa. "Ya mau gimana lagi kalau nasibku beda sama Juliet. Mudah-mudahan aku juga cepat nemu jodohnya. Yang gak kayak Mas Riki juga gak apa-apa." Wajah Juliet sudah merah paham. Bibirnya sebentar lagi mungkin saja akan mengeluarkan darah sebab digigit terlalu keras. "Kita kan gak boleh iri sama sepupu sendiri. Aku gak masalah gak punya nasib yang serupa kayak kamu."
Keempat wanita itu tak mampu berkata-kata lagi. Mas Riki, suami Juliet yang tercinta, adalah seorang pengusaha di industri media berusia lima puluh satu tahun. Tubuhnya gempal dan pendek dengan perut yang agak maju beberapa sentimeter dari yang seharusnya. Juliet sekarang sudah berusia dua puluh empat tahun. Mereka menikah saat Juliet baru saja berumur dua puluh. Tentu sangat jelas bahwa cinta bukan salah satu alasan mereka menikah. Mas Riki atau mungkin lebih cocok kupanggil Om Riki adalah duda tanpa anak. Jelas saja nasihat Juliet tadi berasal dari situasinya sendiri. Pria membutuhkan keturunan, dan gadis muda mempunyai peluang lebih besar untuk memberi keturunan. Sekarang mereka sudah memiliki seorang anak perempuan. Namun belum ada tanda-tanda akan adanya anak kedua. Dan kalaupun ada anak kedua mungkin Mas/Om Riki akan ragu dengan anaknya. Beberapa bulan ini tersiar kabar hubungan Juliet dengan seorang mahasiswa.
Juliet menatapku tajam, yang hanya kutanggapi dengan santai. Jika saja Juliet tidak semenjengkelkan dan seiri ini padaku mungkin aku akan prihatin dengan kondisinya. Dipaksa menikah dengan laki-laki tua tak menarik di usia yang begitu muda jelas tak menyenangkan.
"Kalau gitu aku pergi dulu."
"Kabar itu bohong kan?"
Aku menahan diri untuk mendesah.
Susah sekali memang melepaskan diri dari jaring orang-orang ini.
"Tentang kamu dan Aksara."
Aku menutup mulut. Terkejut dengan anggun. "Kamu juga dengar kabar itu?" Kepalaku menggeleng lemah. "Aku gak tahu kalian dengar dari mana. Aku sendiri masih belum ngasi jawaban."
Tante Sinta membeliak. "Jadi kamu sudah dilamar? Kenapa gak langsung dijawab? Aksara itu sudah ganteng, pengusaha sukses pula."
"Masih bingung Tante. Nora kan belum kenal baik Aksara. Juliet bisa langsung tahu kalau Mas Riki cinta sejatinya," kataku polos dengan wajah bimbang-oleh-lamaran-kekasih. "Tapi Nora gak tahu apa Aksara cinta sejati Nora. Nora bakal tunggu dulu. Dia kan harus buktiin dirinya dulu ke Nora."
Tante Gina menambahi, "Benar. Jangan asal pilih---" Namun kata-katanya tak dilanjutkan lagi saat Tante Putri menyikut perutnya.
"Iya. Nanti kalau Nora udah yakin sama Aksara, bakal Nora terima lamarannya. Doain aja semoga lancar."
Selanjutnya aku langsung buru-buru pergi. Tak ada lagi yang menahanku. Tante Gina dan Tante Sinta tak akan punya alasan untuk menahanku. Sedangkan Juliet dan ibunya mungkin tak ingin merasa lebih geram lagi daripada sekarang.
Kuakui sebenarnya aku tak pernah menyindir orang dengan halus begitu. Aku selalu berhati-hati dengan orang dari lingkunganku. Aku sudah bersikap baik saja mereka tetap membicarakanku, bagaimana kalau aku bersikap seenaknya. Namun hari ini aku tak bisa menahan diri lagi. Aku ragu apa aku sudah lupa bagaimana caranya jadi Cenora yang tenang dan anggun karena beberapa hari menjadi orang lain, atau hanya karena aku lelah.
Sejak kembali dari bioskop kemarin perasaanku sama sekali tidak baik. Tadi pagi pun kulihat Aksara sama suramnya denganku. Dia tak berkata apa pun saat sarapan dan belum pulang saat aku selesai bekerja. Aku bersyukur dengan hal itu. Aku sendiri tidak yakin apa bisa bersikap ramah padanya dengan suasana hatiku yang sekarang. Bisa-bisa penyamaranku terbongkar.
Aku menyapa kakak laki-lakiku sebentar lalu memilih menyingkir dari keramaian. Aku masuk ke dalam rumah dan mencari ruang kosong untuk menenangkan diri. Aku mendengar suara berisik dari balik tirai dan langsung menyibaknya.
"Sh*t," umpat seorang pria. Dia menoleh padaku sementara perempuan di depannya langsung melengos.
"Maaf," kataku. Lalu menutup kembali tirai yang terhubung ke balkon tersebut. Seharusnya aku meneriaki mereka mesum dan menjerit-jerit agar seluruh tamu tahu kelakuan mereka. Jika dipikir-pikir rasanya lucu, merasa yang maksiat, aku yang minta maaf.
Aku menemukan sebuah pintu yang sedikit terbuka. Aku mendesah. Jika ada pasangan laknat lain di dalam aku tak akan menahan diri lagi. Aku akan membuat semua tamu di pesta ini bubar. Aku sudah kesal sekali.
Aku menyentak pintu itu keras-keras seperti orang yang menggerebek tempat kos mesum. Namun tak menemukan apa pun. Ruangan itu kosong. Tempat ini semacam ruang duduk pribadi. Tempat untuk bersantai dan menenangkan diri (mungkin). Terdapat sebuah single sofa kusam, rak tua berisi banyak barang, lemari pendek dengan vas berisi bunga seruni, dan hiasan dinding yang tak terlalu mewah. Tempat ini sama sekali tidak modern dibanding dengan semua tempat lain di rumah ini. Rasanya aneh memikirkan Caesar punya tempat seperti ini. Jika dilihat dari barang-barangnya yang tampak tua kemungkinan sering dipakai. Dan kurasa ada nilai sentimentil sendiri di setiap benda di sini. Maksudku dia baru saja pindah rumah, buat apa menyimpan barang lama yang sudah usang.
Aku mendekati rak besar yang hampir memenuhi salah satu sisi dinding, memperhatikan banyak benda di sana. Buku-buku, berbagai macam rubik, catur, domino, mahyong, jam pasir, cat-cat air, dan banyak lagi.
Suara langkah-langkah kaki dari luar membuatku menoleh. Pintu tadi masih terbuka sedikit, lalu didorong dari luar dan terbuka lebar. Aku menahan napas melihat orang yang baru saja masuk.
***
Sincerely,
Dark Peppermint
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAID
Chick-LitGara-gara perkara novel panas, Cenora menjadi pembantu rumah tangga. Lah, bagaimana bisa? Cenora yang tersohor itu kan anak konglomerat yang menjadi kiblat sosialita muda. Alasan pertama, Cenora belum mau menikah. Kedua, ada laki-laki gila yang ngeb...
