23. Apa Benar Telah Berakhir

9.6K 858 10
                                        

"Argh..." Aku lekas bangun dari tiduranku dan duduk di atas tempat tidur. "Gue gak bisa gini," kataku lekas turun, lalu memasukkan kedua kakiku ke dalam sandal rumah. "Gue bisa gila kalau terus mikirin Aksara. Dia bahkan bukan pacar gue, tapi 90% hidup gue sekarang isinya dia mulu."

Benar kan apa yang kukatakan. Secara teknis kami memang tak memiliki hubungan apa pun. Tapi dari pagi sampai malam aku di rumahnya, mengurus semua kebutuhan hidupnya, lalu sekarang aku terus dibayang-bayangi orang itu. Ini kejahatan. Walau hidupku tak sepenting Sekjen PBB, aktivis kemanusiaan di Timur Tengah yang berhati mulia, tapi setidaknya aku harus memikirkan diri sendiri juga dong.

Aku mondar-mandir di dalam kamar. Tangan kananku mengelus-ngelus dagu mirip detektif kawakan yang sedang memecahkan kasus misteri paling hebat abad ini.
Sekali lagi aku menjerit frustrasi. Aku menyerah. Tidak mungkin aku bisa dapat jawaban jika cuma dipikirkan sendiri saja. Kubawa kakiku menuju lemari dan menarik keluar sebuah jaket hitam. Memasangnya ke badan sampai seluruh tanganku tertutup panjangnya lengan jaket. Kutudungkan kepala jaket menutupi wajah dan keluar.
Udara segar mungkin bisa membantuku melupakan hal ini sejenak. Lagi pula aku sudah terlalu lama terkurung dalam kesibukan yang tidak jelas ini.

Kakiku berjalan tak tentu arah. Ini sudah seminggu sejak aku melakukan hal paling gila dalam hidupku. Satu minggu lagi deathline novelku berakhir. Jika tak ditemukan juga habislah aku.

Aku menjerit ketakutan saat sepasang mata merah besar mendekat ke arahku. Kepalaku menunduk dan tanganku menutupi wajah.

"Nora..."

Aku mengenali suara itu. Kubebaskan wajahku dari kungkungan tangan. "Malik?"

"Lo kaget banget ya," ucapnya datar, sedatar air mukanya saat ini. Terkadang aku merasa melihat ketulusan dari sepasang mata Malik saat menatapku walaupun ekspresinya tidak mendukung---seperti saat ini. Namun aku tak berani memercayainya. Aku takut aku hanya terlalu berharap sampai melihat dan merasakan yang bukan-bukan.

"Iya. Tiba-tiba muka lo ada di samping gue. Dekat banget lagi." Aku tertawa meringis dan kembali berjalan. Yang diikuti juga oleh Malik yang berada di sampingku.

"Lo ngapain di sini?" Mendengar pertanyaannya mataku langsung memperhatikan sekeliling. Sepertinya aku berjalan cukup jauh. Tempat ini hanya jalanan kecil yang cukup padat dan ramai. Di kanan dan kiri penuh toko-toko dan kedai kecil yang telah tutup atau buka sepanjang malam. Lagi pula Malik tidak tahu tempat tinggalku yang sekarang.

"Cuma mau nyari angin segar aja. Gak sadar juga udah sampe sini." Aku tak berani menatap matanya. Ini pembicaraan pertama kami sejak pertengkaran waktu itu. Aku takut dia membahas novel lagi dan kami bertengkar seperti waktu itu. Padahal sudah lama kami tidak bertemu. Aku ingin semua percakapan yang terjadi adalah normal. Aku tak minta lebih. Aku tak minta dia mendadak bersikap manis. Hanya normal. Kumohon.

"Novel lo..."

Ah, sial. Walau sudah menduga tetap saja terasa sakit. Dia tak punya pertanyaan lain untukku selain yang berkaitan dengan pekerjaan. Apa baginya aku tidak lebih dari rekan kerja. Apa Malik bahkan menganggapku teman?

"Bisa bicarain lain kali gak? Gue benar-benar gak mood hari ini." Kutahan agar suaraku tidak terdengar bergetar. Aku harus bersikap wajar. Jangan terlalu sedih untuk hal sepele begini.

"Ya, kalau itu mau lo. Tapi jangan lupa. Ini tinggal seminggu lagi."

Aku mengembuskan napas menahan amarah. Bukannya takdir itu lucu. Dari sekian banyak, orang entah karena alasan apa, Tuhan membuatku menyukai laki-laki dingin di sampingku ini. Orang yang duu selalu kupikirkan siang dan malam, yang selalu kukhawatirkan kalau dia tak membalas pesan saat aku tak tahu dia ada di mana, orang yang kutunggu-tunggu panggilannya setiap malam walau kutahu dia tak akan menghubungi. Kenapa aku tak jatuh hati pada salah seorang yang menyukaiku saja. Bukankah itu akan lebih mudah dan adil bagi kedua pihak. Kadang aku tergelitik ingin bertanya padanya, apakah dia risi dengan kehadiranku. Namun aku tak pernah berani menanyakannya. Aku takut patah hati lagi. Nanti saat aku merasa sudah saatnya untuk berhenti, aku mungkin akan bertanya padanya. Kukira rasa sakit dari jawabannya mungkin bisa membantu menyadarkanku. Kalau sih. Sebab aku sudah pernah ditolak---jawabannya memang samar-samar tapi jelas dia tak mau punya hubungan khusus denganku. Namun nyatanya aku masih begini saja sampai sekarang.

LADY MAIDTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang