Vote dan komen.
•••
Meski alarm sudah mendengungkan dering dengan kencang, tetapi Jungwon enggan beranjak dari tidurnya. Kesadarannya seperti terombang-ambing antara dunia nyata dan alam mimpi yang tampak candu. Dia mengeratkan pelukan pada tubuh seseorang yang juga balik memeluk pinggangnya.
Jay mengerjapkan matanya dan menggerakkan satu tangannya untuk mematikan jam analog di atas meja. Dia berganti fokus pada Jungwon yang masih terlelap di pelukannya, tanpa sadar dia memperhatikan wajah Jungwon lebih lama daripada yang seharusnya.
Memastikan kalau Jungwon benar-benar tertidur, Jay perlahan mulai turun dari ranjang dengan perlahan. Dia memungut pakaian mereka yang berserakan di lantai dan menaruhnya pada keranjang pakaian kotor. Jay akan membersihkan diri, baru setelah itu akan menyiapkan sarapan untuk Jungwon.
Istrinya itu terlihat sangat pulas, tidak tega rasanya jika harus membangunkan Jungwon sekarang. Wajar saja jika Jungwon masih mengantuk, pasti dia kelelahan karena aktivitas mereka semalaman. Padahal sekarang jarum jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
Hari ini, tanggal 20 April, di hari ulang tahunnya ke-30. Jay merasa amat sangat bahagia karena kehadiran Jungwon sebagai istrinya. Baginya, itu sudah cukup sebagai kado terindah dari Tuhan, setidaknya Jay pernah merasakan kebahagiaan sebelum meninggalkan segalanya.
•••
Jungwon terbangun tak lama sejak Jay pergi ke dapur. Pemuda itu mengerjap bingung sambil memegangi kepalanya yang terasa berdenyut, pening sekali, seperti ada yang menggelayuti sisi kanan dan kiri kepalanya.
Jungwon menumpukan tangannya agar bisa bangkit untuk duduk bersandar. Baru bergerak sedikit saja rasanya sakit sekali, tubuhnya seperti habis mengangkat beban ratusan kilogram.
Dengan perlahan Jungwon mulai menurunkan satu persatu kakinya pada lantai putih yang dingin. Pijakan pertama pun dia sudah merasakan nyeri di area bawahnya, Jungwon meringis dan mencoba untuk menahannya sebentar sampai ke kamar mandi.
Tapi, kenyatannya Jungwon tidak bisa. Dia mencengkeram erat pinggiran meja, dan menunduk saat merasakan sesuatu mengalir dari selangkangannya dan mengering sampai di mata kaki. Wajahnya memerah sempurna, malu dan marah menjadi satu.
Jungwon mengambil beberapa lembar tissu dengan tergesa, lalu mengelapnya agak kesal. Sungguh hina, adakah adab untuk membersihkan pasangan setelah berhubungan ranjang?
Jungwon kembali duduk setelah selesai membersihkan area itu dan membuang tissunya ke tempat sampah yang ada di dalam kamar. Termenung cukup lama memandang lurus pada deretan keramik, entah apa yang sedang dia pikirkan. Bahkan, saat pintu terbuka menampilkan Jay yang masuk sembari membawa nampan bersisi makanan pun tidak Jungwon hiraukan.
"Dek?" panggil Jay lembut.
Jungwon enggan menoleh. Dia menarik selimut sampai menutupi dari area perut sampai ke bawah, perasaannya rancu dan gamang. Takdir seolah menertawakannya dengan menghadirkan perasaan untuk dua orang sekaligus.
"Sayang?"
Jungwon bergeming. Dia menoleh ke arah Jay dengan mata yang dipenuhi oleh air mata, rasanya dia ingin menguapkan seluruh kekesalannya pada Jay.
"Kenapa Kakak harus bersikap begini ke Jungwon, sih?" Jungwon mendelik tajam pada Jay di sampingnya.
"Apa maksud kamu?" Jay menaruh nampan itu di atas meja dan mengambil tangan Jungwon untuk dia genggam.
Jungwon menepis kasar tangan Jay yang ingin menggenggam tangannya. "Berhenti pura-pura perduli sama Jungwon, Kak."
"Siapa yang pura-pura? Kakak beneran peduli sama kamu, Won."
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
