Sebelum baca, vote dan komen dulu yaaa.
•••
Pagi hari yang tenang di kediaman rumah pengantin baru terpantau begitu sepi oleh aktivitas selain dari para asisten rumah tangga yang sibuk melakukan tugas mereka. Si pemilik masih terbaring di peraduan dengan selimut tebal yang menutupi kaki sampai leher.
Sedari malam sampai pagi awan terus menurunkan rintik hujan, itu membuat hawa di Ibukota cenderung dingin tanpa perlu memakai pendingin ruangan. Cuaca yang seperti ini membuat Jay semakin enggan untuk membuka mata dan beranjak dari tempat tidurnya yang nyaman.
Cklek..
Jungwon datang dengan tubuhnya yang hanya terbalut baju rumahan. Maklum, hari ini dia sedang tidak ada kelas, jadi dia bisa bersantai di rumah-- paling-paling sekalian belajar memasak.
"Kak Jay." Jungwon menggoyangkan pundak Jay pelan.
"Emh.. lima menit," racau Jay dengan mata terpejam. Dia memeluk guling dan berganti posisi menjadi membelakangi Jungwon yang terduduk di tepi ranjang.
"Kak.." Jungwon mulai merengek.
"Yaudah, terserah!"
"Ck! Iya-iya, aku bangun.. Kamu jangan ngambek gitu dong." Jay merayu dengan memeluk perut Jungwon dari belakang.
Jungwon menoleh, tepat setelah itu Jay tiba-tiba mengecup bibirnya dan tersenyum seperti orang bodoh. "Mandi sana."
Sudah sebulan ini mereka menikah, Jungwon mulai terbiasa dengan segala tingkah laku Jay. Mulai dari yang romantis, pemarah, sampai kadang-kadang terlalu random dan absurd. Apalagi sifat Jay yang begitu menyebalkan; sangat posesif.
"Aku tunggu di meja makan," Jungwon memegang wajah Jay, lalu beranjak pergi dari kamar mereka.
•••
Hening yang ada di meja makan. Bukan karena merasa canggung atau apapun, tapi keduanya menjaga etika saat sedang makan. Hanya terdengar dentingan sendok dan garpu dari Jay dan Jungwon yang tengah makan berdua.
"Kalo nanti kita punya anak, pasti rumah ini jadi rame banget," ujar Jay tiba-tiba saat selesai menghabiskan sarapannya.
Jungwon terdiam, dia menaruh sendoknya di samping piring dan menatap Jay. "Kakak kenapa, sih? Akhir-akhir ini aneh."
"Umur aku udah 29, Dek. Wajar kalau aku pengen banget punya anak, 'kan?" Jay menatap dalam Jungwon dan menggenggam tangan pemuda itu penuh kelembutan.
"Kita baru nikah sebulan, Kak. Masih banyak waktu untuk mikirin ini semua.." Jungwon menunduk gugup.
"Kamu nggak mau punya anak dari Kakak, ya?" Jay tersenyum kecil, lalu melepas tautan tangan mereka.
"B-bukan... " Jungwon berusaha menahan tangan Jay.
"Maaf, Kakak malah nekan kamu begini." Jay mengambil tangan Jungwon yang ada di pundaknya dan tersenyum lebar.
"Kakak cuma pengen punya keturunan sebelum nanti Kakak pergi. Kamu tau sendiri kalau penyakit Kakak ini udah parah, kakak takut ninggalin kamu sendiri," lanjut Jay menampilkan raut sedih.
"Nanti kita bicarain ini lagi, ya? Sekarang Kak Jay fokus ke kesehatan Kakak dulu, soal anak itu udah Tuhan yang atur buat kita. Kalau memang diizinkan, pasti secepatnya kok."
Jungwon berusaha menghibur Jay yang terlihat murung. Walaupun sebenarnya dalam hati Jungwon menolak untuk mempunyai anak dalam waktu dekat. Mentalnya belum siap, tapi Jungwon tidak ingin mematahkan harapan Jay dengan perkataannya itu.
"Semoga, ya." Jay menanggapi dengan nada berharap.
"Kenapa jadi sentimentil begini? Sekarang mumpung kita lagi santai, gimana kalo jalan-jalan?" Jungwon menawarkan opsi untuk bersenang-senang.
"Nanti sore, mau? Kalau sekarang mau peluk Jungwon dulu banyak-banyak."
"Ahaha, yaudah.. Aku mau cuci piring sebentar. Kakak tunggu aja di ruang keluarga, nanti aku nyusul."
Jungwon menumpuk piring kotor dan membawanya menuju dapur, dia meletakkan piring itu dan mulai mencucinya satu persatu sebelum membuka keran air di wastafel untuk membilas.
Jungwon memuntahkan semua sarapannya, serta mencengkram pinggiran wastafel. Dia menangkup air dengan telapak tangan dan membasuh wajahnya sambil membersihkan area mulutnya yang terasa pahit.
It's like a polaroid love~
Jungwon segera mengelap tangannya dengan handuk dan melirik ponselnya yang ada di sebelah. "Heeseung," gumamnya.
Pemuda itu menengok ke sekeliling dan memastikan kalau tidak ada yang akan menguping pembicaraannya, termasuk pembantu sekalipun. Saat dirasa aman, Jungwon menggeser panggilan ke hijau dan menempelkan ponselnya di telinga.
"Kamu mau apalagi, Sa?"
Tidak ada lagi basa-basi, alasan Heeseung menelponnya pasti untuk sesuatu hal yang sudah bisa dia tebak apa itu. Uang.
"Cuma mau ngingetin. Lo udah nikah sama si penyakitan itu, 'kan? Jangan lupa transfer bagian gue."
"Aku baru kemarin transfer kamu sepuluh juta, sekarang minta lagi?"
"Jangan perhitungan, suami lo orang kaya. Hartanya nggak bakal abis 7 turunan, sekali-kali berbagi." Heeseung mengatakan itu dengan sangat mudah.
"Sa, denger ya. Aku juga nggak mau nikah sama dia, tapi dia udah bayarin semua hutang keluarga aku!" Jungwon menekankan ucapannya sambil matanya waspada melihat sekeliling.
"Itu semua berkat gue, Won. Lo hutang budi sama gue, makanya jangan ngebantah. Cepetan transfer!"
Jungwon memijit dahinya pening, perutnya seperti diaduk dari dalam dan dipaksa untuk memuntahkan kembali semua yang sempat dia makan pagi ini. Sebisa mungkin dia menahan itu dengan menutup mulutnya dengan telapak tangan.
"Oke, nanti aku transfer."
"Good boy!"
"Sa, aku mau tanya." Jungwon bicara sebelum Heeseung mematikan panggilan.
"Hm," sahut Heeseung sekenanya.
"Kak Jay pengen banget punya anak, kalau nanti a-aku hamil gimana?" Jungwon bertanya takut-takut.
Sempat hening sebentar. Heeseung tidak langsung menjawab pertanyaan Jungwon, membiarkan sunyi jadi peneman kegelisahan pemuda itu.
"Ayo buat perjanjian ... Lo nggak boleh hamil selama masih akting jadi istrinya."
Jungwon mencengkram ponselnya erat, dia bersandar pada dinding. "K-Kenapa?"
"Kalo gua bilang nggak, ya, nggak!" gertak Heeseung dari sebrang.
"Kalo sampe lo hamil ... Gue nggak akan segan buat celakain si penyakitan itu, dan bikin lo keguguran. Paham, sayang?"
Secepat kilat Jungwon langsung mematikan panggilan itu dengan sepihak, lalu kembali memuntahkan sarapannya di wastafel. Mual ini sangat mengganggunya, setelah ini dia akan segera meminum obat. Tapi, kenapa tiba-tiba Jungwon menjadi terpikirkan kemungkinan lain?
Dia hamil, misalnya.
"Aku pasti cuma maag aja karena kemarin nggak makan, bukannya hamil ... Kenapa aku jadi paranoid begini?"
_____
Jangan lupa follow akun ini supaya nggak ketinggalan info terbaru <3
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
