16 : Perjanjian

1.5K 230 17
                                        

Vote dan komen.

•••

"Ini kalo bisa nikahnya dipercepat aja, supaya nggak muncul fitnah." Eunha menaruh dua cangkir teh ke atas meja.

"Jay sih ada rencana bulan depan, Bun." Jay tersenyum sambil satu tangannya menggenggam jemari Jungwon.

"Bulan depan boleh juga, nanti Bunda cariin tanggal yang bagus." Eunha menanggapi dengan ramah. Pernikahan itu tidak boleh asal, penentuan hari juga sangat penting bagi sebagian orang.

"Resepsinya mau diadakan berapa hari?" tanya Jay lagi. Dia mengambil cangkir di atas meja dan meminum isinya sampai tersisa sebagian.

"Resepsinya jangan mewah-mewah, kasian anak saya nanti kecapean."

"Kamu udah cari tema buat foto prewedding kalian? Temanya yang simple aja, yang nonjolin kalau anak saya ini imut," pesan Eunha pada Jay.

"Pantai atau taman bunga?" Dua opsi itu yang ditawarkan Jay.

"Jangan pantai, terlalu mainstream. Mending temanya lebih ke kehidupan sehari-hari. Misalnya makan es krim berdua." Dalam benaknya, Eunha membayangkan jika benar prewedding anaknya se-menggemaskan itu.

"Outfitnya colorful gemas gitu, pasti keliatan cocok buat prewedding kalian!" tambahnya antusias.

"Oke, nanti Jay bicarain ini sama Mama. Yang penting dua belah pihak udah setuju untuk pernikahan kami, 'kan?"

"Cih, setuju kepalamu gundul," batin Jungwon muak. Sedari tadi siang hanya diam dan berpura-pura tidak mendengar pembicaraan Jay dan Eunha. Kenapa justru Bundanya terlihat semangat dalam membicarakan pernikahannya dengan Jay? Bukankah kemarin Eunha bersikeras menolak Jay dengan alasan kalau hubungan mereka akan sulit?

Ini semua terlalu aneh, Jungwon ingin menenggelamkan kepala Eunha agar bundanya itu sadar tentang perkataannya dua hari yang lalu.

"Harus banget kalian bicarain ini sekarang?" Akhirnya Jungwon angkat bicara. Posisinya sekarang ada di tengah-tengah Eunha dan Jay yang terus beradu pendapat tentang tanggal pernikahannya.

"Harus, dong! Kita tinggal nentuin harinya aja, tapi pernikahan kalian udah pasti bulan depan," ujar Eunha.

"Tapi ... Apa nggak terlalu cepat?"

"Lebih cepat, lebih baik. Jay udah serius banget sama kamu, Dek."

Jungwon menghela nafas cukup keras. "Kenapa Bunda tiba-tiba jadi begini? Bukannya kemarin lusa Bunda sendiri yang bilang kalau hubungan kami pasti sulit? Bunda aneh."

Eunha tersenyum lembut pada Jungwon. "Itu kan kemarin, kalo sekarang Bunda udah dapat pencerahan dari calon besan. Buat apa Bunda larang kalian menikah, kalau kalian digariskan berdua?"

Jungwon melepas pegangan tangan Jay dan beranjak dari duduknya. "Jungwon capek, mau istirahat. Kalian lanjut ngobrol aja berdua, permisi."

"Jungwon!" Eunha memanggil Jungwon yang terus berjalan dan masuk ke dalam kamar.

"Biarin aja, Bun. Mungkin Jungwon beneran capek habis kuliah." Jay menjadi penengah yang baik dalam argumentasi antar anggota keluarga tersebut.

"Maafin Jungwon, ya. Bunda jadi nggak enak sama kamu."

Jay menggeleng, dia tidak merasa keberatan dengan reaksi Jungwon. Pasti pemuda itu sangat terkejut dengan berita pernikahan ini, sehingga bingung ingin menjawab apa.

"Kamu ke kamar Jungwon sana. Omongin semuanya dari hati ke hati, jangan utamakan emosi atau ego. Dan, yang paling penting.. Jangan macam-macam!" Eunha menegaskan kata-kata terakhirnya.

Jay mengangguk dan bergegas menyusul Jungwon ke kamarnya. "Jungwon, ini Kak Jay."

Tidak ada sahutan dari dalam, Jay berinisiatif untuk memutar knop pintu dan membukanya dengan perlahan. Saat dirinya sudah masuk ke kamar Jungwon, bisa dia lihat jika pemuda itu tengah memainkan ponsel di atas ranjang.

"Kak, kamu nggak naruh alat penyadap di hape ini, 'kan?"

"Nggak. Lagian kamu kok tanya begitu? Emangnya ada yang bakal kamu sembunyiin dalam hape itu?" tanya Jay balik. Dia duduk di tepian ranjang Jungwon.

Jungwon menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang dan duduk menghadap Jay. Dia menaruh ponselnya atas meja agar pembicaraan mereka tidak terhalang oleh apapun.

"Kak, kamu beneran serius sama aku?" Pertanyaan bodoh macam apa itu? Baiklah, mari kita masukan pertanyaan tadi pada arsip 'pertanyaan lugu yang tidak perlu.'

"Aku mau nikahin kamu, apa itu kurang serius?"

"Berhenti tanya balik, Kak." Jungwon mengubah mimik wajahnya menjadi sangat serius.

"Dek, aku beneran serius sama kamu ... Jadi, aku harap kamu nggak keberatan kalau kita segera menikah." Jay menatap Jungwon dalam, tangannya menggengam jemari yang lebih muda lembut.

"Tapi, Kak ... Pernikahan itu bukan hanya sebatas serius aja. Kita harus siap fisik dan mental, kita nggak bisa cuma maksain keinginan satu orang." Jungwon balas menatap mata Jay, mereka bersitatap sesaat.

"Aku tau, tapi aku janji akan buat kamu jatuh cinta sama aku secepatnya. Pernikahan ini nggak hanya dijalanin oleh aku, tapi sama kamu juga. Kita bisa lewatin semuanya bareng-bareng, Dek." Jay tetap teguh pada pendiriannya, dia meyakinkan Jungwon dengan kata-kata manis.

"Aku mau kita buat perjanjian." Jungwon menginterupsi keheningan yang ikut bergabung di antara mereka.

"Apa itu?" Jay mulai tertarik dengan ucapan Jungwon.

"Kita menikah, aku lakuin kewajiban aku sebagai istri untuk nemenin kamu dan rawat kamu selama sakit. Tapi.. "

"Tapi?" Jay mengulang.

"Tapi, Kakak nggak boleh ikut campur urusan pribadi aku, maupun sebaliknya. Aku nggak mau hubungan kita diketahui khalayak luas, cukup keluarga dan teman dekat kita aja yang tau. Setuju?"

"Mana bisa begitu, Dek. Keluargaku itu banyak disorot media ... Gimana bisa kita nyembunyiin pernikahan ini?"

"Terserah, aku nggak perduli gimana caranya Kakak lakuin itu semua." Jungwon tampak tidak perduli.

"Aku nggak bisa janji." Jay berujar pasrah.

"Aku nggak bisa kasih kamu keturunan, Kak," tambah Jungwon pelan.

"Jungwon, stop. Kamu mulai keterlaluan." Jay menyela perkataan Jungwon.

"Kak Jay nggak bisa nurutin permintaan Jungwon, 'kan? Lebih baik kita nggak usah nikah." Jungwon menawarkan opsi lain pada Jay.

"Jungwon!" Jay mulai menaikan nada bicaranya.

"Apa?!"

Jay menstabilkan emosinya karena mengingat perkataan Eunha tadi. Dia berusaha sabar dalam menghadapi perkataan dan segala tingkah Jungwon yang menyurutkan kesabaran.

"Anak adalah titipan Tuhan yang paling berharga, kamu sama sekali nggak berhak bilang begitu!" katanya.

"Aku udah dapat tim wedding organizer untuk pernikahan kita nanti, kamu tinggal duduk manis dan terima beres semuanya," ujar Jay sebelum beranjak pergi dari kamar Jungwon.

Kenyataanya, Jay tidak sebodoh yang Jungwon pikirkan. Lelaki itu bisa melawan dan membantah perkataannya dengan mudah. So, who's the antagonist?

•••

????

a/n: Bulan Maret-April kayanya aku nggak bakal ketemu kalian lagi, eheheh. Aku mau ujian, nggak bisa terus-terusan main-main begini.

Jadi, sebagai hari-hari terakhir di bulan Februari ... Gimana kalo hari ini dan besok aku double update? ^•^

Lengkara ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang