32 : Surat dan Pisau Buah

1.4K 214 17
                                        

Vote dan komen jangan lupa!

•••

Bukan tanpa alasan Heeseung berontak ingin pulang sejak pertama kali membuka mata setelah tak sadarkan diri selama beberapa jam. Dia tidak ada masalah soal bau obat-obatan, atau jarum suntik. Tapi, yang menjadi masalah adalah rumah sakitnya.

Tempat ini mempunyai kenangan kelam baginya, sedari awal saat dirinya dibawa Bami ke rumah sakit pun Heeseung sudah sangat menolak untuk dibawa ke rumah sakit ini. Tapi, sayangnya hanya inilah yang terdekat dari lokasi kejadian. Jika Bami memaksakan diri untuk mencari rumah sakit lain yang lebih jauh, mungkin Heeseung sudah kehilangan banyak darah.

Mau dikata bagaimanapun, dirinya telah dirawat di rumah sakit ini. Tempat yang menjadi saksi bisu perjuangan seseorang antara hidup dan mati, dan bagaimana kerasnya takdir kehidupan.

Jungwon sudah pulang sejak dua jam yang lalu, tidak ada lagi yang akan menceramahinya soal makan dan istirahat. Dia hanya terdiam memandangi langit ruangan sambil termenung.

Tirai di samping ranjangnya terbuka, memperlihatkan ranjang seorang anak kecil dengan luka bakar di tangan kirinya. Ada beberapa orang penjenguk, yang Heeseung tebak sebagai sanak saudara dari anak itu.

"Masih sakit? Mama kupasin apel, ya?"

"Makasih, Ma."

Heeseung memandangi mereka dalam diam, dia melirik tangannya yang terbalut perban bersih. "Andai Ibu masih ada, pasti Hesa nggak bakal kesepian."

"Nak?"

Heeseung mengerjapkan matanya, dia melihat Ibu dari anak tadi yang berdiri di sampingnya. "Ya?"

"Kamu belum dijenguk? Sudah makan belum?" tanya Ibu itu ramah.

Heeseung mengangguk, dia menunjuk mangkuk yang ada si atas nakas kecil di samping ranjangnya. "Udah, Tante."

"Yang jenguk kamu mana?"

"Lagi pulang dulu, dia udah di sini dari semalam."

Si Ibu itu mengangguk dan menyodorkan beberapa potongan apel pada Heeseung. "Kamu harus banyak makan buah, biar cepet sembuh."

Heeseung menerimanya dengan tangan yang kaku. "Makasih."

"Sama-sama, kalau kamu butuh sesuatu panggil aja Tante di sebelah." Ibu itu kembali menyodorkan apel pada Heeseung yang terlihat murung.

"Beneran boleh? Sebenarnya saya pengen minta tolong sama tante." Heeseung menatap ibu itu dengan tampang memohon.

"Boleh, dong. Mau minta tolong apa memangnya? Bilang sama Tante."

Heeseung tersenyum tipis, dia berusaha mendudukkan tubuhnya dengan perlahan. Lalu, dia mulai mengatakan hal yang ingin dia mintai tolong.

"Tante pasti bantuin kamu."

•••

Heeseung mencengkram surat di tangannya setelah selesai membaca isinya yang sangat mengejutkan. Dirinya tidak percaya, ternyata selama ini dia telah salah dengan menyalahkan seseorang yang bahkan tidak tahu menahu apa yang sebenarnya terjadi.

Emosinya tidak stabil, Heeseung mencopot kasar selang infus dan menyibak selimut sampai terjatuh ke lantai. Tidak puas sampai disitu, dia juga menepis segala sesuatu yang ada di dekatnya sampai ranjangnya sendiri sudah tidak berbentuk.

[ flashback on ]

"Nyonya Lalisa yang dirawat di sini sekitar 15 tahun yang lalu, divonis AIDS setelah 3 tahun menjalani pengobatan HIV."

Degg..

Heeseung menggeleng tidak percaya. Kenapa seluruh keluarga menyembunyikan hal sebesar ini darinya? Dia sudah besar, dan seharusnya mengetahui alasan kematian Ibunya.

"Kami juga sempat beberapa kali memeriksa psikologis Nyonya Lisa, dan dia sempat menceritakan beberapa pengalaman pribadinya. Seperti perasaan menyesal, dan permintaan maaf yang begitu besar pada seseorang."

Menyesal untuk apa? Saat itu usianya baru enam tahun, jadi wajar jika dia sama sekali tidak mengetahui jika Ibunya meninggal dengan penyakit mematikan seperti ini.

"Disaat-saat terakhirnya, dia sempat mengatakan sangat ingin bertemu anak lelakinya, dia menunjukkan sebuah foto keluarga—"

"Seperti ini?" Heeseung mengeluarkan sebuah foto yang masih dia simpan dalam dompetnya.

"Betul sekali, ternyata kamu benar anaknya. Dia ingin memberikan foto itu ke kamu, tapi ternyata bukan cuma foto itu saja."

"Maksud anda?" Heeseung bertanya tidak mengerti.

Wanita yang mengenakan jas dokter dan stetoskop yang menggantung di lehernya itu mengacak laci meja dan mengangkat lapisan luar dari apa yang dia sembunyikan lebih dalam.

"Saat membereskan ranjang ibu kamu setelah dia meninggal, saya menemukan ini terselip di bawah bantal. Maaf kalau saya lancang, tapi di dalam sana ada tulisan kalau jangan sampai surat itu jatuh ke tangan keluarganya yang lain, selain kamu."

Heeseung menerima surat itu, perasaannya menjadi campur aduk. "Terimakasih banyak, ini berharga banget buat saya."

[ flashback off ]

"Sa, lo kenapa jing?!"

Bami datang dan langsung menghalangi tangan Heeseung yang sudah mengambil pisau dari keranjang buah. Pemuda itu kalang kabut menghentikan Heeseung yang mirip orang kerasukan, dengan berusaha menyayat nadinya.

"Eling, Sa! Sadar tolol!" teriaknya sambil membelokkan arah ujung pisau agar tidak menghadap Heeseung.

"Sus! Suster! Tolong, Sus!" Bami berteriak memanggil perawat.

Tak lama datanglah beberapa perawat dan seorang dokter yang langsung bergerak cepat ingin menenangkan Heeseung yang masih menggenggam pisau buah.

"Menjauh lo semua!" sentak Heeseung mengacungkan pisaunya pada satu persatu orang yang ada.

Dua orang perawat memegangi tangan Heeseung, sedangkan yang satunya lagi bertugas menyuntikkan cairan bius pada lengan pemuda itu. Efeknya langsung terasa, Heeseung mendadak lemas dan menjatuhkan pisau tadi ke lantai. Dia bahkan tidak kuat menopang berat tubuhnya sendiri.

Bami menjauh dari para tenaga medis dan menelfon Jungwon untuk meminta pemuda itu datang ke rumah sakit. Panggilan itu terhubung, tapi Jungwon bilang tidak bisa menyusul sekarang karena suaminya juga sedang sakit.

Tidak tahukah Jungwon, jika Heeseung benar-benar seperti orang sakit jiwa?!

"Permisi, Tuan?"

Bami menoleh pada sang dokter yang memanggilnya. "Kenapa, Dok?"

"Sepertinya psikologis teman anda sedang tidak stabil, jadi saya harap jangan menambah beban pikirannya lagi, karena itu bisa berpengaruh dengan tingkat depresi yang parah."

"Baik, Dok. Terimakasih."

Bami menatap sendu Heeseung yang kembali memejamkan matanya erat si atas ranjang rumah sakit. Matanya tak sengaja melihat sebuah amplop yang terjatuh di dekat ranjang Heeseung.

"Dari Ibu, untuk Heeseung." Bami membaca tulisan terluar yang ada di sudut kanan amplop itu.

Sebenarnya, ada apa lagi ini? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu Heeseung? Kalau iya, ini tidak bisa dianggap remeh. Mengingat Heeseung sudah memiliki riwayat depresi, bahkan sampai pernah masuk tempat rehabilitasi karena terpuruk dengan meninggalnya sang Ibunda.

Bami mencari kontak lain untuk dia telfon, mengabari Ayah Heeseung adalah pilihan tepat untuk saat ini.

"Halo, Om. Bisa ke rumah sakit ***** sekarang?"

"Memangnya ada apa?"

"Heeseung, Om ... Depresinya kumat lagi. Tadi dia hampir aja mau bunuh diri pake pisau buah."

•••

Apakah ini tanda-tanda alur bahagia untuk pasangan kita yang satunya? Oh, tentu tidak sahabat 💅

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang