Jangan lupa vote dan komen :)
terimakasih 1k pembacanya!
•••
Sesuai kesepakatan awal. Jungwon datang ke kantin ketika jam tangannya menunjukkan pukul dua siang lebih, hampir pukul tiga sore. Tentu saja dia tidak ingin Heeseung semakin marah padanya setelah insiden kemarin. Dia mengambil tempat duduk di kursi pojok dan meletakkan tasnya di atas meja.
Tak lama, Heeseung pun datang. Dia duduk sambil melirik gerbang masuk yang jaraknya lumayan jauh, tapi masih bisa terlihat walau kabur-kaburan.
"Aku minta maaf kalau aku salah." Jungwon memulai. Tidak perduli siapa yang sebenarnya patut disalahkan, tetapi pasti dia yang lebih dulu meminta maaf.
"Lo tau nggak, kalo gue cinta banget sama lo? Gue ngelakuin itu ke Sunghoon, karena dia udah seenaknya cium pacar gue!"
Kebohongan yang pertama. Heeseung bilang sangat mencintai Jungwon, tapi kenyataannya?
"Apa?" Jungwon tergagap. Dia tidak mengetahui apapun soal ini, dimana dan kapan hal itu terjadi?
"Kemarin lusa, saat gue ajak lo ke bar, inget?" Jungwon mengangguk pelan.
"Lo mabok, mana sadar di grepein sama itu bajingan. Makanya gue marah banget waktu tau ini, Won." Heeseung meraih tangan Jungwon yang ada di atas meja, dan menautkan jari-jari mereka.
Heeseung melihat kedatangan sebuah mobil keluaran terbaru yang masuk dalam area gedung fakultasnya. Heeseung mengenali mobil itu, mobil yang sama seperti yang dikendarai oleh si Jayden kemarin.
"Ayo ikut gue." Heeseung menarik Jungwon keluar dari kantin.
"Lo liat cowok itu? Nah, tugas lo deketin dia terus bikin dia cinta mati sama lo." Heeseung menunjuk si lelaki yang sedang berjalan di koridor sebrang.
"Hah? Aku nggak ngerti maksud kamu." Jungwon melepas tautan tangan keduanya dan menatap Heeseung penuh tanya.
"Gini, gue berniat pengen bantu lo keluar dari masa-masa sulit. Bokap lo mati ninggalin banyak utang, 'kan? Kalo lo nikah sama dia, jangankan utang, ini kampus aja bisa lo beli kalo mau."
Kebohongan yang kedua. Heeseung berkata niatnya ingin membantu Jungwon. Sungguh picik pemikiran lelaki ini, Heeseung berhasil setidaknya mengetuk sedikit hati Jungwon untuk berpikir lebih jauh terhadap kelangsungan hidupnya.
"Kamu berfikir sejauh ini? Aku bisa selesain masalahku sendiri, Sa. Kamu nggak perlu sampe nyuruh aku dekat sama orang lain," tolak Jungwon.
"Tapi Jungwon--"
"Cukup kamu!" sergah Jungwon. "Cukup kamu di samping aku aja itu udah lebih dari cukup, Sa."
Hening. Heeseung bergeming ketika Jungwon mengatakan satu hal yang membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Sebegitu dalamnya dia mencintai Heeseung? Padahal lelaki itu hanya berniat main-main dan memanfaatkan Jungwon untuk kepentingan pribadinya.
"Jungwon, gue nggak tau mau ngomong apalagi. Tapi, apa lo yakin bisa? Lo mau cari duit ratusan juta kemana, Won? Emangnya kerja part time cukup buat lunasin utang keluarga lo?"
Heeseung memperkuat alibinya dengan kata-kata manipulatif. Dari mimik wajahnya, Heeseung menyimpulkan kalau Jungwon sudah mulai terpengaruh oleh perkataannya.
Benar. Jungwon seharusnya lebih memikirkan kesanggupannya dalam membantu perekonomian keluarga. Kerja paruh waktunya saja hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-harinya. Sedangkan ibunya harus bekerja keras untuk menutupi hutang yang ditinggalkan ayahnya, serta membiayai kuliahnya.
"Kenapa harus dia?" tanya Jungwon lirih. Dia mengambil jalan yang salah untuk mengakhiri penderitaan keluarganya.
"Karena bentar lagi dia mati, orangnya penyakitan. Lo bisa kuras semua hartanya pas dia udah tergila-gila sama pesona lo." Heeseung tersenyum bangga setelah mengatakan hal tersebut.
Jungwon melotot dan membuka sedikit mulutnya karena terkejut. Dia sampai mundur selangkah ke belakang dan menatap Heeseung tidak percaya. Bagaimana bisa Heeseung menyuruhnya untuk menikahi seseorang yang sedang bersusah payah melawan penyakitnya? Apa itu tidak sangat keterlaluan?
"Apa itu nggak keterlaluan, Sa?"
"Nggak, lah. Secara lo juga nanti bakal nolongin dia, ngasih dia sedikit kebahagiaan di sisa-sisa umurnya yang harusnya diisi kesepian. Jadi, menurut gue itu wajar kalo lo bisa ambil benefit dari dia. Apalagi kalo sampe lo nikah, pasti kehidupan lo berubah drastis, Won."
Kebohongan ketiga.
"Hesa, aku nggak mau nikah sama dia." Putus Jungwon final. Baginya, menikah hanya untuk satu kali dan dilangsungkan seumur hidup. Pernikahan tidak bisa dianggap mainan, apalagi guyonan. Sebuah komitmen pada Tuhan untuk terus bersama dalam susah maupun senang, sehat ataupun sakit.
"Yaudah, lo coba aja dulu deketin. Siapa tau nanti berubah fikiran." Heeseung mengendikan bahu dan kembali menyeret Jungwon ke meja kantin.
Jungwon mengambil tasnya di atas meja dan mengambil ponselnya. Heeseung menahan pergerakan Jungwon dan memojokan pemuda itu ke dinding di belakangnya.
"Sa, kamu--"
"Jungwon, lo cinta sama gue, 'kan? Lo bakal lakuin apapun buat gue.. Sesuai yang lo bilang waktu confess."
"Tapi–"
"Oh, jadi lo nggak mau ikutin rencana gue? Mana, katanya cinta? Apa jangan-jangan lo cuma manfaatin gue?"
Manipulatif. Itulah yang sedari tadi Heeseung ingin utarakan agar Jungwon merasa bersalah padanya.
"Iya.."
"Apa? Coba yang kenceng, jangan letoy jadi cowok," pancing Heeseung.
"Iya, aku mau ikutin rencana kamu." Jungwon mengulang dengan nada lebih keras dari sebelumnya.
Heeseung tersenyum puas dan menggerakkan satu tangannya untuk menahan tengkuk Jungwon, mengarahkan bibir keduanya agar bertemu dan saling menyalurkan rasa yang berbeda. Heeseung semakin memperdalam ciumannya dengan membelitkan lidah mereka. Jungwon pun membalas dengan mengalungkan tangannya ke leher sang dominan dan mengimbangi gerakan lidah Heeseung.
"Namanya Jayden Ari Dineschara." Heeseung memutus ciuman mereka, lalu menyandarkan keningnya pada dahi Jungwon. Suaranya mengantarkan kata-kata itu dengan baik.
"Mulai besok, kita jalanin rencana ini," tambahnya, yang hanya dibalas dengan anggukan lemah dari Jungwon.
"Gue cinta banget sama lo, Won. Itu hal yang harus lo inget sampai kapanpun."
Lagi, kebohongan keempat. Rasanya Heeseung terlalu banyak berbohong dan memanipulasi pemikiran Jungwon dengan begitu mudah. Tapi, bisa saja jika perkataannya akan menjadi boomerang di masa yang akan datang. Semacam karma, mungkin?
•••
Permisi, ada pengumuman sedikit.
Aku udah ganti judul cerita ini, yang tadinya 'bittersweet marriage' jadi 'lengkara'
Alasannya, karena aku gamau judul cerita jaywon di akun ini punya kemiripan sama cerita lain, dan juga aku rasa judul ini lebih nyambung sama isi cerita. Maaf kalau buat kalian kurang nyaman ^^
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
