21 : Memiliki [M]

2.9K 218 13
                                        

Warning, mature content!
kalo misalnya kalian nggak suka bagian ini silahkan skip!

•••

"Jungwon," panggil Jay pada Jungwon yang duduk di tepian ranjang.

"Ya?" sahut Jungwon menoleh ke arah Jay dengan satu alis yang dinaikkan.

"Mama minta kirim foto," katanya. "Kita berdua, bukan aku sendiri."

Dengan begitu, Jungwon merangkak mendekat dan menyandarkan kepala ke pundak Jay sebagai formalitas kalau mereka tidak canggung di malam pertama sesudah menikah. "Ayo, foto."

Jay mengarahkan kamera ponselnya pada mereka berdua. Jungwon tersenyum tipis, sedangkan Jay merengkuh pinggang Jungwon dari samping dan menampilkan raut bahagia. Setelah selesai, Jay mengirimkan foto itu pada Yoongi dan menaruh ponselnya di atas meja.

Jungwon masih belum beranjak dari posisinya. Dia bersandar di pundak Jay sambil memainkan ponsel dan melihat beranda sosial medianya yang diisi oleh puluhan notifikasi-- dengan Jay yang ikut-ikutan melihat dari belakang.

It's like a polaroid love~

Bunda.

"Bunda telfon, Kak. Aku jawab dulu, ya?"

Jay mengangguk. Dia sibuk memeluk Jungwon dari belakang dan menggesekkan hidungnya di cekungan leher Jungwon, manis.

Jungwon mengangkat panggilan itu dan men-speaker suaranya agar terdengar juga oleh Jay. "Halo, Bun?" sapa Jungwon.

"Srsh Hai, Dek. Kalian berdua udah sampe hotelnya?" tanya Eunha di panggilan itu.

"Udah, Bun. Sekarang Jungwon--Ah!"

Jungwon mendelik sebal pada Jay yang menggigit lehernya secara tiba-tiba dan dengan tidak merasa bersalahnya justru tertawa seperti orang bodoh.

"Dek? Bunda ganggu, ya?"

Jungwon cepat-cepat menggeleng, kemudian dia tersadar jika mereka tidak sedang melakukan panggilan video. Otomatis Eunha tidak akan bisa melihat wajahnya.

"Nggak kok, Bun. Ini Kak Jay... Kak, kamu mau aku tampar?"

Jungwon sudah mengambil ancang-ancang untuk menampar Jay dengan telapak tangannya. Saat dirinya sedang membalas perkataan Eunha, justru Jay tidak bisa diam dengan sengaja bernafas di lehernya. Bagaimana dia tidak emosi?

"Wah, padahal Bunda sengaja telfon biasa, bukan video. Tapi, kayaknya tetap nggak ngaruh-- ehm, bisa tolong kasih hape kamu ke Jay sebentar?"

Jungwon dengan malas memberikan ponselnya pada Jay, yang dibalas lelaki itu dengan riang. "Ini Jay, Bun. Kenapa?"

"Bunda cuma mau bilang; jangan main kasar sama anak Bunda, ya? Dia masih kecil, belum ngerti apa-apa."

"Bundaaa!" Jungwon mengerang kesal, apa maksudnya 'jangan main kasar sama anak Bunda' Dia itu sudah besar tau, bukan anak kecil yang harus diperlakukan seperti ini!

"Ahahaha, iya Bun," jawab Jay kikuk. Tapi, sebenarnya dalam hati dia senang. Ucapan Eunha barusan terdengar seperti sudah memberikan lampu hijau untuknya memiliki Jungwon secara utuh.

"Oh iya, satu lagi!" Eunha menginterupsi kecanggungan Jungwon dan Jay.

"Nggak usah pake pengaman. Kayaknya Jungwon keliatan lebih gemes kalo kuliah sambil hamil, hehe."

"Bunda--" Jungwon hendak membantah omongan Eunha.

Tut..

Jungwon segera merampas ponselnya di genggaman tangan Jay, dia menaruh ponselnya di atas meja dengan kesal. Bibirnya mengerucut lucu, dan itu mengundang Jay untuk terkekeh.

Lengkara ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang