:)))))
•••
TRINGGGG!
Heeseung mengerjapkan matanya dan meraba-raba meja di sampingnya. Begitu mendapatkan apa yang dia cari, Heeseung segera mematikan dering alarm yang menganggu tidurnya pagi ini.
"Jam enam," gumamnya lalu tatapannya beralih pada seseorang di sampingnya yang masih tertidur pulas dengan mulut yang sedikit terbuka.
"Won," panggilnya sambil mengguncang bahu Jungwon.
"Emhh-- lima menit lagi, Bunda," racau Jungwon yang tidak mengingat kalau dia tertidur di rumah Heeseung.
"Bangun, lo kan ada kelas jam tujuh." Heeseung berbisik di telinga Jungwon, tidak membiarkan pemuda itu memejamkan mata untuk lima menit ke depan.
"Hesa? Kamu ngapain ada di kamar aku-- oh iya, aku lagi nginep di rumah kamu, ya?"
Jungwon mengucek matanya sambil menguap, dia menoleh ke arah Heeseung yang sedang menatapnya juga. "Kenapa? Aku jelek kalo bangun tidur gini?"
Heeseung terkekeh dan justru mendekatkan wajahnya untuk mengecup pipi Jungwon. "Gemesin banget, mau gigit."
Detik selanjutnya dia benar-benar merealisasikan perkataannya barusan dengan menggigit pipi Jungwon sampai meninggalkan bekas merah, tapi siapa perduli? Heeseung sudah terlanjur gemas.
"Jangan gigit-gigit! Kamu belum mandi!" sungut Jungwon kesal.
Jujur dia masih mengantuk, mereka baru tertidur pukul sepuluh malam karena--Hei! Apa yang kalian pikirkan? Jangan berpikiran macam-macam!
Mereka baru tertidur di jam segitu bukan karena melakukan itu sampai tidak tahu waktu, tapi karena setelah mereka selesai pada sore hari, Jungwon harus memaksa Heeseung berkuliah besok dan membantu lelaki itu menyelesaikan tugas-tugasnya.
Ya, meski berakhir dengan nol besar. Heeseung lebih memilih untuk memainkan game online di ponselnya dan membiarkan Jungwon memeluknya bagai guling.
"Kamu kelas jam berapa?" tanya Jungwon membetulkan bajunya yang tersingkap sebatas dada. Dasar, memakaikan bajunya saja tidak bisa.
"Jam sembilan, sih. Tapi gua mau anterin lo dulu, sekalian nongkrong."
Jungwon mengangguk kemudian meringis sebentar. "Sa, boleh tolong gendong sampai kamar mandi?"
"Masih sakit?" Heeseung bergegas turun dari ranjang dan menghampiri sisi ranjang yang lain.
"Sedikit ... Aku malu, jangan liat begitu." Jungwon memalingkan wajahnya ke samping karena Heeseung menatapnya sambil tersenyum--yang menurutnya--aneh.
Heeseung mengganti mimik wajahnya menjadi biasa saja dan membelitkan selimut pada Jungwon sebelum menggendongnya menuju kamar mandi. Tidak sulit, karena tubuh Jungwon begitu mungil dalam gendongannya.
"Sa, aku pake baju apa?" tanya Jungwon saat Heeseung menurunkannya. Dia mengeratkan selimut pada tubuh bagian bawahnya yang tidak memakai apapun.
"Udah, lo mandi aja dulu. Nanti gue cariin baju gue yang muat dipake lo."
Setelah Heeseung mengucapkan hal itu, Jungwon pun menutup pintu kamu mandi dan melepas selimut yang ada di tubuhnya. Dia berjalan menuju wastafel dan melihat pantulan wajahnya di sana.
"Kamu kotor banget, Won.." Jungwon bergumam sendiri di hadapan cermin.
"Manusia kayak kamu itu nggak pantes dapetin cinta tulus Kak Jay," lanjutnya lagi dengan kekehan hambar di akhir kalimat.
"Aku udah bahagia hidup begini, kok. Bareng Bunda, bareng Hesa ... Aku bakal lakuin apapun demi mereka."
Jungwon menyentuh lehernya yang terdapat banyak ruam merah karena ulah Heeseung kemarin sore. "Kamu pasti bisa lewatin ini semua, Won ... Hesa cinta sama kamu kok! Setelah tugas kamu selesai, pasti Hesa bakal usaha buat nikahin kamu."
Nyatanya, Jungwon pun tidak mengerti kenapa dia harus bersedih seperti ini. Di satu sisi dia kecewa dengan keluarganya dan menjadikan Heeseung sebagai pelarian. Tapi, di sisi lain justru orang yang dia jadikan tumpuan bertahan malah memanfaatkannya. Lantas, kemana lagi dia harus menemukan seseorang yang mengertinya?
Jungwon melamun sambil membiarkan pancuran air membasahi dari pangkal kepala sampai telapak kakinya. Bulir-bulir air mata luruh beriringan dengan tetesan air yang mengalir dari shower di atas kepalanya.
Berpura-pura tegar itu sulit dan menghabiskan banyak tenaga. Tidak semua orang bisa menampilkan raut ramah saat hatinya tertoreh begitu dalam oleh perasaan luka yang dilahirkan dari rasa percaya.
•••
"Sa, kamu cinta aku kan?"
Jungwon bertanya tiba-tiba pada Heeseung yang tengah mengeluarkan motor dari garasi. Lelaki itu menoleh ke arah Jungwon dan tertawa renyah.
"Kenapa tiba-tiba lo nanya gitu?"
"Jawab aja."
"Udah cepetan naik, ntar lo telat." Heeseung memberikan Jungwon helm. Dia tidak menjawab pertanyaan Jungwon sebelumnya.
Jungwon naik ke motor Heeseung dan memeluk lelaki itu dari belakang. "Sa, kalo aku hamil gimana?"
Heeseung yang sedang memanaskan motornya menjadi terdiam memikirkan perkataan Jungwon. "Lo aneh banget hari ini, pertanyaan lo terlalu random."
Heeseung membuka gerbang, lalu menguncinya. Dia segera naik ke atas motornya lagi dan melaju kencang membelah jalanan Ibukota yang tak pernah kenal kata mati.
"Aku serius, Sa. Kalo aku hamil gimana? Kamu kemarin keluar di dalam, 'kan?"
Ckittt!
Tubuh Jungwon terhuyung ke depan ketika Heeseung mengerem motornya secara dadakan. Wajahnya terhantuk helm Heeseung lumayan kencang.
"Aduh.." Jungwon memegangi keningnya yang terasa sakit.
"Feeling gue jadi nggak enak.. Kalo lo hamil, tinggal gugurin aja sih, apa susahnya?" Heeseung berkata dengan raut dingin, hingga membuat Jungwon yang mendengarnya mencelos seketika.
"Kamu tega, Sa?" Suaranya bergetar, Jungwon sedang berusaha menahan rasa kecewa.
"Jangan lebay jadi cowok. Lo tanya beginian sekali lagi, gue tabrakin ini motor supaya kita berdua celaka," ancam Heeseung masih dengan raut dingin.
"J-jangan, maaf.. Aku janji nggak akan tanya soal ini lagi, ya?"
Heeseung menormalkan mimik wajahnya, kasihan juga Jungwon sampai harus menunduk takut karena ancamannya barusan. Padahal maksudnya bukan seperti itu, Heeseung hanya bingung jika suatu saat Jungwon benar-benar hamil. Dia belum siap menjadi Ayah dan kepala keluarga.
"Hubungan lo sama si Jayden-Jayden itu gimana kabarnya? Maju?" Heeseung mengalihkan topik pembicaraan sambil menjalankan kembali motornya.
"Nabrak, Sa. Dia terlalu ngegas banget, udah ngungkapin perasaan juga. Terus katanya mau minta restu Bunda buat nikah sama aku ... Menurut kamu gimana?"
"hAAhh SERIUS LO? ANJING ITU ORANG NGEGAS BANGET."
"Kalo dia beneran nikahin aku gimana, Sa? Aku harus jawab apa?"
"Lo masih nanya? Ya jawab mau, lah! Kapan lagi bisa bikin orang kaya jadi babu?!"
Jungwon terdiam. Dalam hatinya padahal dia berharap Heeseung akan marah padanya sambil berkata, 'Jangan diterima, tugas lo cuma porotin hartanya.' Tapi, justru jawaban Heeseung benar-benar lain.
"Lo tau? Ada dua cara jadi kaya harta di dunia ini. Satu, kerja keras sampe lo bisa dapetin itu semua. Dua, buat orang kaya mengais cinta sama lo.."
Dan, opsi kedua sudah didapatkan oleh Jungwon dengan begitu mudah.
•••
Cie yang bulan depan sibuk ujian.
KAMU SEDANG MEMBACA
Lengkara ; Jaywon (✓)
Fanfiction"Maaf. Aku udah lancang jadiin kamu harapan hidup, Won." *** Jungwon Safi Haningrat, seorang mahasiswa gizi menjalin hubungan dengan Heeseung Sanu Atalarik, lelaki yang terkenal memiliki banyak sisi buruk dan musuh di kampus. Mereka berpacaran seper...
