Vote dan komen.
•••
Besoknya semua yang dikatakan Jay benar-benar terjadi. Mendadak Jungwon seperti anak sekolah dasar yang diperhatikan pola makannya oleh sang Ayah. Makanan yang ada di atas meja makan termasuk golongan empat sehat lima sempurna.
"Gila." Hanya itu kata yang bisa Jungwon katakan tentang Jay.
Mereka makan dengan khidmat, sesekali terselip percakapan ringan tentang hal apapun yang lewat di kepala mereka. Jay menyelesaikan sarapannya lebih dulu, dia agak tergesa sebenarnya. Dia harus datang ke kantor karena ada meeting yang harus dihadiri.
"Kakak berangkat aja, aku bisa bareng supir kok," ujar Jungwon sambil menghabiskan suapan terakhir sarapannya.
Jay menggeleng. "Masih ada satu jam, cukup untuk antar kamu dulu ke kampus."
Jungwon meminum vitaminnya dan memikul tas ranselnya di pundak sambil mengikuti langkah kaki Jay menuju halaman depan. Dimana sudah ada mobil suaminya itu yang terparkir.
"Kamu mau ganti hape baru?" Jay bertanya saat di tengah perjalanan menuju kampus Jungwon.
"Nggak perlu, hape aku masih bagus," jawab Jungwon sambil memainkan ponselnya.
"Kalau baju?" Jay bertanya lagi
"Minggu lalu Kakak beliin aku banyak baju baru kalau Kakak lupa."
"Siapa tau kamu mau beli lagi, 'kan?"
Jungwon memutar bola matanya malas menanggapi pertanyaan Jay. Suaminya itu sekalinya membelikan sesuatu pasti harganya tidak main-main. Baju-bajunya saja tidak ada yang harganya kurang dari jutaan, padahal dulu uang segitu sangat sulit Jungwon cari.
Semenjak menikah dengan Jay, semua kebutuhannya terjamin. Dia tidak perlu lagi susah payah memeras keringat dengan bekerja pada orang lain demi uang yang tidak seberapa, sekarang setumpuk uang itu yang menghampirinya sendiri.
Tanpa terasa mobil Jay mulai mendekati area kampus, Jungwon membetulkan penampilannya dan menoleh ke arah Jay agar lelaki itu menurunkannya.
"Ingat pesan aku kemarin, jangan makan sembarangan di kantin."
"Iyaa."
"Jangan minum kopi, jangan minum soda, jangan kecapean, jangan ikutan kegiatan yang nggak jelas, jangan—"
"Iyaa, aku paham!" sela Jungwon sedikit kesal.
Jay tersenyum lebar dan mengacak rambut Jungwon gemas. "Sampai ketemu di rumah nanti sore," katanya, lalu menggigit hidung Jungwon.
Jungwon mulai terbiasa dengan perilaku Jay yang manis. Dia menangkup wajah yang lebih tua dan membubuhkan kecupan pada kedua pipi Jay yang tersenyum lebar. Karena malu, Jungwon membuka pintu mobil dan langsung berlari menjauhi mobil yang mengantarnya itu.
Jay memperhatikan punggung Jungwon yang mulai menjauhinya dan menghilang ditelan keramaian. Dia kembali melajukan mobilnya meninggalkan kampus Jungwon menuju kantornya.
•••
Brak!
"Gue mau ngomong sama lo bentar."
Jungwon menatap kedatangan Sunghoon dengan tatapan aneh, dia datang dan menggebrak meja untuk menyeretnya dengan nada ketus yang semakin menjadi.
"Ngomong aja, aku dengerin kok, termasuk kalo kamu mau ngehina aku lagi kayak biasanya," ujar Jungwon sambil memasukkan laptop serta peralatan menulisnya ke dalam tas.
"Jangan sok suci, anjing!" Sunghoon merampas tas Jungwon dan melemparnya ke belakang. Jungwon menebak kalau laptopnya pasti hancur karena ulah adik iparnya.
Jungwon menopang kedua kakinya menjadi satu dan mendongak untuk menatap Sunghoon yang berdiri di hadapannya. Bibirnya tertarik membuat sebuah senyuman remeh. "Apa lagi yang mau kamu debatin sama aku, Hoon?"
Sebenarnya masih ada beberapa anak lain di dalam ruangan itu, tapi mereka memilih diam sambil memandangi perdebatan dua orang itu. Sudah beberapa bulan ini mereka selalu melihat Jungwon dan Sunghoon bertengkar di depan umum.
Sunghoon terlihat mendekatkan wajahnya, dia berbisik di samping telinga Jungwon. "Nggak usah sok pengen punya anak, buat apa lo ikut program hamil?"
Tentu saja ini tidak bisa langsung dicerna oleh pemikiran Sunghoon. Tiba-tiba saja Kakaknya mengirimkan foto saat dia sedang bersama Jungwon di rumah sakit untuk mengikuti program hamil.
"Aku cuma berusaha wujudin impian Kak Jay, dia pengen banget punya anak dari aku. Apa itu salah?"
"Oh, aku lupa ... Semua perbuatan aku selalu salah di mata kamu. Jadi, wajar aja kalau kamu sampe marah begini haha." Jungwon tertawa mengejek.
"Sebenarnya apa sih mau lo?" Sunghoon mengeratkan kepalan tangannya. Ingin sekali dia mendaratkan tinjuan di rahang Jungwon, tapi bisa-bisa semua fasilitasnya dicabut oleh Yoongi.
"Harusnya aku yang tanya begitu. Sebenarnya apa sih mau kamu? Kenapa selalu ikut campur urusan rumah tangga kami?" Jungwon membalikkan keadaan dengan begitu mudah.
"Lo—"
"Kamu nggak bisa jawab, cuma mengulang-ulang omongan yang sama. Jadi, lebih baik kamu pergi sekarang, kamu nggak berguna di sini."
Omongannya menjadi lebih menusuk ketimbang sebelumnya. Mungkin dia banyak belajar dari Yoongi, sehingga menjadi sosok yang sedikit lain dari yang orang kenal.
Sunghoon menendang mejanya dan pergi begitu saja dari ruang kelas Jungwon. Membuat anak lain terheran-heran apa sebenarnya yang sedang diperdebatkan oleh kedua orang itu, mereka sama sekali tidak diberikan kesempatan mendengar.
Jungwon keluar dari ruang kelas, sambil menenteng tasnya. Kelas selanjutnya baru akan dimulai satu jam lagi, mungkin dia akan bermalas-malasan di taman atau tidur, tapi sekarang dia ingin mengisi perut dulu di kantin.
"Jungwon!"
Namanya dipanggil dari kejauhan, Jungwon menoleh dan mendapati Mama mertuanya sedang tersenyum sambil berjalan ke arahnya membawa sebuah kotak bekal.
"Kenapa, Ma?"
Yoongi menyodorkan kotak bekal tadi pada Jungwon. "Buat kamu."
"E-Eh?" Jungwon menerimanya dengan gugup, tumben sekali..
"Makasih, Ma. Lain kali nggak perlu repot-repot bawain Jungwon bekal," ujar Jungwon tidak enak.
"Tadi Mama kebetulan masak banyak, jadinya Mama bawa buat kamu. Oh iya, gimana kemarin?"
Mereka berjalan bersama menuju kantin, lebih tepatnya Yoongi yang menyeret pemuda itu agar segera memakan bekal darinya di kantin.
"Lancar, Ma. Tapi, larangannya banyak banget," adu Jungwon pada Yoongi.
"Kata dokter kamu bisa hamil?" Yoongi menyuruh mahasiswanya segera pergi dari salah satu meja, agar dia bisa duduk berdua dengan Jungwon.
"Bisa.. Makanya kami ikut program itu, supaya lebih cepat dikasih momongan."
Sebagian ucapannya adalah kebohongan. Bagian benarnya hanyalah 'bisa' dan sisanya adalah tipuan.
Yoongi memekik senang, dia memeluk Jungwon singkat. "Mulai besok Mama pasti bawain kamu bekal, supaya pola makan kamu lebih sehat dan program hamilnya sukses!"
Jungwon mengangguk, kemudian mulai menyuapkan satu sendok masakan Yoongi ke dalam mulutnya. Rasanya sangat enak, dia jadi malu karena belum mahir memasak sendiri untuk Jay, padahal sudah lima bulan mereka menikah.
"Semoga aja ya, Ma..."
•••
Kalian suka cerita yang latarnya era bangsawan kuno? Kayanya nanti cerita baru jaywon-ku genrenya historical romance sama kingdom gitu, deh 💀
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fiksi Penggemar"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
