Gara-gara perkara novel panas, Cenora menjadi pembantu rumah tangga.
Lah, bagaimana bisa? Cenora yang tersohor itu kan anak konglomerat yang menjadi kiblat sosialita muda.
Alasan pertama, Cenora belum mau menikah.
Kedua, ada laki-laki gila yang ngeb...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Sumber: Pinterest
____________________________________
"Aksa!"
"Lestari?" ucap Aksara membuatku kaget.
Tak hanya cantik dan bergaun indah, tubuh wanita itu pun sangat berlekuk. Menonjolkan dua bagian yang pastinya diinginkan banyak wanita.
Dan perempuan itu adalah Lestari. Orang yang kini memeluk tunanganku erat.
Di depan mataku.
Belum sempat aku merealisasikan keinginan untuk menarik rambutnya pelukan mereka berdua melonggar. Kulihat Aksara menjauhkan wanita itu dari tubuhnya.
"Akhirnya kita ketemu lagi. Aku senang banget," ucapnya kegirangan. Senyum indahnya membuat kedua matanya menyipit.
"Iya. Tapi... kamu banyak banget berubah ya. Aku hampir gak ngenalin kamu tadi."
Wanita itu masih tersenyum secerah matahari pagi pada tunangan orang lain. "Harus dong. Aku capek dikira cowok terus sama orang-orang. Dan... dianggap teman cowok terus sama seseorang."
Aku menaruh atensi khusus pada kalimat terakhir wanita itu.
Apa maksudnya coba?
Lalu Aksara melihatku, yang otomatis membuat wanita itu melihatku juga.
Tangan Aksara melingkari pinggangku. "Oh ya, aku gak tau kamu udah dengar kabar ini atau belum. Tapi aku udah tunangan sekarang." Aksara tersenyum lembut melihatku. Lalu berkata, "Ini, Cenora, tunanganku."
Dia hanya melirikku sekilas lalu kembali pada Aksara. "Ternyata benar kamu udah tunangan. Aku masih gak percaya kamu bisa ngelamar perempuan. Dulu kan kamu anti banget sama cewek."
"Aku gak anti sama cewek."
Lestari tersenyum lucu. "Iya deh." Lalu dia beralih padaku. "Hai, Cenora. Aku Lestari." Dia mengulurkan tangannya padaku, yang langsung kusambut ramah. "Hai juga. Kamu temannya Mas Aksara?"
Panggilan itu sudah final kan? Sekarang dia adalah Mas-ku. Jadi harus kupanggil begitu di depan orang lain. Masa CALON ISTRI manggilnya gak sopan.
Ada sedikit perubahan ekspresi di wajah Lestari. Namun tak bertahan lama. "Iya, kami teman dari zaman kuliah."
Aku hanya meng-oh-kan kata-kata wanita itu.
Selanjutnya mengetahui banyak hal tentang wanita itu ternyata tak berefek baik untukku.
"Kayaknya lebih bagus ditaruh di wadah yang itu deh, Mbak. Ukurannya lebih pas. Yang satu itu kebesaran. Lebih bagus kalau kita taruh yang itu di sana."
Dia... wanita yang sangat cekatan. Dia tahu banyak hal tentang menyiapkan arisan ataupun pesta.
"Mbak punya item yang ini. Memang susah banget buat didapat. Mbak dapatnya--"