Vote dan komen.
•••
Minggu-minggu pertama kepergian Jay amat sangat menyiksa bagi Jungwon. Tak ada lagi seseorang yang menggangu tidurnya di pagi hari, dan tak ada lagi yang selalu menanyakan kabarnya tiap satu jam sekali. Bohong kalau Jungwon bilang dia tidak kesepian. Nyatanya peran lelaki itu sudah berhasil mengetuk bagian lain dalam hatinya. Lewat segala perhatian kecil yang Jay lakukan, Jungwon akui. Dia telah jatuh, pada dua orang yang berbeda.
Saat Jay ada, mungkin Jungwon agak kesal dengan tingkah lelaki itu yang begitu manja dan posesif padanya. Tapi, saat semua itu hilang.. Jungwon seperti merasakan sesuatu yang ikut pergi.
"Sarapannya dimakan dulu, Den."
Sekarang adalah hari ke-tujuh belas Jungwon sarapan hanya bersama Bi Astri di meja makan. Diam-diam Jungwon melirik kursi di sampingnya, yang biasa diduduki oleh Jay.
"Buka mulutnya.."
Jay mengangkat sesendok nasi dan lauk yang sudah ia masak untuk Jungwon. Maka, tanpa harus disuruh dua kali Jungwon membuka mulutnya lebar agar Jay bisa menyuapkan makanan itu.
Jungwon mengunyah suapan pertama itu dengan lamban karena ingin membuat Jay menunggu cemas apa pendapatnya tentang rasa masakan lelaki itu. Saat selesai mengunyah, Jungwon tersenyum-senyum sambil memandangi Jay.
"Enak?" Jay bertanya.
"Nggak."
Jay menatap Jungwon sedih, lalu menyuapkan makanan itu ke mulutnya sendiri. Tidak ada yang aneh, rasanya sangat enak. Lalu, kenapa Jungwon berkata masakannya tidak enak?
"Nggak diragukan lagi, hehe. Masakan Kakak enak banget!" lanjut Jungwon sambil menunjukkan cengiran lebar.
"Nanti ajarin Jungwon, ya, Kak. Supaya Jungwon bisa masak makanan sehat buat Kak Jay," kata Jungwon, yang dibalas anggukan dan kecupan singkat di pipinya.
"Den?"
Jungwon mengerjapkan matanya dan menoleh ke arah Bi Astri yang duduk bersebrangan dengan dirinya. Astaga, dia menjadi larut dalam kilasan momen di meja makan ini.
"Jangan terlalu dibawa pikiran, nggak bagus untuk kesehatan Den Jungwon."
Jungwon mengangguk lemah, lalu mulai memakan sarapannya pagi ini tidak berselera. Akhir-akhir ini nafsu makannya turun drastis, Jungwon juga sering melupakan vitamin dan susu yang biasa diingatkan Jay setiap harinya.
"Kak Jay sama Mama Yoon masih lama pulangnya, ya?" tanya Jungwon lirih.
"Harus banyak-banyak sabar, Den."
Jungwon menghembuskan nafas penat, lalu menjinjing tas ranselnya di bahu sebelum berdiri dari kursinya. Padahal Jungwon baru saja memakan tiga suap, tapi dia benar-benar tidak berselera untuk menghabiskan sarapan paginya.
"Jungwon berangkat kuliah dulu, ya, Bi."
Bi Astri menahan pergerakan Jungwon dan berjalan menuju dapur, dia kembali membawa sebuah kotak bekal dan memberikannya pada Jungwon agar pemuda itu tetap makan.
"Hati-hati di jalan, Den."
Pagi ini, seperti enam belas hari sebelumnya. Jungwon akan berangkat ke kampus di antar oleh Pak Kirman, supir pribadi keluarga ini yang ditugaskan Jay untuk menjaga Jungwon.
"Pak, berhenti sebentar."
Jungwon menginterupsi keheningan di dalam mobil selama perjalanan menuju gedung universitasnya. Pak Kirman menuruti permintaan Jungwon dengan menepikan mobil yang dikendarainya.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
