Setelah pertemuan dengan Kin semalam kami berjanji untuk bertemu lagi esok harinya setelah dia pulamg sekolah. Aku menunggu di dalam mobil di depan gerbang sekolahnya. Begitu melihatnya keluar, kuturunkan kaca jendela dan membunyikan klakson. Kin yang melihat hal tersebut langsung berlari menemuiku.
"Mbak Nora beneran datang ternyata," ucapnya dengan agak menundukkan badan di depan jendela mobil.
"Datang dong. Kan udah janji. Ayok, masuk!" ajakku. Saat Kin memutari mobil sebuah suara menghentikan kami.
"Mbak Nora!"
Gawat. Otakku yang tidak pintar melupakan kemungkinan ini.
"Mbak Nora ngapain di sini?" Dengan santainya gadis itu berjalan ke jendela mobil yang masih terbuka, tempat Kin tadi berdiri.
"Lo kenal Mbak Nora?" tanya Kin yang hampir membuka pintu mobil di sampingku.
Kali ini wajah tenang dan santai Minna tampak agak kaget. "Oh..." Lalu dia menatapku dengan mata malasnya yang, walau tidak jelas, tampak merasa bersalahnya. "Maaf, Mbak. Aku pergi dulu kalau gitu." Gadis itu pergi begitu saja sebelum aku yang membeku sempat memberi jawaban.
"Tunggu!" Kin menarik lengan gadis itu. "Lo kenal Mbak Nora?"
"Lepasin!"
"Jawab dulu!" Lalu pemuda itu melirikku. "Mbak kenal dia?"
Aku memaksa otakku yang sampai beberapa saat lalu lupa kalu Minna satu sekolah dengan Kin untuk berpikir cepat. "Hmm, bisa kita bicara di tempat yang lebih aman. Kalian jadi tontonan sekarang."
Kurasa kata-kata ini cukup bagus. Bagus untuk menunda bencana.
Akhirnya Minna dan Kin masuk ke dalam mobilku.
"Jadi kenapa lo bisa kenal sama Mbak Nora?" tanya Kin pada Minna yang duduk di kursi belakang. Pemuda itu sama sekali tidak mau duduk di sebelah Minna.
Minna melirikku. "Aku harus jujur apa gimana Mbak?"
Sudah tak ada pilihan lain juga. Lama-lama pun semua akan terbongkar. "Jujur dong, Min. Memang kapan Mbak pernah ngajarin kamu bohong."
Dari wajahnya yang datar itu terlihat sedikit kernyitan. "Terserah Mbak deh," katanya sambil mengembuskan napas. "Aku yang lebih dulu kenal Mbak Nora."
"Gak mungkin! Kenapa lo bisa kenal Mbak Nora?" Kin menoleh padaku. "Itu bohong kan Mbak? Kenapa Mbak bisa kenal si muka tripleks?"
"Dulu Mbak Nora hampir jadi kakak iparku."
Jawaban itu membuatku dan Kin menoleh ke belakang.
"Karena itu makanya aku kenal baik Mbak Nora. Ya, namanya calon adik ipar, Mbak Nora baik banget sama aku. Kalau cuma ditraktir makanan, sampai sekarang ini pasti udah ribuan kali."
Minna aku gak nyuruh kamu sejujur itu.
Kin terperangah tidak percaya. "Dia bohong kan Mbak?"
Aku menjawab dengan tenang. "Mbak memang pernah dekat sama abangnya Minna. Kami teman sekampus. Dari kecil kami udah sering ketemuan dan jajan bareng."
Entah mengapa aku seperti melihat geledek khayalan dari belakang tubuh Kin. Sementara itu Minna terlihat menahan celetukan melihat sikapku yang sok anggun seperti sekarang.
"Kenapa? Kamu kaget karena calon kakak ipar yang kamu banggain tadi di kelas ternyata jauh lebih akrab sama aku dibanding sama kamu? Sejak umur sepuluh tahun Mbak Nora udah sering baik-baikin aku pake es krim. Hubungan kamu sama Mbak Nora sih belum ada apa-apanya." Minna menyilangkan tangan di depan dada dengan gaya pongah. Sengaja menyiramkan minyak ke dalam tungku api. Membuat Kin yang ternyata membanggakan pertemuannya denganku di kelas terbakar. Membara, berkobar-kobar, hingga nyaris gosong. Oke, perumpamaan terakhir sangat tidak keren. Intinya dia kesal bukan main.
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAID
Literatura FemininaGara-gara perkara novel panas, Cenora menjadi pembantu rumah tangga. Lah, bagaimana bisa? Cenora yang tersohor itu kan anak konglomerat yang menjadi kiblat sosialita muda. Alasan pertama, Cenora belum mau menikah. Kedua, ada laki-laki gila yang ngeb...
