48 : Pergi

1.6K 197 77
                                        

Salfok judul?

•••

Seminggu setelah insiden amplop coklat waktu itu, Jay benar-benar menjadi sosok yang lain. Lelaki itu lebih sering menghabiskan waktu di kantor sampai malam menjelang, atau paling baiknya mengurung diri di ruang kerja yang ada di rumah ketika pulang.

Jungwon jelas merasakan perbedaan signifikan Jay. Instingnya mengatakan kalau ada hal yang sedang ditutup-tutupi Jay darinya.

Gelas berisi cairan hitam pekat itu dibawa Jungwon dari dapur, dia mengetuk tiga kali pintu kayu di depannya sambil menunggu sahutan dari orang yang ada di dalam.

"Kak, ini Jungwon."

"Ya, masuk!"

Begitu Jay mempersilahkannya masuk, Jungwon lantas membuka pintu itu dan menapaki kakinya perlahan sambil membawa kopi untuk Jay. Jungwon menaruh kopi itu di atas meja, dan beralih pada setumpuk kertas di samping laptop suaminya.

"Jangan terlalu capek, kesehatan Kak Jay yang paling penting."

"Maaf."

"Jungwon nggak butuh kata maaf. Apa kertas itu jauh lebih penting dari Jungwon? Sampai Kak Jay lebih suka habisin waktu bareng mereka?"  sindir Jungwon menusuk.

Jay menggeleng cepat, mengelak tuduhan Jungwon padanya. Dia menarik tangan Jungwon dan menempatkan pemuda itu pada sela kosong di antara kedua kakinya yang terbuka.

Jay memeluk Jungwon dari belakang, merapatkan tubuh mereka tanpa ada jarak sedikitpun. Bibirnya mengecup setiap inci tengkuk pucat yang ada di depannya, sesekali juga menggigitnya gemas. Mengundang lenguhan pelan dari Jungwon yang hanya bisa meremas tangan Jay yang melingkar pada perut datarnya.

Mulanya memang seperti itu. Tapi, detik selanjutya, tangan Jay menyelinap masuk ke dalam piyama Jungwon. Jay mencengkeram pinggang Jungwon dan membalik tubuh pemuda itu agar menghadapnya. Dia meraih bibir ranum menggoda itu, lalu menyesapnya berulangkali sebelum menelusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut istrinya.

Jungwon tidak berupaya untuk menolak perlakuan Jay, dia tidak memegang kendali saat ini. Jungwon terbawa suasana dengan melingkarkan tangannya pada leher kokoh Jay dan membalas permainan lelaki itu dengan membelitkan lidah mereka.

"Aku cinta kamu, Jungwon," ucap Jay disela-sela meninggalkan kecupan pada leher Jungwon.

"Aku tau."

Jay menghentikan perbuatannya dan menatap Jungwon yang sedang terpejam dengan raut wajah merah. Saat merasa Jay telah berhenti, Jungwon kembali membuka matanya dan menatap Jay penuh tanya.

"Bisa kalau kamu bilang cinta Kakak juga?" Ia mengembuskan napas berat. "Tolong, Kakak pengen dengar satu kali aja kalau kamu cinta sama Kakak."

Jay menggenggam tangan Jungwon lembut, menatap Jungwon sendu mengharapkan perkataan yang belum pernah keluar dari bilah bibir Jungwon untuknya. Dia hanya teringin mendengar sekali, sebelum menghadapi sesuatu yang berat esok hari. Ya, meskipun Jay tahu kalau Jungwon belum mencintainya.

"Apa itu penting? Jungwon sekarang ada di sini, di samping Kak Jay."

"Aku mohon sama kamu."

Manik matanya berpendar melihat seluruh inci wajah Jay yang begitu memohon padanya, apakah arti dari pengakuan cinta memang sepenting itu?

Tak ingin membuat Jay kecewa, Jungwon akhirnya kembali melingkarkan tangannya pada punggung Jay dan menyembunyikan wajahnya pada leher lelaki itu, sebelum berkata,

"Jungwon cinta Kak Jay."

Deg!

Mata elang Jay berkaca-kaca saat mendengar suara Jungwon yang begitu pelan di samping telinganya. Jay tidak merasakan kalau Jungwon sedang berpura-pura, ataupun terpaksa mengatakannya. Melainkan perasaan yang begitu tulus dan dalam.

Lengkara ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang