39 : Semua Tidak Boleh!

1.6K 215 39
                                        

Ada kata-kata yang sifatnya vulgar, kalau kalian kurang nyaman silahkan skip ke lembar terakhir..

•••

"Sshh sakit.."

Jungwon meringis sakit saat kakinya baru saja turun selangkah menapaki lantai dingin. Tapi, perlahan-lahan dia tetap berjalan menuju kamar mandi dengan bertopang tubuh pada dinding. Badannya terasa remuk, Jay benar-benar menghabisinya tadi malam.

Dia mengguyur tubuhnya dengan air dari shower, kemudian dia meraba-raba lehernya yang tercetak beberapa tanda dari Jay. Lagi-lagi dia harus menutupinya dengan foundation, karena tidak mungkin dia ke dokter dengan leher penuh bercak merah.

Tangannya mengepal kuat, matanya memerah dan tubuhnya gemetar. Jungwon bersandar pada dinding karena tidak mampu menumpu berat badannya sendiri, dia merosot ke lantai lalu mulai menangis deras seiring dengan tetesan air shower.

"Murah banget kamu, Won," gumam Jungwon lirih sambil meremas rambutnya.

Dia menangis cukup lama, entah apa alasannya menangis begitu deras di tengah guyuran shower. Jungwon hanya ingin meluapkan emosinya tanpa harus diketahui siapapun.

Tok.. Tok..

"Jungwon? Kamu di dalam?"

Jungwon terkesiap, dia mendongak dan mengusap matanya sambil menormalkan suaranya yang serak.

"Iya, Jungwon di dalam!"

"Kamu baik-baik aja?"

Sepertinya Jay sangat peka dengan keadaan Jungwon yang kacau, pemuda itu berada di dalam kamar mandi dalam durasi yang tidak sebentar. Tidak ada jawaban dari dalam sana, Jungwon enggan menjawab.

"Kakak mau mandi di kamar sebelah, kalau kamu udah langsung ke lantai bawah, ya?"

"Iya, Kakak duluan aja!"

Jungwon menghela nafas lega saat Jay sudah tidak lagi bertanya, pasti lelaki itu sudah pergi meninggalkan depan kamar mandi. Dia berdiri dan mulai membersihkan diri dengan shampo dan sabun seperti biasanya. Bersikap seolah-olah tidak ada yang terjadi sebelumnya.

"Ikutin aja alurnya, Won." Dia berkata. "Tapi, kalau ternyata Hesa nggak pernah balik lagi buat aku ... Gimana?"

•••

"Ternyata banyak banget pantangannya.." keluh Jungwon sambil membaca secarik kertas yang berisi makanan dan minuman apa yang harus dikonsumsi dan dihindari saat mengikuti program hamil.

Wajahnya bersemu merah ketika mengingat kembali ucapan sang dokter pada mereka berdua saat berada di dalam ruangan tadi.















































"Hal seterusnya adalah meningkatkan frekuensi hubungan intim. Mungkin 2 hari sekali, atau beberapa kali dalam seminggu."

Berbeda dengan Jungwon yang merasa malu, justru Jay mendengarkan dengan seksama setiap penjelasan dari sang dokter untuk rencana mereka.

"Lalu, Dok?"

"Jangan menggunakan pelumas, karena kandungan zat dalam pelumas bisa mengubah keseimbangan pH dan mengurangi pergerakan sperma."

Jungwon meremas tangan Jay, topik jika berbincang dengan dokter spesialis kandungan memang selalu menjurus ke hal yang agak privasi.

"Usahakan saat melakukannya saat sebelum tidur dengan posisi misionaris agar mempermudah sperma berenang menuju rahim."

Jay mengangguk paham, sebenarnya Jungwon juga mendengarkan penjelasan dokter itu penuh minat, walau wajahnya melihat ke arah lain.

"Selain itu pula, harus didukung oleh pola hidup sehat dari pasangan dengan mengonsumsi makanan bernutrisi dan rajin berolahraga."

Dokter itu menuliskan sesuatu dalam sebuah kertas kecil dan memberikannya pada Jay. "Saya sudah menuliskan beberapa vitamin dan susu untuk mendukung program hamil kalian yang harus ditebus di apotek rumah sakit ini."

Jay menerimanya dan sekilas membaca isinya. "Baiklah, terimakasih banyak."

Dokter itu mengangguk. "Satu hal, jangan panik atau bersedih jika hasil tes masih negatif. Sebagian besar pasangan tidak berhasil pada program hamil pertama kali, kalian bisa mengulangnya kembali di waktu berikutnya."


























Pukk!

"Jungwon, kenapa melamun?"

Jay menepuk pundak Jungwon, pemuda itu tersadar dan langsung beranjak dari duduknya. "Udah selesai?" tanya Jungwon pada Jay.

Jay mengangkat satu kantung plastik putih bertuliskan 'APOTEK' dan mengangguk. "Ini baru aja selesai, lumayan banyak sih."

"Sini aku aja yang bawa." Jungwon hendak mengambil alih plastik yang dipegang Jay.

"Nggak usah, aku bisa kok." Jay menolak bantuan dari Jungwon

Mereka berjalan beriringan keluar dari apotek menuju tempat parkir, Jay memberikan sedikit uang di sakunya pada seorang tukang parkir yang membantu mobilnya keluar.

Saat terjebak di lampu merah, Jay tiba-tiba membuka topik perbincangan. "Boleh Kakak liat kertas yang satunya?"

Jungwon menyodorkan kertas di genggaman tangannya yang sudah ia lipat kecil-kecil. "Nih, baca aja."

Jeda satu menit di tengah antrian lampu merah dipergunakan Jay untuk membaca isi dari kertas yang diberikan Jungwon. Matanya mengikuti tiap poin-poin yang tercetak di dalamnya.

"Berarti mulai hari ini kamu nggak boleh lagi makan sembarangan. Jangan kecapean, kalau ada urusan malam-malam di skip aja."

"Tapi—"

"Nanti aku bilang ke Bibi untuk lebih sering masak sayur dan larang kamu minum kopi. Kamu sering banget minum itu kalau lagi bergadang ngerjain tugas, 'kan?" cecar Jay lagi sambil kembali menjalankan mobilnya karena lampu APILL sudah berganti menjadi warna hijau.

"Kurangin makan junkfood dan jangan minum soda," tambah Jay lagi.

Jungwon mencebik sebal. "Terus aku bolehnya minum apa?"

"Susu, Jus buah," jawab Jay ringan. Sama sekali tidak menghiraukan tatapan laser dari Jungwon untuknya.

"Tapi Jusnya juga nggak boleh pakai gula, diganti pakai susu kental manis." Jay benar-benar serius soal program hamil ini.

"Kalau teh manis?"

Jay melirik Jungwon sekilas, tadinya dia ingin menjawab tidak boleh. "Seminggu cuma satu kali."

Jungwon rasanya ingin menangis, mulai sekarang sepertinya Jay akan mengekangnya dalam segala hal, tapi dia pun tidak bisa menolak karena ini juga kemauannya.

"Semuanya aja nggak boleh.." Jungwon hanya bisa bergumam lemas.

Jay bisa mendengar gumaman Jungwon barusan, dia menoleh dan terkekeh kecil. Jungwon terlihat sangat pasrah dan lemas seperti habis tertimpa musibah besar.

"Nggak boleh nolak atau ngeluh, ingat tujuan kita ngelakuin ini semua."

"Iya-iya, aku nggak ngeluh!"

•••

Kayanya adem banget.. nikmatin aja dulu selagi ada 🙊

Lengkara ; Jaywon (✓) Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang