27. Diperjuangin Dong, Mas, Akunya

9K 821 35
                                        

Anehnya tidak ada hal-hal tak masuk akal saat aku ke bioskop dengan Aksara kali ini. Semuanya normal sampai terasa mencurigakan. Kami pergi, menunggu sebentar sambil beli cola dan pop corn, masuk teater, menonton dengan damai sebab Aksara fokus sekali, lalu selesai.

"Kamu mau makan dulu gak, Nem?" tanyanya begitu kami keluar teater.

"Mas belum makan ya?"

"Belum."

Padahal ini sudah hampir jam sepuluh malam.

"Seharusnya tadi Mas makan dulu sebelum pergi."

"Gak sempat, Nem. Nanti ketinggalan filmnya."

Sesuka itu dia dengan film tersebut.

"Kita makan ya. Kamu juga pasti belum makan. Sashimi gimana?"

Dia mengajak orang dusun makan sashimi? Mau pamer atau bagaimana. "Sashimi yang ikan mentah itu Mas?"

"Iya. Yang makanan Jepang itu."

Aku merasa bodoh sekali mendengar jawaban dari Aksara. Sekatrok itu aku di matanya sampai harus dijelaskan sashimi adalah makanan Jepang.

"Duh... apa cocok ya orang kayak saya makan makanan luar negeri."

Sebenarnya tadi siang aku memesan sushi untuk makan siang. Aku tidak ingin makan makanan Jepang lain hari ini.

"Kenapa gak cocok? Memang ada larangan orang-orang tertentu gak boleh makan. Gimana, kamu mau gak?"

Gak mau sih sebenarnya. Tapi masa iya aku bilang pengin makan tom yum. Di dekat sini ada restoran Thailand terkenal yang baru buka.

"Gitu ya, Mas? Mas memang pengin banget makan sashimi?"

"Iya."

Hah... "Ya sudah kita makan sashimi saja."

"Bagus. Ini juga bisa jadi pengalaman pertama kamu kan." Dia tersenyum tulus, yang kali ini terlihat menyebalkan.

Dasar cowok ganteng tidak peka.

"Ini yang namanya sashimi, Nem."

Iya, tahu.

"Oh, ini ya, Mas. Bentuknya menarik. Kayaknya enak," ucapku berdusta.

"Kamu bisa pakai sumpit gak?"

Sejak umur lima tahun aku sudah bisa pakai sumpit tahu.

"Duh, mana bisa saya pakai sumpit Mas. Biasanya juga pakai tangan. Gak boleh dimakan pakai tangan ya, Mas, ini sashimi-nya?"

Aksara tertawa. Pasti seru sekali melihat tingkah udik pembantumu ya, Aksara.

"Jangan, Nem. Sini saya ajarin aja pakai sumpitnya." Tanpa aba-aba si ganteng ini memegang tanganku dan menyelipkan batang sumpit pertama di antara jari manis dan tengah, lalu batang sumpit kedua di jari tengah dan telunjuk. "Kamu bisa tekan sumpitnya pakai jempol pas mau ngambil makanan."

"Oh, gitu ya, Mas," kataku terlena dengan pelajaran darinya. Pakai pegang-pegang segala sih.

"Coba kamu ambil sashimi-nya sendiri."

"Saya coba ya, Mas." Aku pun pura-pura kesulitan saat mengambil. "Apa tadi yang ditekan, Mas?"

"Jempolnya, Nem. Tekan seperti ini." Aksara menekankan jempolku pada batang sumpit. "Nah, sekarang angkat."

Kulakukan sesuai kata-katanya. "Oh, gini ya, Mas. Tekan pakai jempol. Saya dulu mikir gimana bisa mereka makan pakai sumpit."

Aksara mengangguk geli. "Sekarang totol ke kecap asinnya. Terus bisa kamu makan."

LADY MAIDCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang