Dikit lagi 50 chapter ehehe.
•••
Jungwon duduk di atas kursi putar Jay, dia memainkannya seperti sedang menaiki troli dengan meluncur kesana-kemari. Jay hanya memperhatikan tingkah laku istrinya itu dari sofa seraya tersenyum penuh arti.
"Dek?"
Jungwon menoleh, dia meluncurkan kursi putar itu sampai berhenti tepat di hadapan Jay. "Kenapa, Kak?"
"Aku ada meeting, kamu tunggu di sini sebentar, ya?"
"Aku mau keliling kantor, boleh?"
Jay mengangguk. Dia berdiri dan mengusap rambut Jungwon sayang. "Tentu, kenapa nggak boleh? Kamu bebas kemanapun di gedung ini."
Jungwon ikut berdiri dari kursinya, dia merapihkan jas serta dasi Jay dengan tangan lentiknya. "Nah, udah rapih. Sana pergi meeting."
Jay menggigit pipi bagian dalamnya, kemudian menurunkan wajahnya dan mengecup serta melumat bibir Jungwon sebentar.
"Kalau ada apa-apa langsung kabarin aku, ya?"
"Siap, aku selalu bawa hape kok."
Jay mengelus pipi Jungwon, lalu berjalan keluar dari ruangannya dan menghilang dibalik pintu yang kembali tertutup. Jungwon merebahkan tubuhnya di atas sofa sambil memandangi barang-barang yang ada di sekelilingnya.
Dia menatap sebuah map tebal di atas meja, langsung saja dia beranjak dari tidurnya untuk mengambil map itu. Tangannya membalik tiap lembaran kertas yang ada di dalamnya. Semuanya normal, ini hanyalah beberapa arsip perusahaan.
"Amplop apa ini?"
Jungwon mengambil selembar amplop yang terselip di salah satu halaman. Tidak ada keterangan apapun di amplop itu, mengintip sedikit isinya tidak apa-apa kan? Dia sangat penasaran.
"Surat pernyataan ketersediaan pendonor untuk Tn. Jayden dalam praktek transplantasi tulang sumsum yang dilaksanakan ... Di Singapura."
•••
Jungwon sudah menunggu di dalam ruangan Jay kurang lebih satu jam. Bosan juga hanya mengacak-acak seisi ruangan dan bermain ponselnya saja. Dia memutuskan untuk keluar dan melihat-lihat sekitar, siapa tau ada hal menarik yang bisa dia lakukan.
Menyamar jadi pegawai, mungkin?
Lagipula hanya sedikit pegawai yang melihatnya bersama Jay, dan kemungkinan besar mereka akan menganggap dirinya sebagai adik ataupun saudara dari Jay. Mana mungkin mereka percaya jika dia adalah istri dari bos besar mereka? Yang ada Jungwon akan dianggap orang gila.
"Tolong pisahin semua berkas ini sesuai tanggalnya."
"Tapi ini bukan bagian saya—"
"Kamu itu pegawai baru di sini, jangan banyak ngebantah!"
Sayup-sayup terdengar sebuah perdebatan kecil antara dua orang wanita dari divisi keuangan. Jungwon menghampiri mereka berdua dengan satu tangannya yang dimasukan ke dalam saku celana.
"Kenapa ini?"
Salah satu wanita yang sedang berdiri mendelik tak suka ke arah Jungwon. Siapa sih yang menganggu area kekuasaannya? Dilihat dari penampilannya mirip seperti anak sekolah menengah atas.
"Kamu mau magang di sini? Udah di acc belum?"
Oh.. Pegawai magang, ya? Kalau begitu, Jungwon akan mengikuti alur mainnya dan mendalami perannya sebagai pegawai magang dengan baik. Pasti tadi dari divisi ini tidak ada yang melihatnya berjalan dengan Jay.
"Udah, kenapa tanya-tanya? Emangnya kamu bosnya?"
"Kurang ajar!"
Bukannya takut, Jungwon justru tersenyum-senyum seperti orang bodoh. Dia ingin menertawai ucapan wanita itu, dandannya menor sekali sehingga umurnya kelihatan lebih tua!
"Oh, terus?" tanggap Jungwon sekenanya, yang mana membut wanita itu geram bukan main. Beraninya seorang bocah bersikap seperti ini padanya!
Office boy yang tadi pagi bertemu dengan Jungwon di depan pintu masuk terlihat heran karena melihat Jungwon ada di tempat divisi keuangan. Untuk apa istri dari seorang direktur beradu argumen dengan pegawai biasa?
Jungwon melihat bapak itu dan mengisyaratkan agar diam dengan menaruh jari telunjuknya di depan bibir. Dia ingin tahu saja apa yang dilakukan para pegawai saat Jay tidak memantau pekerjaan mereka.
Jungwon memutar pandangannya ke segala penjuru ruang. Ada wanita yang tengah bersolek, ada juga yang sibuk mengobrol dengan rekan sebelah. Suasananya tidak kondusif.
Dia berjalan mendekati wanita yang katanya adalah pegawai baru, kemudian mengambil alih setumpuk berkas yang belum disentuh sama sekali. Jungwon menyodorkan itu pada si 'Tante' dengan senyuman lebar.
"Ini kan kerjaannya tante, jadi harusnya bukan dia yang kerjain."
"Baru pegawai magang aja udah belagu kamu, ya!" hardik wanita itu menunjuk-nunjuk wajah Jungwon.
Pegawai lain langsung menempatkan perhatian pada Jungwon. Mereka saling berbisik membicarakan Jungwon yang datang tak diundang dan merusuh ke divisi keuangan.
"Emangnya kamu siapa? Jangan main-main. Saya bisa aja keluarin kamu dari sini."
"Masa, sih?" Jungwon melipat tangannya di depan dada, satu alisnya naik pertanda menantang ucapan wanita itu.
Wanita itu sudah mengambil ancang-ancang untuk menimpuk Jungwon menggunakan map tebal di tangannya. Tapi, sebelum sempat map itu mendarat di wajah Jungwon, seseorang menahan pergelangannya erat.
"Jangan macam-macam. Dia itu istri dari Pak Direktur."
Wanita yang tadi mendapat ketidakadilan dari seniornya menjatuhkan rahang. Apa katanya? Jadi yang menolongnya barusan itu adalah istri dari pemilik perusahaan ini?
"Jangan bercanda, Pak."
"Saya serius."
"Nggak mungkin—"
"Itu mungkin." Jay tiba-tiba menyela perkataan pegawainya itu. Dia berdiri di samping Jungwon dan merengkuh pinggang yang lebih muda dengan erat, bahkan cenderung posesif.
"Namanya Jungwon, istri saya."
Jay memperkenalkan Jungwon sebagai istrinya secara tiba-tiba. Tak ada angin, tak ada hujan, rasanya ini terlalu dadakan untuk dicerna otak mereka.
Ucapan Jay barusan membuat suasana menjadi hening dan senyap selama beberapa saat. Ketegangan melingkupi tiap-tiap insan yang mematung dan saling memandang satu sama lain.
"Dan untuk kamu ... Maaf, kamu saya berhentikan secara tidak hormat."
•••
Sudah go public ... Tebak ending ayo, udah banyak clue-nya tau. Payah kalau masih nggak peka juga :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
