28 : Sebuah Pelukan

1.7K 214 15
                                        

Vote dan komen~

•••

"Aku tetap pergi, permisi."

Jungwon segera bangkit dan meninggalkan ruangan kerja Jay dengan langkah cepat. Dia berjalan menuju pintu utama dan keluar dari rumah hanya bermodal dengan ponsel dan dompet di saku celananya.

"Halo, Bami? Aku udah keluar rumah, kamu posisinya dimana?" Jungwon menempelkan ponselnya di telinga sambil berjalan menjauhi pekarangan rumahnya.

"Gue di depan komplek, lo jalan kesini."

"Oke, tunggu sebentar."

Jungwon mematikan panggilan itu dan berjalan agak tergesa menuju depan komplek dimana biasanya ramai oleh beberapa orang dewasa dari pihak keamanan yang bermain catur atau sekedar mengobrol.

"Mau kemana, Dek, malam-malam begini?" Salam seorang di antara mereka bertanya ramah pada Jungwon.

"Mau keluar sebentar cari makanan," jawab Jungwon menunduk saat melewati mereka semua. Dia menoleh ke kanan dan kiri, matanya mendapati Bami di sudut lain jalan dan menghampiri pemuda itu yang terduduk di atas motor besarnya.

"Maaf lama, ayo cepetan ke rumah sakit. Aku khawatir banget."

Bami mengangguk, dia mengulurkan helm pada Jungwon yang langsung menerimanya dan naik ke atas motor tanpa harus di suruh lebih dulu. "Ngebut ya, Bam."

Brumm~

Bami benar-benar menuruti permintaan Jungwon dengan menggeber motornya lewat dari batas kecepatan maksimum. Dia melirik spion, terlihat jika Jungwon sangat khawatir dengan kondisi temannya yang sekarang dirawat di rumah sakit.

"Kenapa bisa Hesa kecelakaan?" Jungwon bertanya dengan nada kencang.

"BIASALAH ULAH SI HARIS." Bami membalas dengan berteriak.

"COWOK ITU LAGI? KEBANGETAN!" Jungwon terlihat kesal, dia menepuk pundak Bami agar lebih cepat.

"Sebenernya bisa aja gue lebih cepet dari ini, Won. Tapi, bisa-bisa gue dibunuh Hesa kalau tau pacarnya diajak ngebut!" Bami berusaha menjelaskan kenapa dia tidak berani menuruti ucapan Jungwon barusan.

"Ngebut ajaaa, Hesa nggak bakal tau kalo kamu ajak aku ngebut!" Jungwon meyakinkan Bami yang ragu.

"Oke, tapi kalo celaka jangan salahin gue."

"Siap!"

Demikian angka terus menunjukkan kenaikan, angin menampar wajah Jungwon yang tidak tertutup kaca helm. Sementara dia mengabaikan ponselnya terus berdering menunjukkan panggilan masuk dari suaminya sendiri.

Bukan tanpa alasan dia menyuruh Bami untuk menambah kecepatan, tapi dia menyadari kalau ada sebuah mobil hitam yang mengikutinya sedari tadi. Sudah tdak diragukan lagi, pasti ini adalah ulah Jay.

Berurusan dengan orang kalangan atas itu sangat merepotkan!

•••

"Ini apa-apaan sih? Gue mau pulang!"

"Sa, kamu diam. Nanti selang infusnya copot, repot."

Jungwon menahan pergerakan Heeseung yang ingin turun dari ranjang rumah sakit yang dingin. Baru saja lelaki itu sadar dari tidur panjangnya, tapi dia langsung ingin pulang ke rumah.

"Lo ngapain di sini?" Heeseung menatap Jungwon.

"A-aku khawatir sama kamu, makanya aku kesini buat liat kondisi kamu."

Heeseung menepis tangan Jungwon yang menahan pergerakannya. "Gue nggak butuh di khawatirin, jam berapa sekarang?" tanyanya ketus.

"Jam empat pagi. Kamu istirahat lagi ya, Sa. Kondisi kamu belum sembuh total."

Lengkara ; Jaywon (✓) Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang