"Kalau gitu gue pulang dulu." Mila, instruktur pilates aku dan Heidi, pamit selepas mengganti pakaian.
"Iya. Thanks, ya, Mil."
Aku dan Heidi memutuskan duduk-duduk sebentar di atas matras. Ruangan yang kami tempati sekarang adalah kamar yang sengaja disulap Heidi untuk berolahraga di apartemennya.
"Jadi benar dia gak ngelapor polisi?" Aku duduk dengan meluruskan kakiku. Di depanku Heidi yang baru meneguk infused water-nya menggeleng.
"Dia manusia anti-ribet emang. Setelah tahu gak ada yang hilang mungkin dia malas lapor polisi. Lagian gue udah ngurus kamera CCTV di sana. Di rumah Bang Aksa dan di sekitarnya. Bersih. Tenang aja. Kita kan banyak koneksi gini."
Kata banyak koneksi itu dilebih-lebihkan. Namun aneh juga Aksara tidak berniat memburu orang yang menghancurkan masa depannya. Kalau begitu kurasa masa depannya itu tidak hancur.
"Lagian lo bilang kan dia ngira lo maling semp*k. Mungkin dia malu ngelapor buat hal kayak gitu."
Aku ragu dia benar-benar mengira aku mau mengambil c*l*na d*l*mnya. Walau memang ada banyak orang mesum sih di dunia ini.
Kutegak minumanku dan mendengarkan Heidi berbicara. "Kalau gitu kita butuh rencana berikutnya."
Syukurlah aku tidak tersedak mendengar Heidi dan rencana berikutnya. "Apa lagi rencana lo kali ini?" Aku memicing curiga.
"Lo jadi asisten rumah tangga Bang Aksa."
Sekarang kuharap mulutku masih penuh dengan air minum dan bisa menyembur wajah Heidi dengan dramatis.
"Lo mau gue jadi pembantu di rumah Aksara?"
Dia mengangguk santai. "Gini, Ra, Bi Lilis mau pulang kampung. Anak perempuannya baru aja lahiran. Bang Aksa lagi nyari pembantu baru. Gak permanen kok. Cuma gantiin doang. Pas Bi Lilis balik lagi bulan depan lo bisa keluar."
"Mana bisa gue jadi pembantu sebulan."
Heidi melihatku seolah aku manusia paling bodoh sedunia. "Begitu lo dapat naskahnya ya lo berhenti lah. Bilang gak tahan kek. Bilang nyokap lo sakit kek. Lakuin itu sampai lo dapat naskahnya aja."
Hmm... dipikir-pikir boleh juga. Aku tak yakin masih punya keberuntungan untuk tidak tertangkap lagi. Jika jadi pembantunya, aku lebih leluasa menyusuri rumah Aksara tanpa dicurigai. Sudah terlanjur terciprat, mending basah saja sekalian. Namun ada satu masalah. "Sejak dari embrio gue gak pernah megang sapu, Di. Kita sefrekuensi."
"Enak aja. Pas kuliah hidup gue gak semewah elo yang tuan putri. Gue ngurus kebutuhan gue sendiri. Gak kayak elo yang tiap hari pembantu datang ke apartemen lo buat nyiapin semua keperluan. Bahkan sampe punya asisten pribadi yang ngikutin elo ke mana pun lo pergi."
Aku tak bisa mengelak. Sedari kecil aku memang hidup seperti tuan putri. Hidupku terlampau mudah, semua sudah disediakan. Bahkan hal kecil yang seharusnya kulakukan pun seringkali orang lain yang melakukan. Sampai SMA saja aku masih dibangunkan oleh pengasuh. Makanan dibawa ke kamarku dan terkadang mereka menyulangiku. Usiaku tujuh belas tahun saat itu.
"Bi Lilis baru keluar satu minggu lagi. Selama itu lo bisa latihan dulu. Kursus jadi pembokat atau apa kek. Anggap juga ini sebagai cari pengalaman. Gue bukannya doain yang jelek-jelek, tapi lo gak tahu hidup bakal membawa lo jadi kayak gimana. Sampai kapan memangnya lo bisa hidup kayak tuan putri. Kalau seketika hidup lo berubah, seenggaknya lo bisa ngelakuin hal-hal dasar kayak beberes rumah."
Aku sebal karena Heidi benar. "Lagak lo udah kayak orang benar. Udah gak buka aliran sesat lagi lo?"
"Yeee... dibilangin juga. Mau gak lo?"
"Ya udah," putusku. "Ep..." Aku melupakan satu hal.
"Apaan?"
"Aksara kan tahu muka gue. Gak lucu dong kalau gue yang jadi pembantunya." Mendadak aku mendapat sebuah ide brilian. "Kita sewa orang aja. Atau kenapa gak Bi Lilis aja. Selagi dia belum keluar."
"Pertama, Nora Sayang, gue gak percaya sama orang lain. Begitu orang itu nemu naskah lo, kemungkinan dia bakal liat apa isinya. Alhasil ada orang lain lagi yang tahu rahasia lo. Kedua, Bi Lilis orang yang loyal ke Bang Aksa. Terlalu loyal dan terlalu jujur juga. Ketiga, ya gak mungkin lah lo jadi pembantu dengan penampilan kayak gini. Ada banyak rambut palsu say. Make-up. Dan baju rombeng-rombeng yang bisa lo pakai. Lo gak tahu kekuatan make-up? Benda keramat itu bisa ngubah muka lo jadi orang lain. Lo serahkan aja ke gue."
Kalau dikaji ulang Aksara baru dua kali bertemu denganku. Pertama saat kencan buta waktu itu. Itu pun tak sampai lima belas menit kurasa. Kedua adalah saat aku dituduh maling c*l*na d*l*m. Yang kuyakin dia tak tahu kalau itu aku. Baiklah, coba saja dulu.
***
Seminggu kemudian...
Kini aku duduk di ruang tamu Aksara dengan Bi Lilis di sebelahku. Sedang Aksara duduk dengan agung di single sofa di kanan kami.
"Jadi siapa nama kamu?"
"Inem, Tuan."
Dia menatapku aneh. "Gak perlu manggil tuan. Saya ngerasa memperbudak kamu jadinya."
Bi Lilis menyenggol lenganku. "Panggil Mas Aksa aja, Nem."
Nem, oh, Inem. Nama pembantu universal itu, yang kami sepakati setelah dua jam berdebat antara Inem, Ijem, Ijah, Surti, dll.
"Iya, Bi." Aku mengangguk takjim. Seperti pembantu bersahaja dari kampung. "Nama saya Inem, Mas Aksa."
Aksara mengetuk-ngetukkan telunjuknya di lengan sofa. Memperhatikanku yang kembang-kempis ini dari atas ke bawah. Dengan kemampuan make over-nya, Heidi memasangkan daster buluk ke tubuhku. Kulitku pun dibaluri bedak yang jauh lebih gelap dari warna asli kulitku. Kepalaku dipasangi rambut palsu kribo di atas bahu. Mataku dilindungi kacamata sebesar pantat botol kecap yang kacanya kusam dan tergores-gores. Sebagai pemanis aku punya tahi lalat besar di ujung hidung. Awalnya kami juga sempat berdebat masalah gigi tonggos dan tompel khas pembantu palsu di sinetron. Tapi aku menolak. Aku sudah cukup dipermalukan dengan semua itu. Lalu tentu saja wajahku dibaluri make-up yang membuatku tampak seperti orang lain. Bibirku tampak hitam. Alisku yang indah dibuat terlalu tipis menukik. Mataku yang atraktif dibuat sesayu mungkin. Sebagai tambahan, Heidi menyuruhku selalu menunduk setiap di dekat Aksara. Jaga-jaga untuk tidak ketahuan.
Setelah semua proses menyiksa itu, sempat ketahuan, habislah sudah.
"Apa... kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Ha?" Refleks aku mendongak. "Be-bertemu gi-gimana?" Tolong aku bukan Ajis Gagap. Aku tak perlu kemampuan terbata ini.
Aksara semakin dalam menatap mataku. Terima kasih untuk kemampuanku menahan buang air kecil. Jika tidak, ruangan ini mungkin sudah bau pesing sekarang.
"Saya ngerasa muka kamu ini pernah saya lihat di mana gitu?"
Aku megap-megap di tempatku duduk. "Ga-ga-gak mungkin, Mas. Saya ba-baru datang ke Jakarta. Sa-saya selama ini di kampung terus."
"Oh, gitu."
"I-iya, Mas. Ke kampung sebelah sa-saja saya masih suka kebingungan. Apalagi Jakarta. Ga-gak mungkin."
"Mungkin memang begitu. Jadi di mana kampung kamu?"
Ya Gusti... Aku kekurangan amunisi. Heidi tak membekaliku dengan yang satu ini. "Di..."
Nama kampung... ayo dong nama kampung. "Su-sukarame." Plis, jangan tanya di mana.
"Di mana?"
Hah... Dah lah. "Di..."
Dering ponsel mengalihkan perhatian kami bertiga. Aku bersyukur lahir batin melihat ponsel itu milik Aksara. "Ya udah, Inem, Bi Lilis pasti sudah menjelaskan semuanya. Semoga kamu betah kerja di sini."
"Ya, Mas."
Sudah jelas aku sama sekali tidak akan betah.
***
Cerita gaje meluncur dengan mulus.
Sincerely,
Dark Peppermint
KAMU SEDANG MEMBACA
LADY MAID
Romanzi rosa / ChickLitGara-gara perkara novel panas, Cenora menjadi pembantu rumah tangga. Lah, bagaimana bisa? Cenora yang tersohor itu kan anak konglomerat yang menjadi kiblat sosialita muda. Alasan pertama, Cenora belum mau menikah. Kedua, ada laki-laki gila yang ngeb...
