•••
"Kamu mau kemana?"
Pertanyaan Eunha dibiarkan begitu saja tanpa adanya jawaban dari Jungwon. Pemuda itu sibuk mengikat tali sepatunya sebelum beranjak pergi meninggalkan rumah ibunya.
"Bunda tanya, kamu mau kemana?" ulang Eunha sekali lagi.
"Cari jalan keluar," jawab Jungwon singkat. Dia berdiri dan membetulkan posisi tudung jaketnya.
"Bunda nggak izinin kamu keluar, Dek."
"Jungwon! Kamu dengar Bunda?!"
Jungwon sengaja menulikan indra pendengarannya saat Eunha terus bersikeras untuk melarangnya keluar rumah. Bundanya itu begitu protektif terhadap calon cucunya, dengan alasan kalau kondisi Jungwon masih lemah untuk bepergian. Ayolah, dia tertekan jika terus berdiam diri!
"Kalo sampai calon cucu Bunda kenapa-kenapa, Bunda nggak akan maafin kamu!"
"Jungwon nggak perduli!"
"Jungwon Safi Haningrat!" Eunha berteriak pada Jungwon yang sudah membuka pintu gerbang.
Yeah, ini pertama kalinya Jungwon membangkang dari segala perkataan Eunha. Perubahan yang signifikan, dilandasi oleh rasa sakit yang terlalu disembunyikan.
•••
"Ambil amplop ini."
Jungwon meraih amplop putih yang sedikit terlihat usang itu di atas meja dan menatap Taehyung--Ayah dari Heeseung-- yang ia ajak untuk bertemu siang ini.
"Untuk apa?" tanya Jungwon.
Taehyung mengulas senyum tipis pada Jungwon. Sekarang adalah saat yang sesuai bagi Jungwon mengetahui segalanya, tentang siapa yang selama ini telah membuat masa kecilnya menderita. Segagal apapun dirinya mendidik Heeseung, tetapi dia tidak ingin jika anaknya terus-menerus merusak garis takdir orang lain.
"Di dalamnya ada surat, baca sampai selesai. Kamu bilang, pengen tahu semua fakta tentang Heeseung kan?"
Jungwon mengangguk cepat, kemudian detik selanjutnya membuka penutup amplop itu dan mengeluarkan selembar kertas yang terlipat di dalamnya. Kernyitan bingung terlihat pada dahinya, mungkin dia bingung karena harus membaca isi amplop ini sedangkan sang pemberi justru sibuk memandangi wajahnya.
Jungwon melihat inci amplop itu. Tertera tulisan, "Dari Ibu, untuk Heeseung."
"Cepat baca," ujar Taehyung tidak sabaran. Jungwon sangat lamban dalam mengambil keputusan.
Jungwon mengambil nafas panjang dan berusaha fokus untuk membaca tiap deret kalimat yang tertulis di dalamnya. Matanya meneliti satu persatu kata, dan tenggelam begitu saja dalam lautan aksara.
Heeseung, ini kamu nak?
Kalau kamu udah pegang surat ini ... Itu tandanya Ibu nggak bisa lagi peluk kamu tiap malam, Ibu nggak bisa lagi masakin makanan kesukaan kamu. Jadi anak kuat yang bisa terima semuanya dengan lapang dada, ya?
Jungwon menoleh sejenak ke arah Taehyung, tatapannya seperti bertanya apa maksud dari surat ini harus dia baca. Dari cara menulisnya, Jungwon menyimpulkan kalau ini adalah surat yang ditulis oleh Ibu Heeseung sebelum meninggal dunia.
Kamu udah liat foto yang Ibu kasih? Yang tengah gimana? Imut banget, 'kan? Itu namanya Jungwon. Anak dari Paman Wira yang pernah Ibu ceritain, masih ingat?
"Nama lengkapnya Jungkook Wira Haningrat," sela Taehyung.
"Ayah.." gumam Jungwon begitu membaca nama sang Ayah yang tertulis dalam surat tersebut. Kenapa bisa nama ayahnya ada di sini?
Ibu ngerasa bersalah sama dia karena Ayahnya meninggal karena campur tangan Ibu ... Waktu itu Ibu udah tau kalau tujuan Paman Wira ke rumah kita untuk menghentikan hubungan terlarang kami. Karena marah, Ibu suruh orang untuk sabotase mobilnya. Prinsip Ibu waktu itu, kalau memang Ibu nggak bisa milikin dia, maka yang lain juga sama.
