Kalau yang komen banyak mau double up, soalnya mature :"
•••
Jungwon tersenyum lebar pada Jay yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar. Air menetes dari rambutnya yang basah, Jay mendekat sambil menenteng handuk bersih di tangannya.
Jungwon menggeser posisi duduknya agar Jay bisa duduk di tepian ranjang. "Sini aku yang keringin rambutnya."
Jay memberikan handuknya pada Jungwon, membiarkan istrinya itu menggosok rambutnya dengan handuk secara lembut. Jay memejamkan matanya karena merasa tenang dan nyaman di posisi ini; saat Jungwon memijat pelan kepalanya.
"Kakak keliatan capek banget, jangan terlalu diforsir kerjanya.."
Jay mengambil handuk tadi dan menaruhnya di atas meja, dia menggengam tangan Jungwon yang ada di pundaknya.
"Kakak baik-baik aja, kamu nggak perlu khawatir."
Jungwon sepertinya sudah muak mendengar kata 'baik-baik saja' dari Jay, setiap saat lelaki itu akan berkata hal yang sama jika Jungwon menangkap sesuatu yang janggal dari fisik Jay yang semakin lemas dan pucat.
"Jungwon nggak bisa maksa Kak Jay untuk selalu cerita, tapi ... Kakak harus ingat kalau aku ada di sini, Kakak nggak jalanin semuanya sendiri."
Jay terenyuh, hatinya kian jatuh lebih dalam lagi pada sesosok pemuda yang sekarang sudah resmi sebagai istrinya. Pinggang ramping Jungwon dia tarik lebih dekat sampai menempel pada tubuhnya.
Kalau bisa, Jay ingin menghentikan waktu agar dia selalu bisa memeluk Jungwon dengan puas. Dia takut. Takut jika suatu saat harus melepaskan Jungwon— atau kemungkinan terburuknya adalah dia yang meninggalkan Jungwon sendirian.
Jungwon membalas pelukan Jay dan menyandarkan kepalanya di pundak Jay sambil mengerucutkan bibirnya. "Tadi Mama Yoon bawain aku bekal."
"Oh, ya? Bagus dong kalau gitu, berarti Mama beneran sayang sama kamu," tanggap Jay menciumi leher Jungwon.
Jungwon tidak membalas perkataan Jay, dia berusaha tetap terjaga saat matanya terasa berat karena elusan Jay pada punggungnya.
"Kak, benjolannya makin besar," ucap Jungwon mengelus satu benjolan di area belakang telinga Jay.
Jay menahan tangan Jungwon yang tengah mengelus bagian itu, kemudian melepas pelukan mereka.
"Kamu ngantuk?" Jay bertanya, sekarang baru pukul delapan.
Jungwon menjawab dengan anggukan. "Iya, hawanya enak buat tidur."
"Udah minum susunya?"
"Oh iya, belum!" Jungwon menepuk jidatnya karena lupa.
Jay menggeleng melihat tingkah Jungwon, dia beranjak dari tempat tidur dan memakai sandal rumahnya. "Kamu tunggu sebentar, aku yang bikinin susunya buat kamu."
Jungwon mengangguk. Dia lalu menyandarkan tubuhnya, dan menyelimuti kakinya sendiri sambil menunggu Jay kembali membawakan susu.
Cklek..
Jay datang kembali, dia menyodorkan sebuah gelas berisi susu coklat yang direkomendasikan dokter waktu itu dalam program hamil.
Jungwon menerimanya dengan senang hati, dia meneguk isinya sampai tersisa sebagian. "Kakak mau cobain nggak?" tanyanya pada Jay.
"Kamu aja, habisin." Jay menolak mentah tawaran Jungwon.
"Kenyang.." rengek Jungwon. Dia tidak bisa menghabiskan susu itu karena kekenyangan.
"Habisin." Jay bersedekap dada, tampak tidak perduli dengan rengekan Jungwon.
"Nanti aku muntah.." Matanya sangat memohon.
"Minumnya sedikit-sedikit aja." Jay tetap teguh pada pendiriannya.
Jungwon mempoutkan bibirnya kesal, dia menenggak susu itu dan meminumnya dengan cepat. Padahal dia hanya tidak menyukai rasanya, sangat aneh di lidahnya.
Dia memberikan gelas bekasnya pada Jay dan langsung merebahkan tubuhnya membelakangi lelaki itu. Jay menaruh gelas tadi ke atas meja dan ikut merebahkan diri di samping Jungwon.
Jay memeluk Jungwon dari belakang dan menelusupkan tangannya ke dalam piyama biru langit yang dipakai Jungwon malam ini. Dia mengelus perut Jungwon lembut dan menaruh kepalanya di ceruk leher pemuda itu.
"Besok minum vitaminnya lagi, ya?"
"Nggak enak, mual."
"Itu karena kamu belum terbiasa, nanti juga nggak mual lagi kok."
Jungwon mencubit punggung tangan Jay yang sedang mengelus perutnya. "Ck, Kak Jay kan nggak ngerasain, rasanya nggak enak tau!"
"Tahan dong.. Katanya mau usaha punya momongan? Ini nggak seberapa dibanding kalau nanti mual karena morning sickness, lho.." Suaranya sangat pelan, nyaris seperti hembusan angin di telinga Jungwon.
Jungwon mengedip-ngedipkan matanya yang mengantuk. Dia berbalik dan membalas pelukan Jay, lalu menduselkan wajahnya ke dada suaminya itu. Sangat manja dan manis sekali.
"Laptop aku rusak.." gumam Jungwon pelan. Laptopnya benar-benar rusak karena lemparan Sunghoon tadi siang, lelaki itu sengaja memancing perkara dengannya.
"Besok Kakak beliin yang baru, atau kamu mau bawa laptop Kakak dulu buat kuliah?"
Jungwon menggeleng. "Besok aku nggak mau berangkat ngampus."
Jay menghentikan tangannya yang sedang mengelus rambut Jungwon. "Kenapa, hmm?"
"Capek, pengen bolos sehari."
Jay merasa aneh, biasanya Jungwon yang paling semangat dalam urusan kuliah. Tapi, kenapa sekarang justru merengek ingin membolos kelas?
"Ada masalah?" tebak Jay.
"Ada. Adik kamu cari ribut terus, capek aku dengernya."
"Sunghoon?"
Jungwon mendecak. "Emangnya adik kamu siapa lagi selain dia?"
"Emangnya dia apain kamu?"
"Dia lempar tas aku ke belakang, jadinya laptop aku rusak."
Jika selama ini kalian anggap Jungwon berlagak seperti tidak terjadi apapun karena Sunghoon, maka kalian salah besar. Jungwon pasti mengadu pada Jay, meski nada bicaranya terdengar menyebalkan.
"Sabar aja, ya? Dia emang begitu orangnya."
Jungwon mengangguk dalam dekapan Jay, matanya sudah tidak bisa terbuka. Kadar mengantuknya telah sampai pada level tertinggi.
"Besok aku mau ikut Kakak ke kantor aja, boleh?" Sebelum terjun ke alam mimpi pun masih sempatnya dia bertanya.
"Tentu boleh. Besok pagi kita berangkat ke kantor bareng-bareng, ya?"
Jungwon tidak menjawab lagi, dia benar-benar sudah terlelap dalam alam yang lain. Jay memundurkan sedikit wajahnya dan mengecup kening Jungwon sayang dalam durasi yang lama.
"Mimpi indah, Dek"
•••
MELTING BERJAMAAH 😭
Kayaknya ke depan bakal banyak chapter rate m, jadi be wise ya buat yang di bawah umur jangan dipaksa kalau jijik :)
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
