Vote dan komen.
•••
"Tuan Jay mau makan sarapannya?"
Jungwon mengangguk. "Sedikit. Ternyata Kak Jay lagi demam tinggi, badannya panas banget," jawab Jungwon mengambil baskom berisi air hangat dari tangan pembantunya itu.
"Astagfirullah, kok bisa Den?"
"Jungwon juga nggak tau, Bi. Kak Jay nggak bolehin Jungwon panggil dokter, makanya Jungwon yang kompres."
Si Bibi menatap Jungwon sambil tersenyum-senyum. "Aduh, kok kalian sosweet banget sih? Bibi jadi pengen muda lagi, deh."
"Dih, si Bibi nggak inget umur," sahut Jungwon bercanda. Kemudian dia melangkahkan kakinya keluar dari area dapur sambil membawa baskom.
"Den."
Jungwon menoleh. "Kenapa, Bi?"
"Jangan patah semangat, keturunan itu bukan satu-satunya kebahagiaan dalam sebuah pernikahan."
Dia menatap sang Bibi dengan tatapan tanya, apa maksudnya tiba-tiba mengatakan sebuah wejangan padanya? Apalagi hawa saat membicarakan ini sangat terasa lain.
"Semangat, kalian pasti bisa!" Si Bibi mengepalkan tangannya ke udara, membuat Jungwon tertawa karena ulah pembantunya yang sangat menghibur.
Tanpa membuang waktu lagi, Jungwon benar-benar meninggalkan si Bibi menuju kamarnya untuk mengompres Jay yang sedang demam tinggi. Kasihan juga melihat Jay yang pucat seperti itu, Jungwon jadi merasa bersalah. Pasti Jay sakit karena mengkhawatirkan dirinya yang tidak pulang semalaman.
Cklek..
"Eh? Udah tidur?" Jungwon menaruh baskom itu di samping tubuh Jay yang tengah tertidur. Sedangkan dirinya menarik sebuah bangku untuk duduk.
Jungwon mencelupkan handuk ke baskom dan memerasnya. Dia melipat handuk itu dan menaruhnya di kening Jay. Begitu ditempelkan, Jay langsung bergerak resah dalam tidurnya.
"Jungwon.." racau Jay tidak jelas.
"Iyaa, aku di sini. Kenapa, Kak?" Meski Jungwon tahu kalau itu hanyalah racauan, tapi dia tetap menyahut.
"Jangan pergi.." lanjutnya lirih.
Jungwon mengambil handuk di kening Jay dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya. Dia menyelipkan jarinya pada tangan Jay untuk dia genggam dengan lembut tanpa menggangu tidur lelaki itu.
"Apa aku udah keterlaluan sama kamu, Kak? Kamu tulus banget loh ... Aku jadi ngerasa bersalah," gumam Jungwon seraya menatap Jay yang terlelap.
"Jungwon ... Kamu nggak boleh pergi." Jay meracau lagi, kali ini nadanya sangat bergetar seperti sedang menahan tangisan.
"Maaf, Kak." Jungwon melepas genggaman tangannya. "Jungwon nggak bisa janji untuk selalu ada di samping Kakak," tambahnya lagi dengan suara pelan.
"Jungwon masih mencintai orang lain, bukan Kak Jay ... Maafin Jungwon karena udah jadi orang jahat."
Jungwon mengangkat sebentar handuk itu dan mengelus kening Jay dengan ibu jarinya. "Cepet sembuh, Kak." Dibumbui dengan satu kecupan ringan dari Jungwon.
Jungwon membereskan baskom ke atas meja, lalu membetulkan letak selimut di tubuh Jay sebelum keluar. Apa yang dia lakukan hari ini pada Jay murni karena rasa kasihan dan tanggungjawabnya sebagai seorang istri yang mengurus suami.
Tapi, apa benar alasannya cuma itu? Hati manusia itu tidak ada yang tahu, 'kan? Bisa saja diam-diam Jungwon sudah menaruh perasaan pada Jay, walau masih lebih besar cintanya pada Heeseung ...
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfic"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