"Jadi, selama ini.."
Satu titik air itu jatuh dari sudut matanya, Jungwon segera menghapusnya dan lanjut membaca sebelum terjadi kesalahpahaman. Taehyung menanti camas, takut-takut jika Jungwon mengamuk.
Tolong, ini permintaan terakhir Ibu. Kamu sampaikan permintaan maaf Ibu yang sangat besar untuk keluarga Jungwon. Kalau bisa kamu bahagiakan dia, ya? Setidaknya beban di pundak Ibu nanti terasa lebih ringan jika Jungwon mendapatkan banyak kebahagiaan setelah melalui banyak kesedihan.
Cukup. Jungwon melipat kembali kertas itu tanpa melihat kelanjutan kalimatnya. Dia meremas tangannya sambil menahan emosi.
"Awalnya anak saya deketin kamu karena pengen buat kamu menderita, Jungwon. Dia salah paham. Surat ini baru diberikan saat Heeseung dirawat sehabis kecelakaan waktu itu. Karenanya, dia menghilang. Mentalnya diguncang fakta ini, dan berakhir ke ruang rehabilitasi selama beberapa bulan belakangan."
Taehyung mengambil atensi Jungwon yang menunduk ke lantai. Sadar bila dirinya sedang diajak bicara, Jungwon pun mendongak untuk menatap manik orang di hadapannya.
"Lalu ... Sekarang?" lirih Jungwon.
"Entah, mungkin anak saya cuma terobsesi menebus kesalahannya sama kamu. Dia berencana ajak kamu menikah," jawab Taehyung mengangkat bahu.
"Belum tentu kami bahagia setelah itu semua." Jungwon menunduk sebentar ke arah perutnya.
Taehyung mengangguk, setuju dengan perkataan Jungwon beberapa saat lalu. "Semua keputusan ada di tangan kamu, Jungwon."
"Hubungan kami selalu ada di atas garis luka. Dipertahankan sebenarnya percuma. Hesa depresi juga karena saya, sedangkan dia yang buat saya jadi sumber rasa sakitnya."
"Komitmen ini ..." decih Jungwon. Untuk kali pertama dia menyadari jika hubungannya dengan Heeseung sudah terlalu membawa dampak buruk.
"Dan, nggak akan jadi akhir yang bahagia," lanjut Taehyung.
Benang takdir keduanya memang bersinggungan, tetapi bertolak belakang. Dia harus bisa melepas salah satunya, walau itu berarti dia akan menjadi pemeran antagonis dalam kehidupan seseorang.
"Berjalan di garis takdir kamu sendiri, Jungwon. Satu kebohongan pasti melahirkan banyak kebohongan lain. Jangan lihat ke belakang, mulai tata rumah tangga kamu dengan kejujuran."
Tatapan mata Taehyung sangat serius. Itu membuat Jungwon terpengaruh dan mulai memikirkan nasib rumah tangganya kelak. Bagaimana cara menjadi ibu yang baik bagi calon anaknya, dan bagaimana bisa dia merubah sifatnya sebagai istri yang berbakti pada Jay.
"Om benar. Selama ini saya selalu menyepelekan segala sesuatu tentang suami saya. Padahal dia selalu menerima, dan mencintai saya dengan tulus. Terimakasih atas nasihatnya."
Sebelum beranjak pergi, Jungwon sempatkan untuk meminta satu hal pada Taehyung. Sesuatu yang sangat penting dan menjadi keputusan akhirnya dalam memilih persimpangan nasib.
"Boleh saya minta tolong?"
Taehyung menaruh seluruh perhatiannya pada Jungwon.
"Saya mohon ... Bawa Hesa pergi sejauh mungkin. Jangan jadikan saya alasan tekanan mental yang dia alami." Jungwon berujar yakin. "Saya udah bahagia di kehidupan saya sekarang ... Jadi istri, sekaligus calon Ibu bagi anak ini." Satu tangannya ia arahkan untuk mengusap pelan permukaan perutnya dari luar jaket.
Taehyung jelas terkejut. "Kamu?"
Jungwon membalas dengan tatapan tegas. "Saya nggak mau anak ini jadi korban keegoisan kami bertiga."
•••
Siap-siap chapter depan ada 🔥🔥
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fiksi Penggemar"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
