Triple up, hehe.
•••
Jay meremas ponselnya, dia kebingungan bagaimana cara mengetahui kemana Jungwon pergi malam-malam begini. Orang suruhannya telah melapor kalau dia kehilangan jejak Jungwon karena istrinya itu dibonceng oleh seseorang dengan kecepatan tinggi. Berbagai pikiran buruk mulai mengganggu akal sehatnya, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Jungwon?
Apalagi ponsel istrinya itu tidak bisa dihubungi sama sekali. Hanya menunjukkan kata berdering, tapi diabaikan begitu saja. Apakah Jungwon sedang marah dengannya? Atau sedang sibuk dengan urusannya sampai tidak mengangkat panggilan dari Jay?
Tidurnya resah, dia berpindah-pindah posisi dari terlentang menjadi miring ke kanan dan kiri. Tapi dia akan terbangun tiap beberapa saat sekali karena terus memikirkan Jungwon, dan akhirnya Jay memilih menyerah. Dia bangkit dari ranjang dan mengambil ponselnya lagi untuk menghubungi Jungwon. Berharap saja semoga kali ini bisa terangkat, tapi sayangnya ... Tidak.
Jay tersenyum miris, dia melirik jam dinding yang menunjukkan pukul empat pagi. Udara diluar sedang dingin-dinginnya, dia menjadi terpikirkan Jungwon. Istrinya itu tidak membawa jaket ataupun hoodie ... Jay sangat khawatir.
Sudah pukul segini, tapi sama sekali belum ada tanda-tanda Jungwon pulang ke rumah. Apa terjadi sesuatu yang buruk sehingga istrinya itu tidak bisa pulang? Ah, memikirkannya semakin membuat Jay frustasi.
Dia duduk di tepian ranjang sambil memegangi ponsel. Sunyi yang menemani kegundahan hati Jay pada Jungwon. Hingga kesunyian itu teralihkan oleh bunyi notifikasi pesan dari seseorang, yaitu ...
Sunghoon
[ send a pict ]
| Istri lo pelukan sama siapa tuh?
Jay membuka matanya lebar-lebar ketika melihat foto yang dikirimkan oleh adiknya tersebut. Gambar itu diambil dari sudut samping, terlihat jelas ada dua orang yang tengah berpelukan di atas ranjang rumah sakit yang sempit.
Dari rambut dan proporsi tubuhnya sih kelihatan seperti Jungwon ... Tapi apa iya istrinya setega itu? Tentu saja Jay tdak langsung percaya, dia memperbesar layar dan melihat lebih rinci lagi foto yang dikirimkan Sunghoon.
Degg..
Ya, itu memang Jungwon. Tapi ...
Siapa yang sedang dipeluk oleh Jungwon?
Lelaki yang sedang dipeluk Jungwon itu sama sekali tidak terlihat wajahnya. Karena Sunghoon mengambil sudut fotonya dari belakang lelaki itu, hanya terlihat punggung tegap yang terbalut baju steril khas pasien rumah sakit.
Ah ... Sekarang Jay mengerti.
Jungwon izin keluar bukan karena ada janji dengan temannya, tetapi karena ingin membesuk lelaki ini yang sedang ada di rumah sakit. Bolehkah Jay merasa iri dengan kedekatan mereka? Pantaskah dia marah karena ini?
Dia yang berhasil mengikat Jungwon dalam sebuah ikatan dan janji suci. Bersumpah di hadapan Tuhan untuk saling menjaga dan melindungi selamanya, tapi kenapa Jungwon lebih peduli pada seseorang dari antah berantah dibanding dengan dirinya yang sangat butuh dukungan untuk sembuh dari penyakit ini?
Kecewa? Jelas.
Marah? Tentu.
Jay menghela nafas berat, lalu merasakan pening yang luar biasa pada kepalanya. Dia berniat ingin menyusul Jungwon dan membawa istrinya itu pulang dengan sedikit hukuman karena sudah berani bermain di belakangnya, tapi mengingat kondisinya sekarang yang tidak mungkin ... Jay menjadi tidak mempunyai harapan.
Sunghoon
| Nggak usah nyusul, gue nggak mau ada baku hantam di rumah sakit.
Tanpa diduga, Sunghoon seolah bisa membaca pikirannya. Jay langsung mengetikkan balasan, lalu berjalan perlahan menuju balkon kamar.
You
| Kamu sendiri ngapain ada di rumah sakit pagi buta begini?
Beberapa saat kemudian, Sunghoon pun membalas.
Sunghoon
| Ngapain ya? Canda, wkwk.
| Gue ketiduran waktu jenguk temen, pas pulang gue ngeliat Jungwon di meja administrasi, yaudah gue ikutin sampe ke ruangan itu. Selang sejam-an dapet deh tontonan gratis dari mereka!
Jay mencengkram pagar pembatas balkon dan menutup wajahnya dengan satu tangan. Bagaimana mungkin ini terjadi padanya? Sebenarnya di sini siapa yang salah? Apakah Jungwon?
Atau mungkin ... Dirinya sendiri? Sebab telah datang secara tiba-tiba dan merusak hubungan orang lain?
Entahlah, yang manapun jawabannya, tetap saja dia merasa tidak adil. Dia sudah memberikan segalanya pada Jungwon, tapi apa balasannya? Apa yang dia dapat atas semua yang telah ia berikan?
Semua penjelasan Sunghoon terasa logis dan mudah dicerna oleh otaknya, tetapi dia selalu menepis dan berusaha untuk tidak mempercayai adiknya. Untuk membuktikannya, Jay menelfon Jungwon sekali lagi. Hanya sekali ini, sebelum dia mulai termakan persepsi buruk tentang istrinya sendiri.
Dan, panggilannya ditolak.
Dia beralih untuk mengetik beberapa kata pada Jungwon, sekedar menanyakan dimana keberadaannya atau sedang apa Jungwon sekarang ini.
You
| Kamu dimana, Dek?
| Kakak telfon kok di reject?
| Maafin Kakak ... Kamu pulang, ya? Kakak khawatir banget.
Jay menunggu cemas, hingga pesannya itu dibaca oleh Jungwon.
Wonie 🐱
| Jungwon nggak bisa pulang sekarang, ada urusan.
Jay menahan nafas ketika membaca balasan dari Jungwon. Apa maksud dari perkataannya itu?
Wonie 🐱
| Maaf.
Satu kata terakhir itu membuat Jay membeku. Minta maaf untuk apa? Untuk luka yang mana?
You
| Dek..
Jay menelfon Jungwon, tapi panggilan itu terus ditolak oleh istrinya. Perlakuannya malah memperkuat bukti tuduhan Sunghoon. Apa Jungwon merasa terganggu jika ditelfon terus menerus? Sedangkan mungkin istrinya itu sedang sibuk mengurus lelaki lain dengan begitu telaten.
Wonie 🐱
| Jangan telfon, berisik.
| Nanti Jungwon pulang.
Berisik ... Jadi, begitu?
Jay tertawa renyah, membiarkan kakinya terasa mati rasa karena hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Angin berhembus berulang kali membelai wajah serta menerbangkan rambutnya, memperlihatkan matanya yang sudah berembun.
"Jungwon nggak salah, dia cuma butuh waktu untuk terima aku sebagai suaminya. Kalau sekarang dia masih sulit, suatu saat pasti Jungwon akan balas perasaanku. Ya, semangat, Jay!"
Merasakan kecewa sendiri, menahan luka seorang diri, lalu menguatkan diri sendiri pula. Tidak sadarkah Jungwon jika dia telah salah menyia-nyiakan seseorang yang benar-benar tulus mencintainya?
Lalu, Jay ... Sampai kapan dia harus menjadi peran protagonis yang selalu dimanfaatkan? Akankah nasibnya bisa berubah? Atau, justru berakhir seperti yang seharusnya—
Oleh kematian.
•••
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfictie"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
